<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"><channel><atom:link href="https://www.zonaterbang.id/rss" rel="self" type="application/rss+xml" /><title>Zona Terbang</title><link>https://www.zonaterbang.id</link><description>Berita terbaru dari Zona Terbang</description><image>
			<title>Zona Terbang</title>
             <link>https://www.zonaterbang.id</link>
			<url>http://www.zonaterbang.id/assets/main/img/logo-center.png</url>
		</image>
<item><title>Dua Airbus A320 Milik easyJet Lepas Landas dari Titik Runway yang Salah</title><category>AviaNews</category><link>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/17/4712/Dua-Airbus-A320-Milik-easyJet-Lepas-Landas-dari-Titik-Runway-yang-Salah</link><guid>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/17/4712/Dua-Airbus-A320-Milik-easyJet-Lepas-Landas-dari-Titik-Runway-yang-Salah</guid><pubDate>Wed, 17 Jun 2026 14:17:17 +0700</pubDate><description><![CDATA[<p><strong>ZT.</strong> Maskapai penerbangan bertarif rendah (LCC) easyJet tengah menjadi sorotan setelah dua pesawat Airbus A320 miliknya terlibat dalam insiden serius yang hampir serupa hanya dalam kurun waktu beberapa minggu. Laporan terbaru dari Badan Investigasi Kecelakaan Udara Inggris (AAIB) mengungkapkan bahwa kedua pesawat tersebut lepas landas dari posisi landasan pacu yang salah, tidak sesuai dengan data perhitungan performa yang telah disiapkan oleh kru pesawat sebelum terbang.</p>

<p>Insiden pertama menimpa penerbangan easyJet EZY2335 yang dijadwalkan terbang dari Bandara London Luton (LTN) menuju Bandara Mlaga (AGP) di Spanyol pada 13 Juni 2025. Pesawat Airbus A320-214 dengan nomor registrasi G-EZUK tersebut mengangkut 180 penumpang dan enam kru kabin. Investigasi menunjukkan adanya ketidaksesuaian fatal antara posisi aktual pesawat saat memulai akselerasi dengan data kalkulasi beban yang dimasukkan ke dalam sistem komputer pesawat.</p>

<p>Sebelum keberangkatan, kru pesawat awalnya berencana menggunakan posisi persimpangan (Intersection Alpha) di Runway 25 untuk lepas landas. Namun, setelah menghitung ulang performa menggunakan Electronic Flight Bag (EFB), pilot menyadari bahwa bobot pesawat yang mencapai 68.887 kg membutuhkan seluruh panjang landasan (full-length departure) agar memiliki ruang aman yang cukup. Rencana penerbangan pun akhirnya diubah demi keselamatan.</p>

<p>Meski revisi perhitungan telah dilakukan, sebuah kekeliruan fatal terjadi di darat. Alih-alih menuju ujung paling awal landasan pacu, pesawat justru tetap mengarah ke posisi persimpangan pendek dan memulai proses lepas landas dari titik tersebut. Akibatnya, jarak landasan yang tersedia untuk berakselerasi menjadi jauh lebih pendek dari yang seharusnya dibutuhkan oleh pesawat dengan bobot seberat itu.</p>

<p>Beruntung, pesawat berhasil mengangkasa dengan selamat dan melewati ujung landasan pacu pada ketinggian sekitar 19 meter di atas permukaan tanah sebelum melanjutkan penerbangan normal ke Malaga. Hal yang mengejutkan adalah kru pesawat sama sekali tidak menyadari kesalahan posisi tersebut sepanjang proses lepas landas. Kekeliruan ini baru terdeteksi di hari yang sama oleh sistem Pemantauan Data Penerbangan (Flight Data Monitoring/FDM) internal milik maskapai.</p>

<p>Tak lama setelah peristiwa di London Luton, insiden dengan pola yang hampir identik kembali terjadi di Bandara Manchester (MAN) pada 6 Juli 2025. Kali ini, sebuah Airbus A320 milik easyJet yang hendak terbang menuju Bandara Internasional Kos di Yunani juga lepas landas dari titik landasan yang berbeda dari asumsi perhitungan performa kru. Dua kejadian beruntun ini langsung memicu alarm bahaya terkait aspek keselamatan operasional maskapai.</p>

<p>Berdasarkan hasil investigasi mendalam AAIB terhadap insiden di Luton, diketahui bahwa pesawat sebenarnya dipersiapkan sedikit lebih awal dari jadwal. Tim penyidik tidak menemukan adanya tekanan waktu eksternal atau gangguan lingkungan yang dapat membuat kru merasa terburu-buru atau melewatkan prosedur standar penyiapan dokumen penerbangan.</p>

<p>Namun, AAIB menyoroti adanya faktor perilaku kebiasaan (habitual behavior) dan bias konfirmasi pada kru. Saat pesawat melakukan proses pushback, petugas menara pengawas lalu lintas udara (ATC) sempat bertanya apakah pesawat bisa lepas landas melalui jalur persimpangan. Kru langsung mengiyakan tawaran tersebut karena terbiasa menggunakan titik itu pada penerbangan-penerbangan sebelumnya, tanpa mengingat kembali bahwa kalkulasi performa hari itu mewajibkan mereka menggunakan landasan penuh.</p>

<p>Kelalaian ini terus berlanjut karena tidak adanya verifikasi silang yang kuat di dalam kokpit. Bahkan ketika ada pesawat lain di frekuensi radio yang sama menyatakan membutuhkan landasan penuh karena alasan bobot, kru easyJet tetap tidak menyadari kekeliruan mereka. Langkah pemeriksaan akhir yang mereka lakukan hanya mengandalkan ingatan, tanpa mencocokkan secara fisik antara data performa di komputer dengan posisi aktual pesawat di landasan pacu.</p>

<p>Menanggapi rentetan insiden serius ini, manajemen easyJet langsung melakukan evaluasi total terhadap prosedur operasional mereka. Maskapai kini telah merevisi prosedur kalkulasi performa lepas landas dengan memperketat proses verifikasi mandiri guna mengurangi ketergantungan pada memori pilot. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat sistem keselamatan penerbangan dan mencegah terulangnya kesalahan navigasi kritis di masa depan. []</p>
]]></description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://www.zonaterbang.id/assets/images/news/2026/06/20260617021842_thumb.jpg" /></item>
<item><title>Kontroversi Graham Hancock </title><category>Jaya Suprana</category><link>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/17/4711/Kontroversi-Graham-Hancock-</link><guid>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/17/4711/Kontroversi-Graham-Hancock-</guid><pubDate>Wed, 17 Jun 2026 14:10:40 +0700</pubDate><description><![CDATA[<p style="text-align: center;"><span style="color:#A9A9A9"><span style="font-size:28px">Hancock menggunakan situs ini sebagai senjata utama untuk mengeklaim bahwa wilayah Sundaland (Nusantara purba) adalah pusat dari peradaban maju Zaman Es yang hilang tersebut.</span></span></p>

<blockquote>
<p>Oleh: <strong>Jaya Suprana</strong>, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan</p>
</blockquote>

<p><br />
GRAHAM Hancock, seorang jurnalis dan penulis asal Inggris, telah menjadi figur paling memikat sekaligus memicu polarisasi semesta arkeologi.</p>

<p>Melalui buku-buku terlarisnya seperti Fingerprints of the Gods hingga serial dokumenter Netflix Ancient Apocalypse, Hancock berhasil membius jutaan orang. Namun, di balik popularitasnya yang masif, ia menjadi musuh nomor satu bagi komunitas arkeologi arus utama.</p>

<p>Kontroversi Hancock berakar pada hipotesis tunggal yang radikal: adanya sebuah peradaban global yang sangat maju pada masa Zaman Es (sekitar 12.800 tahun lalu). Menurutnya, peradaban ini hancur seketika akibat bencana banjir besar yang dipicu oleh hantaman komet. Hancock mengeklaim bahwa para penyintas dari peradaban maju ini kemudian berkeliling dunia.</p>

<p>Mereka membagikan pengetahuan astronomi, arsitektur, dan pertanian kepada pemburu-pengumpul lokal. Bagi Hancock, kemiripan arsitektur megah kategori belive-it-or-not di berbagai belahan dunia adalah bukti nyata dari warisan peradaban yang hilang tersebut.</p>

<p>Bukti paling krusial dalam teori Hancock adalah Situs Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat, Indonesia. Hancock mendedikasikan episode pertama serial Netflix-nya khusus untuk membahas situs ini.</p>

<p>Opini Hancock tentang Gunung Padang sangat radikal. Berdasarkan riset geolog Indonesia, Dr. Danny Hilman Natawidjaja, Hancock meyakini bahwa Gunung Padang bukan bukit alami, melainkan piramida buatan manusia tertua di dunia yang dibangun berlapis-lapis hingga berusia 25.000 tahun. Hancock menggunakan situs ini sebagai senjata utama untuk mengeklaim bahwa wilayah Sundaland (Nusantara purba) adalah pusat dari peradaban maju Zaman Es yang hilang tersebut.</p>

<p>Komunitas sains dan arkeologi main-stream menolak mentah-mentah teori Hancock, menyematkan label pseudoarkeologi (arkeologi semu). Alasan utamanya adalah ketiadaan bukti empiris. Arkeolog menegaskan bahwa Gunung Padang adalah situs punden berundak dari era megalitikum (sekitar 2.000 SM), sementara struktur di bawahnya merupakan formasi batuan lava alami, bukan buatan manusia.</p>

<p>Skandal meledak ketika jurnal ilmiah Archaeological Prospection resmi menarik kembali (retraksi) makalah Danny Hilman yang didukung Hancock karena anggapan ditemukan kesalahan fatal dalam penafsiran penanggalan karbon. Para akademisi menuduh Hancock melakukan cherry-pickinghanya mengambil data yang mendukung narasinya.</p>

<p>Jika arkeolog belum bisa menjelaskan sepenuhnya misteri suatu situs, Hancock langsung menyimpulkan bahwa teknologi canggih masa lalu adalah jawabannya. Hancock sering memosisikan diri sebagai jurnalis independen yang tertindas oleh dogma akademis.</p>

<p>Narasi ini sangat disukai publik yang skeptis terhadap institusi formal. Sebaliknya, para arkeolog merasa frustrasi karena menilai tayangan Hancock mendegradasi profesi mereka dan menyesatkan publik.</p>

<p>Graham Hancock adalah pendongeng hebat yang berhasil memicu rasa ingin tahu global terhadap masa lalu bumi. Namun, tanpa adanya bukti ilmiah yang valid, opini Hancock tentang Gunung Padang maupun peradaban kuno lainnya tetap berada di ranah fantasi sejarah, bukan ilmu pengetahuan.</p>

<p>Pada hakikatnya, dapat dikatakan bahwa pendahulu Graham Hancock dalam bidang arkeologi mahluk luar angkasa adalah Eric von Daeniken yang tersohor dengan buku hipotesis angkasawan purba kaliber best-seller berjudul kontroversial Chariot of the Gods yang juga sukses membelah opini publik.</p>

<p>Secara subyektif, saya berpendapat bahwa ada yang lebih penting ketimbang melibatkan diri ke dalam Kontroversi Graham Hancock. Sebagai warga Indonesia, saya mengharap para arkeolog segera menghentikan kemelut polemik usia situs Gunung Padang untuk bersatupadu menominasikan situs Gunung Padang ke UNESCO demi setara Borobudur resmi diakui sebagai warisan kebudayaan dunia. MERDEKA!</p>

<p></p>
]]></description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://www.zonaterbang.id/assets/images/news/2026/06/20260617021319_thumb.jpg" /></item>
<item><title>Ketika Mahasiswa Mengadili Mahasiswa</title><category>Nasional</category><link>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/17/4709/Ketika-Mahasiswa-Mengadili-Mahasiswa</link><guid>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/17/4709/Ketika-Mahasiswa-Mengadili-Mahasiswa</guid><pubDate>Wed, 17 Jun 2026 09:34:45 +0700</pubDate><description><![CDATA[<p style="text-align: center;"><span style="color:#A9A9A9"><span style="font-size:28px">Fenomena ini sesungguhnya bukan sesuatu yang haram dalam demokrasi. Perbedaan pendapat adalah bagian dari tradisi intelektual kampus.</span></span></p>

<blockquote>
<p>Oleh: <strong>Safriady</strong>, Pemerhati Isu Strategis  Doktor Ilmu Komunikasi Unpad</p>
</blockquote>

<p>DI tengah meningkatnya ketidakpuasan publik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah, mahasiswa kembali mengambil posisi sebagai salah satu kekuatan sosial yang aktif menyuarakan kritik. Demonstrasi di berbagai daerah bermunculan, membawa beragam isu mulai dari ekonomi, pendidikan, kesejahteraan rakyat, hingga tata kelola pemerintahan.</p>

<p>Namun di balik geliat tersebut, muncul fenomena yang patut menjadi bahan refleksi bersama, dimana mahasiswa tidak lagi hanya berhadapan dengan kekuasaan, tetapi juga mulai berhadapan dengan sesama mahasiswa.</p>

<p>Saat ini publik mengenal sejumlah organisasi mahasiswa yang memiliki pengaruh nasional, seperti BEM Seluruh Indonesia, BEM Universitas Indonesia, BEM KM Universitas Gadjah Mada, dan BEM Nusantara. Dalam perkembangan terakhir, publik juga menyaksikan kemunculan kelompok-kelompok mahasiswa lain yang mengambil posisi berbeda terhadap aksi demonstrasi yang digelar sebagian elemen mahasiswa. Salah satunya adalah kelompok yang mengatasnamakan BEM Bersatu, yang tampil dengan pandangan berbeda dan secara terbuka mengkritik bahkan menentang aksi yang dilakukan kelompok mahasiswa lainnya.</p>

<p>Fenomena ini sesungguhnya bukan sesuatu yang haram dalam demokrasi. Perbedaan pendapat adalah bagian dari tradisi intelektual kampus. Tidak semua mahasiswa harus turun ke jalan. Tidak semua organisasi harus mengeluarkan sikap politik yang sama. Tidak semua kritik terhadap pemerintah harus diwujudkan dalam demonstrasi. Ada yang memilih dialog, kajian akademik, advokasi kebijakan, hingga diplomasi kampus. Semua memiliki ruang legitimasi masing-masing.</p>

<p>Masalah muncul ketika perbedaan strategi berubah menjadi konflik terbuka yang mempertontonkan saling serang antarkelompok mahasiswa. Ketika satu kelompok menggelar aksi, kelompok lain merasa perlu tampil ke publik untuk menyatakan bahwa aksi tersebut tidak mewakili mahasiswa Indonesia. Ketika satu organisasi menyampaikan kritik kepada pemerintah, organisasi lain justru sibuk mengkritik pengkritiknya. Akibatnya, ruang publik dipenuhi oleh pertarungan sesama mahasiswa yang sesungguhnya tidak menghasilkan solusi apa pun bagi masyarakat.</p>

<p>Ironisnya, energi yang seharusnya digunakan untuk mengawal isu publik justru habis untuk mempertahankan gengsi organisasi.</p>

<p>Sejarah gerakan mahasiswa Indonesia, keberhasilan mahasiswa tidak pernah ditentukan oleh keseragaman organisasi. Tahun 1966, 1974, 1978, hingga 1998 memperlihatkan bahwa mahasiswa datang dari berbagai latar belakang organisasi, kampus, ideologi, dan kelompok diskusi. Mereka tidak selalu sepakat dalam metode perjuangan. Namun mereka memiliki satu kesadaran yang sama, yakni menjaga marwah gerakan sebagai kekuatan moral bangsa.</p>

<p>Hari ini yang terlihat justru kecenderungan berbeda. Gerakan mahasiswa mulai memasuki era kompetisi legitimasi. Setiap kelompok berusaha membuktikan bahwa merekalah yang paling mewakili suara mahasiswa. Masing-masing ingin tampil sebagai representasi paling autentik dari kepentingan rakyat. Di era media sosial, pertarungan itu semakin terbuka karena setiap pernyataan dapat dengan mudah disebarkan, diperdebatkan, bahkan dipelintir menjadi komoditas politik.</p>

<p>Padahal dalam etika gerakan sosial, tidak ada kewajiban bagi kelompok yang berbeda pandangan untuk saling menjatuhkan. Jika tidak sepakat dengan metode demonstrasi, cukup menyampaikan pandangan alternatif secara argumentatif. Jika memilih jalur dialog, tidak perlu mendeligitimasi mereka yang turun ke jalan. Sebaliknya, kelompok demonstran juga tidak perlu menganggap semua pihak yang tidak ikut aksi sebagai lawan perjuangan.</p>

<p>Ada batas moral yang perlu dijaga bersama. Sebab ketika mahasiswa mulai sibuk membongkar kelemahan mahasiswa lain, yang rusak bukan hanya hubungan antarorganisasi, melainkan juga kepercayaan publik terhadap gerakan mahasiswa itu sendiri.</p>

<p>Masyarakat akan melihat bahwa para aktivis lebih sibuk bertengkar mengenai siapa yang paling benar daripada membahas substansi persoalan yang sedang dihadapi rakyat.</p>

<p>Lebih jauh lagi, saling membuka aib sesama mahasiswa juga bukan langkah yang bijak. Sebab jika standar moral absolut mulai digunakan untuk menghakimi organisasi lain, hampir tidak ada organisasi mahasiswa yang dapat mengklaim dirinya sepenuhnya bersih dari pengaruh kepentingan.</p>

<p>Ini bukan tuduhan kepada organisasi tertentu, melainkan realitas yang telah lama menjadi bagian dari dinamika politik kampus. Dalam berbagai bentuk dan kadar yang berbeda, organisasi mahasiswa sering berinteraksi dengan banyak pihak di luar kampus, mulai dari alumni, lembaga pemerintah, partai politik, perusahaan, sponsor kegiatan, hingga kelompok kepentingan lainnya. Interaksi tersebut kadang menghasilkan dukungan fasilitas, jaringan, akses, maupun sumber daya yang dibutuhkan untuk menjalankan program organisasi.</p>

<p>Karena itu, menjadi kurang etis apabila satu organisasi menempatkan dirinya sebagai pemegang sertifikat kemurnian moral, sementara organisasi lain dicap sebagai kelompok yang tidak idealis. Dalam politik kampus maupun politik nasional, kemurnian absolut sering kali lebih banyak menjadi slogan daripada kenyataan.</p>

<p>Yang lebih penting adalah menjaga transparansi, akuntabilitas, dan integritas dalam setiap tindakan organisasi.</p>

<p>Pada titik inilah kedewasaan gerakan mahasiswa diuji. Apakah mahasiswa akan terus terjebak dalam persaingan antarkelompok yang melelahkan, atau mampu menempatkan perbedaan sebagai kekuatan demokrasi? Apakah energi mahasiswa akan habis untuk saling menyalahkan, atau diarahkan untuk mengawal kepentingan masyarakat yang sedang menghadapi berbagai tekanan ekonomi dan sosial?</p>

<p>Sejarah mungkin menunjukkan bahwa kekuatan mahasiswa selalu lahir dari keberagaman yang mampu dikelola, bukan dari keseragaman yang dipaksakan. Tidak harus berada dalam satu panggung aksi. Tidak harus membawa spanduk yang sama. Tidak harus mengeluarkan pernyataan yang identik. Namun setidaknya ada satu prinsip yang perlu dijaga.</p>

<p>Yaitu jangan menjadikan sesama mahasiswa sebagai musuh utama.</p>

<p>Sebab ketika mahasiswa mulai mengadili mahasiswa, ketika organisasi mahasiswa sibuk membuktikan siapa yang paling benar, maka fokus perjuangan perlahan bergeser dari kepentingan rakyat menuju kepentingan organisasi. Dan ketika itu terjadi, pihak yang paling diuntungkan bukanlah mahasiswa, bukan pula masyarakat, melainkan mereka yang sejak awal lebih nyaman melihat gerakan mahasiswa terpecah daripada bersatu dalam perbedaan. []</p>
]]></description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://www.zonaterbang.id/assets/images/news/2026/06/20260617093605_thumb.jpg" /></item>
<item><title>Fadli Rumakefing: Gibran Mendengar dan Merangkul Mahasiswa-Pemuda</title><category>Nasional</category><link>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/17/4708/Fadli-Rumakefing:-Gibran-Mendengar-dan-Merangkul-Mahasiswa-Pemuda</link><guid>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/17/4708/Fadli-Rumakefing:-Gibran-Mendengar-dan-Merangkul-Mahasiswa-Pemuda</guid><pubDate>Wed, 17 Jun 2026 09:10:28 +0700</pubDate><description><![CDATA[<p><strong>ZT.</strong> Peran mahasiswa sebagai agen perubahan dan kontrol sosial dalam sistem demokrasi kembali terlihat dalam berbagai aksi penyampaian aspirasi kepada pemerintah dalam beberapa waktu terakhir. Kritik yang disampaikan mahasiswa terhadap sejumlah kebijakan pemerintah menjadi bagian dari dinamika demokrasi yang sehat dan konstruktif.</p>

<p>Menariknya, kritik tersebut mendapat respons langsung dari Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka yang memilih membuka ruang dialog dan menerima aspirasi mahasiswa secara langsung di Istana Wakil Presiden.</p>

<p>Ketua Umum DPN Solidaritas Pemuda Desa, Fadli Rumakefing, menilai langkah tersebut mencerminkan model kepemimpinan muda yang mengedepankan keterbukaan dan kemauan untuk mendengar suara masyarakat.</p>

<p>Penerimaan mahasiswa oleh Mas Wapres Gibran bukan sekadar agenda seremonial, tetapi merupakan bagian penting dari mekanisme demokrasi yang memungkinkan terjadinya pertukaran gagasan, kritik, dan masukan antara pemerintah dan masyarakat, kata Fadli kepada awak media, Rabu, 17 Juni 2026.</p>

<p>Menurut Fadli, sikap Gibran yang membuka ruang dialog dengan mahasiswa menunjukkan praktik kepemimpinan muda yang menempatkan kemampuan mendengar aspirasi publik sebagai salah satu unsur penting dalam tata kelola pemerintahan modern.</p>

<p>Sikap Mas Wapres Gibran yang membuka ruang langsung dialog dengan mahasiswa menunjukkan praktik kepemimpinan mendengar. Pemimpin tidak hanya menyampaikan program kepada masyarakat, tetapi juga bersedia mendengar langsung aspirasi, kritik, dan keluhan yang berkembang di tengah masyarakat, ujarnya.</p>

<p>Ia menilai pola kepemimpinan seperti itu semakin relevan di tengah perkembangan era digital yang menuntut keterbukaan dan komunikasi yang lebih intensif antara pemerintah dan masyarakat.</p>

<p>Menurutnya, generasi muda saat ini cenderung menginginkan pemimpin yang hadir, mudah dijangkau, mampu berinteraksi secara langsung, serta memberikan respons terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.</p>

<p>Fadli juga menegaskan bahwa penerimaan kritik mahasiswa oleh Gibran dapat dimaknai sebagai bentuk penghormatan terhadap hak warga negara untuk menyampaikan pendapat dan melakukan pengawasan terhadap jalannya pemerintahan.</p>

<p>Dalam demokrasi, kritik tidak boleh dipandang sebagai ancaman. Kritik justru merupakan bagian penting dari proses evaluasi dan perbaikan kebijakan publik. Karena itu, langkah Mas Wapres menerima mahasiswa menunjukkan bahwa pemerintah membuka ruang partisipasi bagi masyarakat, katanya lagi.</p>

<p>Ia menilai pertemuan antara Gibran dan mahasiswa memperlihatkan pendekatan yang lebih inklusif dalam membangun hubungan antara pemerintah dan masyarakat sipil.</p>

<p>Hubungan antara negara dan masyarakat tidak harus dibangun melalui konfrontasi. Dialog yang terbuka dan setara justru menjadi fondasi penting untuk memperkuat kepercayaan publik sekaligus menjaga kualitas demokrasi, demikian Fadli. []</p>
]]></description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://www.zonaterbang.id/assets/images/news/2026/06/20260617091128_thumb.jpg" /></item>
<item><title>Pasar Keuangan Global dan Nasional Bergerak Positif</title><category>Ekbis</category><link>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/17/4707/Pasar-Keuangan-Global-dan-Nasional-Bergerak-Positif</link><guid>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/17/4707/Pasar-Keuangan-Global-dan-Nasional-Bergerak-Positif</guid><pubDate>Wed, 17 Jun 2026 09:02:43 +0700</pubDate><description><![CDATA[<p><strong>ZT. </strong>Pasar keuangan global menunjukkan performa positif pada penutupan perdagangan terakhir. Sentimen positif ini muncul setelah kekhawatiran pelaku pasar terhadap eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah mulai mereda. Kondisi tersebut memberikan ruang bagi aset-aset berisiko untuk kembali bergerak di zona hijau.</p>

<p>Meredanya tensi geopolitik tersebut langsung berdampak pada pergerakan komoditas global, khususnya minyak mentah dunia. Harga minyak jenis Brent terpantau mengalami penurunan yang cukup signifikan. Pasar menilai bahwa risiko gangguan pasokan energi dari kawasan produsen utama tersebut kini jauh berkurang dibandingkan hari-hari sebelumnya.</p>

<p>Bagi perekonomian Indonesia, penurunan harga minyak mentah dunia ini membawa angin segar dan berpotensi menjadi sentimen positif. Penurunan harga komoditas energi tersebut diperkirakan mampu menekan laju inflasi domestik. Selain itu, berkurangnya beban impor minyak juga akan mendukung stabilitas mata uang Rupiah agar bergerak lebih kokoh.</p>

<p>Meski isu Timur Tengah mulai mereda, fokus utama para investor hari ini telah beralih ke agenda makroekonomi yang sangat krusial. Perhatian pasar global tertuju penuh pada hasil pertemuan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), yang dijadwalkan berlangsung nanti malam.</p>

<p>Mayoritas pelaku pasar memperkirakan bahwa The Fed masih akan mempertahankan suku bunga acuan mereka di level saat ini. Kendati demikian, volatilitas diperkirakan tetap tinggi karena investor menantikan rilis proyeksi inflasi terbaru serta dot plot yang menggambarkan arah suku bunga ke depan.</p>

<p>Selain data kuantitatif, pasar juga menaruh perhatian besar pada pandangan Kevin Warsh terkait arah kebijakan moneter AS ke depan. Jika pernyataan yang keluar cenderung bernada hawkish atau ketat, maka dolar AS berpotensi kembali menguat tajam. Hal ini diwaspadai karena dapat meningkatkan volatilitas di pasar keuangan negara-negara berkembang (emerging markets).</p>

<p>Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari respons para pelaku pasar terhadap langkah berani Bank Indonesia (BI). Kebijakan BI yang menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) menjadi sebesar 5,50% mulai direspons positif oleh pasar. Langkah ini dinilai tepat untuk menjaga daya tarik pasar keuangan domestik.</p>

<p>Dampak dari kenaikan BI Rate tersebut mulai terlihat dari pergerakan modal. Aliran dana asing dilaporkan mulai kembali masuk ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pasar obligasi pemerintah. Masuknya dana asing ini secara langsung membantu meredakan tekanan yang sempat melanda nilai tukar Rupiah.</p>

<p>Para analis menilai bahwa stabilitas nilai tukar Rupiah akan menjadi faktor yang sangat penting dalam beberapa waktu ke depan. Jika Rupiah mampu bergerak stabil, hal ini akan menjaga psikologis dan kepercayaan investor di pasar saham domestik. Investor cenderung menghindari pasar saham jika mata uang lokal mengalami fluktuasi yang terlalu tajam.</p>

<p>Di samping faktor makroekonomi, para pelaku pasar modal juga masih mencermati dua agenda besar, yaitu review indeks MSCI Indonesia dan implementasi FTSE Rebalancing yang dijadwalkan pada akhir Juni. Kedua sentimen ini diproyeksikan akan memengaruhi arah aliran dana asing dan memicu pergerakan selektif pada saham-saham tertentu. Namun untuk hari ini, pergerakan Rupiah dan antisipasi hasil FOMC tetap menjadi penentu utama arah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). []</p>

<p><em>*Dari berbagai sumber</em></p>
]]></description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://www.zonaterbang.id/assets/images/news/2026/06/20260617091517_thumb.jpg" /></item>
<item><title>1 Muharram dan Taubat Ekologis: Hijrah Menuju Bangsa Pencipta Peradaban Hijau</title><category>Nasional</category><link>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/17/4705/1-Muharram-dan-Taubat-Ekologis:-Hijrah-Menuju-Bangsa-Pencipta-Peradaban-Hijau</link><guid>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/17/4705/1-Muharram-dan-Taubat-Ekologis:-Hijrah-Menuju-Bangsa-Pencipta-Peradaban-Hijau</guid><pubDate>Wed, 17 Jun 2026 06:55:52 +0700</pubDate><description><![CDATA[<p style="text-align: center;"><span style="color:#A9A9A9"><span style="font-size:28px">Kemajuan tidak datang dari kebiasaan menyalahkan nasib, tetapi dari kemampuan membangun arah baru.</span></span></p>

<blockquote>
<p>Oleh: <strong>Abdullah Rasyid</strong>, Mahasiswa Doktoral Ilmu Pemerintahan IPDN, Pengurus Pusat MES (Masyarakat Ekonomi Syariah), dan Pendiri GREAT Institute</p>
</blockquote>

<p>SETIAP kali Tahun Baru Hijriah tiba, ingatan umat Islam selalu kembali kepada peristiwa besar hijrah Rasulullah ﷺ dari Mekkah ke Madinah. Namun, hijrah tidak pernah sekadar cerita tentang perpindahan tempat. Ia bukan hanya kisah meninggalkan satu kota menuju kota lain. Hijrah adalah transformasi total: dari ketertekanan menuju kedaulatan, dari kelemahan menuju kekuatan, dari ketercerai-beraian menuju persaudaraan, dan dari kezahiliyahan menuju peradaban.</p>

<p>Rasulullah ﷺ tidak tiba di Madinah dengan membawa dendam. Beliau juga tidak menghabiskan energi untuk meratapi masa lalu. Yang dilakukan justru membangun masa depan: mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar, menata kehidupan sosial, membangun pasar, memperkuat etika ekonomi, serta meletakkan dasar keadilan dan tata kelola masyarakat. Dari sanalah lahir sebuah peradaban yang kelak mengubah wajah sejarah dunia.</p>

<p>Pelajaran hijrah sangat terang: bangsa yang besar tidak lahir dari keluhan, melainkan dari keberanian mengubah keadaan. Kemajuan tidak datang dari kebiasaan menyalahkan nasib, tetapi dari kemampuan membangun arah baru.</p>

<p>Hari ini, ketika kita menyambut 1 Muharram 1448 Hijriah, Indonesia juga berada pada persimpangan sejarah. Kita adalah bangsa besar dengan bonus demografi, posisi geografis strategis, kekayaan laut, hutan, tambang, energi, biodiversitas, dan potensi ekonomi yang luar biasa. Tetapi dunia telah berubah. Ukuran kemajuan tidak lagi semata-mata ditentukan oleh seberapa banyak suatu bangsa memiliki sumber daya alam, melainkan seberapa cerdas bangsa itu mengolahnya, menambah nilainya, menguasai teknologinya, dan menjaga keberlanjutannya.</p>

<p>Di sinilah makna hijrah menjadi sangat relevan. Indonesia membutuhkan hijrah nasional: hijrah dari mentalitas konsumen menjadi mentalitas pencipta; dari bangsa yang bangga menjadi pasar menjadi bangsa yang percaya diri sebagai produsen; dari pemasok bahan mentah menjadi pengolah nilai tambah; dari pembangunan yang mengejar angka pertumbuhan semata menuju pembangunan yang menjaga kehidupan.</p>

<p>Dan salah satu ruang paling penting dari hijrah nasional itu adalah ekologi.</p>

<p><strong>Dari Bangsa Konsumen Menuju Inovator Hijau</strong></p>

<p>Selama terlalu lama Indonesia menikmati posisi sebagai negara kaya sumber daya alam, tetapi belum sepenuhnya menjadi negara kaya nilai tambah. Kita punya nikel, batu bara, sawit, hasil laut, hutan, dan mineral strategis. Namun, dalam banyak rantai nilai global, keuntungan terbesar sering kali tidak dinikmati oleh pemilik bahan mentah, melainkan oleh penguasa teknologi, industri pengolahan, desain, pembiayaan, logistik, merek, dan pasar.</p>

<p>Mentalitas lama ini harus ditinggalkan. Kekayaan alam adalah modal awal, bukan tujuan akhir. Kemandirian sejati tidak lahir dari kemampuan menjual bahan mentah, tetapi dari kemampuan mengolah, menciptakan, menguasai teknologi, dan membangun industri nasional yang kuat.</p>

<p>Karena itu, hilirisasi merupakan langkah penting. Indonesia tidak boleh terus-menerus menjadi halaman belakang industri dunia. Kita harus naik kelas. Kita harus berani mengolah sendiri kekayaan alam kita, menciptakan lapangan kerja, memperkuat basis industri, serta membangun kedaulatan ekonomi.</p>

<p>Namun, di titik ini muncul pertanyaan besar: apakah kemajuan ekonomi harus selalu dibayar dengan rusaknya sungai, gundulnya hutan, tercemarnya udara, hilangnya ruang hidup masyarakat, dan meningkatnya risiko bencana ekologis?</p>

<p>Jawabannya tentu tidak.</p>

<p>Hilirisasi yang benar tidak boleh menjadi wajah baru eksploitasi. Industrialisasi tidak boleh mengulang kesalahan masa lalu: mengejar pertumbuhan sambil meninggalkan kerusakan. Pabrik boleh berdiri, tetapi sungai tidak boleh mati. Tambang boleh diolah, tetapi keselamatan rakyat tidak boleh dikorbankan. Investasi harus masuk, tetapi lingkungan hidup tidak boleh dianggap sebagai ongkos sampingan pembangunan.</p>

<p>Di sinilah gagasan taubat ekologis menjadi penting.</p>

<p><strong>Taubat Ekologis sebagai Hijrah Peradaban</strong></p>

<p>Seruan taubat ekologis yang digaungkan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH, Moh. Jumhur Hidayat, tidak boleh dipahami sebagai slogan moral belaka. Ia adalah panggilan untuk mengubah cara pandang bangsa terhadap alam.</p>

<p>Selama ini, hubungan kita dengan alam memang sedang tidak baik-baik saja. Hutan terlalu sering dilihat hanya sebagai tumpukan kayu. Gunung dibaca sekadar sebagai cadangan mineral. Sungai diperlakukan seperti saluran pembuangan. Laut dianggap sebagai halaman belakang tempat segala sampah akhirnya bermuara. Tanah, air, udara, mangrove, terumbu karang, dan biodiversitas belum sepenuhnya ditempatkan sebagai aset strategis bangsa.</p>

<p>Padahal, alam bukan benda mati. Alam adalah penyangga kehidupan. Ketika hutan rusak, banjir datang. Ketika sungai tercemar, kesehatan rakyat terganggu. Ketika laut dipenuhi sampah, nelayan kehilangan sumber penghidupan. Ketika udara memburuk, anak-anak dan orang tua menjadi korban. Ketika iklim berubah, petani dan masyarakat kecil menjadi kelompok pertama yang paling merasakan dampaknya.</p>

<p>Taubat ekologis berarti hijrah dari cara pandang eksploitatif menuju cara pandang yang bertanggung jawab. Dari pembangunan yang hanya berpusat pada kepentingan manusia jangka pendek menuju pembangunan yang menjaga keseimbangan manusia, alam, dan generasi mendatang. Dari pola ambil, pakai, buang menuju ekonomi sirkular. Dari budaya merusak menuju budaya merawat.</p>

<p>Taubat ekologis bukan gerakan anti-pembangunan. Sebaliknya, ia adalah cara menyelamatkan pembangunan agar tidak menghancurkan masa depannya sendiri.</p>

<p><strong>Hilirisasi Harus Menjadi Hilirisasi Hijau</strong></p>

<p>Indonesia tidak boleh berhenti pada kebanggaan membangun smelter, pabrik, kawasan industri, dan infrastruktur besar. Itu semua penting, tetapi belum cukup. Pertanyaan berikutnya jauh lebih menentukan: apakah industri yang kita bangun bersih, efisien, berkelanjutan, dan memberi manfaat nyata bagi rakyat?</p>

<p>Masa depan Indonesia harus diarahkan menuju hilirisasi hijau. Artinya, hilirisasi tidak hanya mengejar nilai tambah ekonomi, tetapi juga memperhitungkan daya dukung lingkungan, emisi karbon, pengelolaan limbah, efisiensi energi, keselamatan kerja, dan keadilan bagi masyarakat sekitar.</p>

<p>Indonesia tidak boleh hanya menjadi konsumen teknologi hijau buatan negara lain. Kita harus menjadi produsen dan pengembang inovasi hijau itu sendiri. Panel surya, baterai, kendaraan listrik, teknologi pengolahan limbah, energi terbarukan, material ramah lingkungan, pertanian presisi, dan tata kelola karbon harus menjadi bagian dari agenda besar kemandirian nasional.</p>

<p>Inilah hijrah ekonomi yang sesungguhnya: dari menjual isi perut bumi menuju menciptakan teknologi peradaban. Dari sekadar menggali menjadi mencipta. Dari sekadar mengekspor bahan mentah menjadi menguasai masa depan industri hijau.</p>

<p><strong>Asta Cita dan Agenda Membangun Tanpa Merusak</strong></p>

<p>Dalam konteks pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, taubat ekologis sejalan dengan semangat Asta Cita. Terutama dalam agenda memperkuat ketahanan pangan, ketahanan energi, pembangunan dari desa, kemandirian ekonomi, dan pembangunan yang berkelanjutan.</p>

<p>Asta Cita tidak boleh dipahami hanya sebagai daftar program sektoral. Ia harus dibaca sebagai arah besar pembangunan nasional. Negara yang kuat bukan hanya negara yang memiliki jalan tol, pelabuhan, bandara, bendungan, dan kawasan industri. Negara yang kuat juga harus mampu menjaga airnya, tanahnya, hutannya, lautnya, udaranya, dan keselamatan rakyatnya.</p>

<p>Swasembada pangan, misalnya, mustahil dicapai jika lahan subur terus menyusut, sawah rusak, sumber air hilang, dan petani makin sering menghadapi kekeringan atau banjir. Menjaga pangan berarti menjaga tanah dan air.</p>

<p>Swasembada energi juga tidak cukup hanya dihitung dari berapa besar listrik yang diproduksi. Ke depan, ukuran ketahanan energi akan semakin ditentukan oleh kemampuan negara mengurangi ketergantungan pada energi kotor, mempercepat energi terbarukan, dan membangun sistem energi yang bersih serta adil.</p>

<p>Pembangunan dari desa pun tidak bisa dilepaskan dari ekologi. Desa adalah benteng pertama ketahanan lingkungan. Di desa ada sawah, hutan, sungai, pesisir, mangrove, kebun, mata air, dan ruang hidup masyarakat. Jika desa diperkuat sebagai pusat ekonomi sirkular, pertanian berkelanjutan, energi bersih, dan ekowisata berbasis masyarakat, maka pembangunan tidak hanya tumbuh dari bawah, tetapi juga menjadi lebih sehat dan berakar.</p>

<p>Dengan demikian, taubat ekologis dan Asta Cita seharusnya berjalan seiring. Keduanya bertemu pada satu kesadaran: Indonesia harus maju, tetapi tidak boleh rusak; Indonesia harus tumbuh, tetapi tidak boleh mengorbankan kehidupan.</p>

<p><strong>Dari Kesadaran Menuju Kebijakan</strong></p>

<p>Tentu, taubat ekologis tidak cukup berhenti sebagai seruan moral. Ia harus turun menjadi kebijakan, anggaran, kelembagaan, pengawasan, dan gerakan sosial.</p>

<p>Pertama, reformasi perizinan dan Amdal harus menjadi prioritas. Amdal tidak boleh menjadi formalitas administratif atau sekadar stempel pelengkap investasi. Dokumen lingkungan harus benar-benar menjadi alat pengendali risiko. Izin yang merusak harus dievaluasi. Pelaku usaha yang patuh harus didukung, tetapi yang ugal-ugalan harus ditindak.</p>

<p>Kedua, penegakan hukum lingkungan harus konsisten dan tanpa pandang bulu. Pencemaran sungai, pembakaran hutan, perusakan kawasan konservasi, dan pembuangan limbah berbahaya tidak boleh dianggap sebagai biaya bisnis biasa. Sanksi harus memberikan efek jera. Hukum lingkungan harus tajam kepada pelanggar besar, bukan hanya sibuk menertibkan pelaku kecil di lapangan.</p>

<p>Ketiga, pengelolaan sampah harus dinaikkan kelasnya menjadi agenda strategis nasional. Sampah adalah indikator paling jujur dari tingkat peradaban. Bangsa yang tidak mampu mengurus sampahnya sendiri akan sulit berbicara tentang peradaban hijau. Pemilahan dari rumah, pengurangan plastik sekali pakai, penguatan bank sampah, industri daur ulang, ekonomi sirkular, dan tanggung jawab produsen harus dipercepat.</p>

<p>Keempat, tata kelola karbon harus dibangun secara berdaulat dan transparan. Indonesia memiliki hutan tropis, mangrove, gambut, laut, dan biodiversitas yang sangat bernilai dalam ekonomi hijau global. Namun, nilai ekonomi karbon tidak boleh bocor, dimonopoli, atau hanya dinikmati segelintir pihak. Data harus valid, pasar harus transparan, manfaat harus kembali kepada rakyat, dan posisi tawar Indonesia harus dijaga.</p>

<p>Kelima, pendidikan ekologis harus menjadi gerakan kebudayaan. Perubahan besar tidak cukup datang dari regulasi. Ia harus tumbuh menjadi kebiasaan baru: tidak membuang sampah sembarangan, menghemat air, mengurangi plastik, menanam pohon, menjaga sungai, merawat laut, dan menghormati alam sebagai bagian dari iman, etika, dan tanggung jawab kewargaan.</p>

<p><strong>Jawaban Terbaik adalah Prestasi</strong></p>

<p>Ketika dunia meragukan Indonesia, kita tidak perlu menjawab dengan kemarahan. Ketika sebagian pihak menganggap Indonesia hanya akan menjadi pasar besar, pemasok bahan murah, atau bangsa konsumen teknologi, jawaban terbaik bukanlah retorika. Jawaban terbaik adalah prestasi.</p>

<p>Kita harus menjawab dengan pendidikan yang lebih bermutu, riset yang lebih kuat, industri yang lebih maju, birokrasi yang lebih bersih, hukum yang lebih tegas, dan pembangunan yang lebih berkelanjutan. Kita harus membuktikan bahwa Indonesia bukan hanya bangsa besar dalam jumlah penduduk dan kekayaan alam, tetapi juga bangsa besar dalam gagasan, teknologi, tata kelola, dan peradaban.</p>

<p>Hijrah mengajarkan bahwa perubahan tidak datang dari keluhan, tetapi dari keberanian memulai langkah baru. Taubat ekologis mengajarkan bahwa pembangunan tidak boleh memusuhi alam, karena pada akhirnya alam yang rusak akan memukul balik manusia.</p>

<p>Maka, makna terdalam 1 Muharram bagi Indonesia hari ini adalah keberanian untuk berhijrah: dari bangsa konsumen menjadi bangsa pencipta; dari pembangunan yang eksploitatif menuju pembangunan yang berkelanjutan; dari ekonomi bahan mentah menuju ekonomi nilai tambah; dari budaya membuang menuju budaya merawat; dari sekadar mengejar pertumbuhan menuju membangun peradaban hijau.</p>

<p>Indonesia harus maju. Tetapi kemajuan itu harus menjaga kehidupan.</p>

<p>Sebab membangun republik bukan hanya soal mendirikan gedung, membuka tambang, membangun pabrik, dan mengejar angka pertumbuhan. Membangun republik adalah menjaga tanah tempat rakyat berpijak, air yang mereka minum, udara yang mereka hirup, laut tempat nelayan mencari nafkah, hutan yang melindungi kehidupan, dan masa depan anak cucu yang kelak akan mewarisi negeri ini.</p>

<p>Itulah hijrah ekologis. Itulah taubat peradaban. Dan itulah jalan Indonesia menuju bangsa pencipta peradaban hijau. []</p>
]]></description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://www.zonaterbang.id/assets/images/news/2026/06/20260617070300_thumb.jpg" /></item>
<item><title>Mati Besok</title><category>Disway</category><link>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/17/4706/Mati-Besok</link><guid>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/17/4706/Mati-Besok</guid><pubDate>Wed, 17 Jun 2026 05:05:00 +0700</pubDate><description><![CDATA[<p style="text-align: center;"><span style="color:#A9A9A9"><span style="font-size:28px">Kini pemerintah dapat angin segar: harga minyak mentah mulai turun sebelum aneka komplikasi berkelindan jadi satu revolusi. </span></span></p>

<blockquote>
<p>Oleh: <strong>Dahlan Iskan</strong>, Wartawan Senior</p>
</blockquote>

<p>ANEH. Belum juga ada tanggapan dari Indonesia -soal tercapainya kesepakatan damai Amerika-Iran. Padahal Indonesia mestinya amat-sangat gembira. Dengan perdamaian itu komplikasi persoalan di Indonesia sangat berkurang.</p>

<p>Sebelum ada perdamaian itu saya sempat membayangkan Indonesia dalam keadaan adu cepat antara usaha perbaikan dengan bertambahnya komplikasi persoalan. Kalau komplikasinya lebih cepat, bahaya sekali. Bisa meledak.</p>

<p>Awalnya Indonesia bisa bersikap tetap tenang. Memang ada beberapa persoalan tapi kalau tidak terjadi komplikasi masih bisa diatasi: inflasi masih rendah, pertumbuhan ekonomi masih meningkat, cadangan devisa tinggi, ekspor-impor surplus, struktur perbankan sudah sangat kuat -sampai punya dana besar penjaminan deposito yang tidak pernah terpakai.</p>

<p>Ternyata perang Amerika-Iran berkepanjangan. Harga minyak tidak kunjung turun. Bursa saham ambruk. Rupiah merosot. Tapi tetap tidak ada gejolak. Pemerintah masih yakin fondasi ekonomi kuat.</p>

<p>Akhirnya, mulai tampak tidak lagi kuat. Harga Pertamax terpaksa naik. Tajam. Sekitar 30 persen. Mulailah terjadi satu komplikasi. Inflasi rendah yang selalu jadi peredam bisa berubah: kita tunggu angka inflasi dari BPS bulan depan.</p>

<p>Tanda-tanda akan terjadi komplikasi-lanjutan bisa direm dengan sukses: kepala dan dua wakil kepala Badan Gizi Nasional diberhentikan -lalu ditangkap. Efisiensi di program Makan Bergizi Gratis akan dilakukan.</p>

<p>Lomba cepat itu akan terus berlangsung. Cepat mana bertambahnya komplikasi atau banyaknya perbaikan yang dilakukan pemerintah.</p>

<p>Kini pemerintah dapat angin segar: harga minyak mentah mulai turun sebelum aneka komplikasi berkelindan jadi satu revolusi. Dengan turunnya harga minyak, pemerintah bisa sedikit lebih tenang dalam mencegah komplikasi lanjutan. Utamanya setelah gerakan mahasiswa mulai kembali turun ke jalan.</p>

<p>Kasus terakhir di Bea Cukai seharusnya bisa menyadarkan Presiden Prabowo bahwa tidak semua temannya bisa diajak bekerja ikhlas membangun negeri. Padahal pengangkatan temannya menjadi pejabat baru dirjen Bea Cukai itu diniatkan untuk bersih-bersih Bea Cukai habis-habisan.</p>

<p>Ia tentara. Kopassus. Bintang tiga. Kurang apa. Setelah setahun menjabat ketahuanlah cerita ulangan di instansi basah itu.</p>

<p>Betapa besar harapan Prabowo kepada temannya itu. Seberapa besar keinginannya untuk membuat Bea Cukai sumber pendapatan yang penting di saat negara kesulitan uang. Sampai-sampai Prabowo mengingatkan kejadian di zaman Pak Harto yang Bea Cukai Indonesia sampai diserahkan ke perusahaan swasta dari Prancis.</p>

<p>Maka agar tidak perlu terulang seperti itu ia pilih temannya sendiri untuk menjabat dirjen Bea Cukai.</p>

<p>Kini berarti sudah tiga teman kepercayaan Prabowo yang mengecewakannya -juga mengecewakan Anda. Padahal waktu tidak berhenti berlari. Sebentar lagi Presiden Prabowo pun sudah akan kehilangan waktu dua tahun. Tinggal dua tahun lagi pemerintahannya efektif. Di tahun kelima sudah banyak urusan pemilu dan pilpres tahun 2029.</p>

<p>Ibarat petinju yang kian terpojok, ekonomi Indonesia diselamatkan oleh lonceng perdamaian. Memang kondisinya belum separah Pakistan. Tapi kalau perang terus berlangsung jumlah komplikasinya terus bertambah.</p>

<p>Pakistan memang sudah di pojok ring. Dengan perdamaian itu sudah pasti kita selamat, ujar Menkeu Pakistan Muhammad Aurangzeb, yang mewakili perdana menteri di parlemen di sana Senin lalu.</p>

<p>Sekarang kita ibarat pasien yang sudah keluar dari ICU, katanya. Sebelum perdamaian itu Pakistan tinggal menunggu kematian. Bisa besok, bisa lusa, tambahnya.</p>

<p>Dengan perdamaian Amerika-Iran itu Pakistan langsung optimistis ekonominya bisa tumbuh tujuh persen. Kini kemampuan Pakistan dikenal di seluruh dunia, ujar Menkeu.</p>

<p>Tapi pertumbuhan tujuh persen itu bukan hanya karena tidak ada lagi perang. Usaha lainnya adalah: menurunkan pajak. Pajak tinggi membuat pengusaha menggelapkan pajak. Pemerintah akan membuat pengusaha bangga saat membayar pajak, katanya.</p>

<p>Pakistan tetap optimistis Jumat lusa perdamaian itu ditandatangani di Geneva, Swiss. Dari Iran yang akan tanda tangan adalah ketua parlemennya Mohammad Bagher Qalibaf. Ia orang kuat Iran. Pernah jadi panglima angkatan udara, panglima polisi, dan wali kota Teheran. Qalibaf-lah yang selama ini menjadi ketua tim negosiasi.</p>

<p>Dari pihak Amerika belum tentu Presiden Donald Trump yang hadir. Hampir pasti Wapres JD Vance yang ke Geneva. Tentu lihat-lihat respons dunia. Bila sangat menguntungkan bisa saja Trump sendiri yang ke sana. Hanya enam jam penerbangan.</p>

<p>Terserahlah. Yang penting damai. Agar negeri seperti Indonesia yang masih sakit tidak sampai menderita komplikasi. []</p>
]]></description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://www.zonaterbang.id/assets/images/news/2026/06/20260617070851_thumb.jpg" /></item>
<item><title> Trump Kecam Netanyahu: Tanpa AS Tidak Ada Israel</title><category>Dunia</category><link>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/16/4704/-Trump-Kecam-Netanyahu:-Tanpa-AS-Tidak-Ada-Israel</link><guid>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/16/4704/-Trump-Kecam-Netanyahu:-Tanpa-AS-Tidak-Ada-Israel</guid><pubDate>Tue, 16 Jun 2026 23:30:00 +0700</pubDate><description><![CDATA[<p><strong>ZT. </strong>Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melayangkan kritik tajam dan kecaman terbuka terhadap cara Israel menangani konflik militer di Lebanon. Pernyataan keras tersebut disampaikan Trump di sela-sela rangkaian pertemuan puncak Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 yang berlangsung di Evian-les-Bains, Prancis.</p>

<p>Trump menilai bahwa operasi militer yang dilancarkan oleh pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sudah berlangsung terlalu lama dan menimbulkan korban jiwa yang terlalu besar di kalangan warga sipil.</p>

<p>Sedemikian kesalnya Trump sampai dia mengatakan, Saya tidak senang dengan cara Israel menangani Lebanon dan Hizbullah.</p>

<p>Tanpa AS tidak ada Israel, katanya lagi dalam pertemuan dengan pemimpin Qatar Emir Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, Selasa, 16 Juni 2026.</p>

<p>Dalam pernyataannya di hadapan wartawan, Trump menilai strategi militer Israel tidak proporsional saat menggempur wilayah Lebanon. Ia menyoroti taktik Israel yang kerap merubuhkan fasilitas publik dan pemukiman dengan alasan memburu milisi. Trump mengingatkan sekutu dekatnya itu bahwa tindakan agresif tersebut justru mengorbankan masyarakat yang sama sekali tidak bersalah.</p>

<p>Secara spesifik, Trump mengkritik serangan udara masif yang dilancarkan militer Israel ke ibu kota Lebanon, Beirut. Menurutnya, penghancuran gedung-gedung apartemen bertingkat bukanlah metode yang tepat dan efisien untuk menyasar target operasi. Ia mengingatkan bahwa di dalam gedung-gedung hunian tersebut terdapat banyak warga sipil dan menegaskan bahwa tidak semua penghuninya adalah anggota kelompok Hizbullah.</p>

<p>Kekesalan Trump kian memuncak karena serangan udara Israel ke Beirut tersebut terjadi hanya berselang dua jam sebelum Amerika Serikat mengumumkan nota kesepahaman (MoU) perdamaian dengan Iran. Trump merasa manuver militer Netanyahu tersebut sengaja dilakukan pada momen krusial dan berpotensi merusak stabilitas diplomasi yang sedang dibangun oleh Washington. Ia pun meminta Netanyahu untuk bersikap jauh lebih bertanggung jawab dalam mengambil tindakan militer.</p>

<p>Lebih lanjut, Trump mengkhawatirkan bahwa agresi militer Israel yang berlarut-larut di Lebanon akan membayangi dan memberikan dampak negatif terhadap capaian kesepakatan besar (the big deal) yang baru saja dirintis AS bersama Iran. Di mata Trump, ketegangan antara Israel dan Hizbullah di Lebanon seharusnya menjadi perang kecil yang bisa diselesaikan dengan cepat tanpa harus mengganggu peta jalan perdamaian kawasan Timur Tengah yang lebih luas.</p>

<p>Dalam kesempatan yang sama, Trump melontarkan usulan yang mengejutkan publik internasional terkait penanganan konflik tersebut. Ia menyarankan agar Israel menyudahi operasinya dan membiarkan negara tetangganya, Suriah, yang mengambil alih tugas menghadapi Hizbullah di Lebanon. Trump bahkan memuji kepemimpinan kepala negara Suriah saat ini, Ahmed al-Sharaa, yang dinilainya akan mampu melakukan pekerjaan tersebut dengan jauh lebih baik dan terukur.</p>

<p>Meskipun melayangkan kecaman yang tidak biasa ini, Trump tetap mengeklaim bahwa dirinya memiliki hubungan luar biasa dengan Benjamin Netanyahu. Namun, ia juga memberikan peringatan keras bernada sesumbar bahwa Israel mungkin sudah hancur sejak lama jika dirinya tidak ikut campur tangan dalam membela dan mengamankan posisi negara sekutunya tersebut di masa lalu.</p>

<p>Kecaman terbuka dari Gedung Putih ini mencuat tepat setelah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyampaikan pidato televisi yang menegaskan posisi sebaliknya. Netanyahu secara tegas menolak opsi penarikan pasukan segera dari Lebanon. Pemimpin Israel itu bersikeras bahwa militer mereka telah menetapkan zona keamanan mendalam di sekitar Israel, termasuk di wilayah Gaza, Lebanon, dan Suriah, serta bersumpah akan bertahan di sana selama diperlukan.</p>

<p>Di sisi lain, respons dari pihak Iran mengindikasikan adanya tekanan diplomatik yang searah dengan kekhawatiran Trump. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa penghentian perang di semua linitermasuk penghentian total serangan Israel ke Lebanonmerupakan bagian yang tidak terpisahkan dari draf kesepakatan damai dengan AS. Iran menganggap bahwa dalam konteks memorandum ini, posisi AS dan Israel berada di satu sisi yang sama sebagai pihak yang harus menahan diri.</p>

<p>Sikap keras Trump di sela KTT G7 ini menandai babak baru ketegangan diplomatik antara Washington dan Tel Aviv yang kian transparan di depan para pemimpin dunia. Dengan draf perjanjian damai AS-Iran yang dijadwalkan akan ditandatangani secara resmi di Swiss, komunitas internasional kini menanti apakah kecaman Trump mampu memaksa Israel mengerem agresinya di Lebanon atau justru memicu keretakan yang lebih dalam di antara kedua negara sekutu tersebut. []</p>
]]></description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://www.zonaterbang.id/assets/images/news/2026/06/20260617063531_thumb.jpg" /></item>
<item><title>Mengenang Abdullah Ibrahim, Sang Mozart Afrika</title><category>Budaya</category><link>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/16/4703/Mengenang-Abdullah-Ibrahim,-Sang-Mozart-Afrika</link><guid>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/16/4703/Mengenang-Abdullah-Ibrahim,-Sang-Mozart-Afrika</guid><pubDate>Tue, 16 Jun 2026 21:05:00 +0700</pubDate><description><![CDATA[<p style="text-align: center;"><span style="color:#A9A9A9"><span style="font-size:28px">In the silence lies the power.<br />
 Abdullah Ibrahim</span></span></p>

<blockquote>
<p>Oleh: <strong>Ak Supriyanto</strong>, esais</p>
</blockquote>

<p>DUNIA kehilangan salah satu suara paling agung dari bumi Afrika.</p>

<p>Pada 15 Juni 2026, Abdullah Ibrahimyang dahulu kita kenal sebagai Dollar Brandberpulang dengan tenang di Jerman. Di tengah dekapan keluarga, pada usia 91 tahun, setelah sakit singkat.</p>

<p>Sebuah senja panjang bagi jazz dunia. Dan bagi kita yang pernah tersentuh oleh tuts-tuts magisnya.</p>

<p>Ia lahir sebagai Adolph Johannes Brand di Cape Town, 9 Oktober 1934.</p>

<p>Seorang anak kulit hitam, di negeri yang kelak menusuknya dengan belati apartheid.</p>

<p>Pada usia tujuh tahun, jari-jari mungilnya mulai meraba tuts piano. Mencari melodi di tengah hiruk-pikuk District Six yang multikultural. Dari gereja Methodist Afrika tempat neneknya bermain piano, dari denting marabi dan mbaqanga yang mengalir di jalanan Cape Flats, ia menyerap musik seperti tanah menyerap hujan.</p>

<p>Saat remaja, ia bermain di berbagai grup. Lalu bersama Kippie Moeketsi, Hugh Masekela, dan Jonas Gwangwa, ia membentuk Jazz Epistles.</p>

<p>Tahun 1960, mereka merekam Jazz Epistle Verse Onealbum jazz panjang pertama oleh musisi kulit hitam Afrika Selatan. Sebuah tindakan perlawanan yang tak akan dimaafkan rezim apartheid.</p>

<p>Jazz dianggap subversif. Mendorong percampuran ras. Membahayakan.</p>

<p>Namun Ibrahim tak pernah berhenti. Bukan karena ia pemberani, melainkan karena ia melihatnya sebagai taktik.</p>

<p>Kami tidak benar-benar pergi... itu adalah taktik mundur. Kami menganggap diri kami sebagai pejuang budaya untuk kebebasan.</p>

<p>Tahun 1962, ia berangkat ke Eropa.</p>

<p>Di sebuah klub di Zurich, sang istrimusisi sekaligus aktivis, Sathima Bea Benjamin (1936-2013)membujuk Duke Ellington untuk mendengarnya bermain. Ellington terpukau. Ia membawa Ibrahim ke Amerika, merekamkannya, dan membawanya terbang ke langit jazz dunia.</p>

<p>Tapi ia tak pernah melupakan akar.</p>

<p>Kami tidak pernah menganggap Ellington sebagai orang Afrika-Amerika. Kami menganggapnya sebagai orang bijak tua di desa.</p>

<p>Titik balik lain datang pada 1968.</p>

<p>Lelah mencari kedamaian yang tak ia temukan di keyakinan sebelumnya, ia memeluk Islam. Namanya berubah menjadi Abdullah Ibrahim.</p>

<p>Dalam iman barunya, ia menemukan disiplin spiritual yang kemudian meresap ke dalam setiap denting musiknya. Meditasi dalam nada. Dzikir dalam repetisi.</p>

<p>Di antara gelombang musisi jazz yang masuk Islam pada era 60-an dan 70-an, ia adalah salah satu yang paling khusyuk. Dalam beberapa komposisinya, ia bahkan melantunkan ayat-ayat suci. Sebuah pertemuan sunyi antara langit Cape Town dan langit Mekah.</p>

<p>Tahun 1974. Ia kembali ke Cape Town.</p>

<p>Masuk studio. Sekali rekam. Satu take.</p>

<p>Lahirlah Mannenberg dinamai dari pemukiman kumuh tempat korban penggusuran District Six dibuang. Lagu itu membesar lebih dari sekadar musik.</p>

<p>Ia menjadi bendera. Hymne perlawanan. Nyanyian bawah tanah yang menggema di sel-sel penjara, menginspirasi Nelson Mandela dalam masa tahanannya.</p>

<p>Mandela kelak akan memanggilnya: Mozart kita.</p>

<p>Dan pada 1994, ketika bendera baru Afrika Selatan berkibar, Ibrahim duduk di depan piano. Bermain untuk pelantikan presiden kulit hitam pertama negeri itu.</p>

<p>Dari pengasingan di New York, ia pulang. Bukan sebagai orang asing, melainkan sebagai anak yang dirindukan.</p>

<p>Saya mengenal Abdullah Ibrahim bukan dari panggung megah.</p>

<p>Tapi dari siaran radio Geronimo di Jogja, tahun 90-an. Suara jazz mengalir dari speaker tua pada malam yang suntuk di kos-kosan.</p>

<p>Dr. Heru Nugrohososiolog UGM yang jadi penyiar tamubaru pulang dari Bielefeld. Ia fasih mengulas satu per satu komposisi Ibrahim yang menggetarkan. Lalu satu nomor diputar.</p>

<p>Ada denting Afrika yang khas. Irama yang mengayun seperti langkah para peziarah. Ada bisikan yang tak bisa dilupakan.</p>

<p>Saya pun memburu kasetnya. Di era digital, saya terus menikmati repertoarnya: Water from an Ancient Well, African Suite, Ancient Africa.</p>

<p>Setiap kali, musiknya mengajak saya berimajinasi. Berjalan di savana. Duduk di tepi samudra. Menengadah ke langit yang samaentah di Cape Town, New York, Munich atau Jogja.</p>

<p>Musik Ibrahim adalah keheningan yang berbicara.</p>

<p>Bukan virtuositas yang memukau, melainkan intensitas meditatif yang meresap.</p>

<p>Tangan kiri menganyam pola-pola berulang, seperti doa yang diputar. Tangan kanan membentang melodi dalam gelombang lembut.</p>

<p>Ia adalah pesulap repetisi dengan sarana minimal mencapai efek maksimal. Mendengarkannya seperti menyaksikan seorang sufi menari. Perlahan. Dalam. Membebaskan.</p>

<p>Ia mencatat lebih dari 70 album. Meraih Order of Ikhamanga, NEA Jazz Masters Fellowship, dan sederet penghargaan lainnya.</p>

<p>Namun penghargaan terbesarnya mungkin adalah cinta yang tak pernah pudar dari bangsanya.</p>

<p>Abdullah meninggal dengan damai, dengan Afrika Selatan dan rakyatnya di dalam hatinya. Cintanya pada negaranya tak pernah goyah, di mana pun ia berada di dunia, ujar Dr. Marina Umari, pasangan hidupnya.</p>

<p>Kini ia dimakamkan di Bavaria, Jermantempat Ibrahim menghabiskan tahun-tahun terakhirnya.</p>

<p>Namun musiknya tak akan pernah dikubur.</p>

<p>Ia akan terus mengalir. Dari Cape Town ke New York. Dari Jerman ke Yogyakarta.</p>

<p>Di setiap tuts yang ditekan dengan penuh kesadaran. Di setiap jeda yang berisi makna. Di setiap ayat yang dilantunkan dalam melodi.</p>

<p>Abdullah Ibrahim akan terus hidup dalam kenangan.</p>

<p>Selamat jalan, Mozart kita.</p>

<p>Mannenberg tetap bergema.</p>

<p>Dan di keheningan malam, kami masih mendengarmu. []</p>
]]></description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://www.zonaterbang.id/assets/images/news/2026/06/20260616114536_thumb.jpg" /></item>
<item><title>Tahun Baru Hijriyah dan Umat yang Kehilangan Arah</title><category>Nasional</category><link>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/16/4702/Tahun-Baru-Hijriyah-dan-Umat-yang-Kehilangan-Arah</link><guid>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/16/4702/Tahun-Baru-Hijriyah-dan-Umat-yang-Kehilangan-Arah</guid><pubDate>Tue, 16 Jun 2026 20:35:00 +0700</pubDate><description><![CDATA[<p style="text-align: center;"><span style="color:#A9A9A9"><span style="font-size:28px">Menariknya, kalender Islam tidak dimulai dari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tidak pula dari turunnya wahyu pertama. Bahkan bukan dari peristiwa Fathu Makkah yang monumenta</span></span>l.</p>

<blockquote>
<p>Oleh: <strong>Edy Mulyadi</strong>, Wartawan Senior</p>
</blockquote>

<p>HARI ini, Selasa 16 Juni 2026, umat Islam memasuki Tahun Baru Hijriyah. Ucapan selamat berseliweran. Di grup-grup WA. Di berbagai platform media sosial. Poster dan spanduk bertebaran. Ceramah dan tausiyah bermunculan. Tentu saja, semua itu baik.</p>

<p>Namun ada satu pertanyaan yang sering luput: Mengapa umat Islam memiliki kalender sendiri, tapi hidup dengan arah yang ditentukan orang lain? Di sinilah letak persoalan yang sering luput dari pembahasan. Hijriyah bukan sekadar penanda waktu. Ia adalah simbol peradaban.</p>

<p>Menariknya, kalender Islam tidak dimulai dari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tidak pula dari turunnya wahyu pertama. Bahkan bukan dari peristiwa Fathu Makkah yang monumental.</p>

<p>Para sahabat memilih peristiwa hijrah sebagai titik awal sejarah umat. Mengapa? Karena hijrah adalah perubahan. Perpindahan dari tekanan menuju kekuatan. Dari posisi objek menjadi subjek. Dari umat yang diburu menjadi umat yang memimpin.</p>

<p>Hijrah bukan sekadar berpindah tempat. Hijrah adalah perpindahan peran dalam sejarah. Allah SWT berfirman:</p>

<p>وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً ۖ وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ</p>

<p>Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dizalimi, sungguh akan Kami berikan tempat yang baik di dunia. Dan sungguh pahala akhirat lebih besar, sekiranya mereka mengetahui. (QS. An-Nahl [16]: 41).</p>

<p>Ayat ini menunjukkan bahwa hijrah bukan pelarian. Hijrah adalah jalan menuju kemuliaan. Sayangnya, semangat itu kini semakin pudar.</p>

<p>Umat Islam masih memiliki kalender Hijriyah. Tetapi kehilangan energi hijrahnya. Kita merayakan pergantian tahun. Namun enggan melakukan perubahan mendasar.</p>

<p>Indonesia adalah contoh yang menarik. Kita negara dengan populasi muslim terbesar ke dua di dunia. Masjid tumbuh di mana-mana. Umrah dan haji terus meningkat. Kajian Islam semakin ramai. Namun pada saat yang sama, ketimpangan ekonomi melebar. Korupsi tak kunjung sirna. Kekayaan alam dikuasai segelintir pihak. Utang negara terus bertambah. Generasi muda dicekoki budaya hedonis dan konsumtif. Pertanyaannya sederhana. Apakah ini kondisi yang ingin diwariskan kepada generasi berikutnya?</p>

<p><strong>Momentum Evaluasi</strong></p>

<p>Di tingkat global, keadaannya bahkan lebih mencemaskan. Dunia dipenuhi perang. Krisis pangan mengintai. Persaingan geopolitik semakin keras. Sistem ekonomi global berkali-kali terguncang. Negara-negara besar saling berebut pengaruh tanpa peduli penderitaan rakyat kecil.</p>

<p>Peradaban modern menjanjikan kemajuan. Tetapi gagal menghadirkan ketenangan. Teknologi berkembang pesat. Namun kecemasan manusia justru meningkat. Informasi melimpah. Tapi kebijaksanaan semakin langka. Kekayaan bertambah. Namun kepuasan hidup menurun.</p>

<p>Di tengah situasi seperti ini, Tahun Baru Hijriyah seharusnya menjadi momentum evaluasi. Bukan sekadar bertanya berapa umur kita. Tapi bertanya: ke mana arah perjalanan kita?</p>

<p>Rasulullah SAW bersabda:</p>

<p>الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ</p>

<p>Orang yang cerdas adalah orang yang mengevaluasi dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. (HR. Tirmidzi)</p>

<p>Inilah makna hijrah yang sesungguhnya. Bukan hanya meninggalkan dosa pribadi. Tetapi juga berani meninggalkan cara berpikir yang salah. Berani mencampakkan budaya diam terhadap kemungkaran. Berani meninggalkan ketergantungan kepada kekuatan selain Allah.</p>

<p>Umar bin Khaththab RA, tokoh yang menetapkan kalender Hijriyah, pernah berkata:</p>

<p>Kita adalah kaum yang dimuliakan Allah dengan Islam. Jika kita mencari kemuliaan dengan selain Islam, Allah akan menghinakan kita.</p>

<p>Kalimat ini terasa sangat relevan hari ini. Banyak bangsa muslim memiliki sumber daya melimpah. Tetapi tidak memiliki kemandirian yang memadai. Banyak yang kaya secara alamiah. Tetapi miskin secara strategis. Banyak yang besar jumlahnya. Tetapi kecil pengaruhnya.</p>

<p>Karena itu, memasuki tahun baru ini, yang lebih penting bukan sekadar mengganti angka tahun. Yang lebih penting adalah menghidupkan kembali semangat hijrah. Hijrah dari ketakutan menuju keberanian. Hijrah dari ketergantungan menuju kemandirian. Hijrah dari sekadar menjadi penonton sejarah menuju pelaku sejarah.</p>

<p>Sebab sesungguhnya, kalender Hijriyah lahir bukan untuk mengingat perpindahan Nabi dari Makkah ke Madinah. Kalender Hijriyah lahir untuk mengingatkan umat bahwa perubahan besar selalu dimulai dari keberanian berhijrah. Dan sejarah membuktikan, tidak ada peradaban besar yang lahir dari kenyamanan. Yang melahirkan peradaban adalah keberanian untuk berubah.</p>

<p>Selamat Tahun Baru Hijriyah 1448. Semoga kita tidak hanya berganti tahun. Tapi juga berganti kualitas. Berganti arah. Dan berganti nasib menuju ridha Allah SWT. []</p>
]]></description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://www.zonaterbang.id/assets/images/news/2026/06/20260616113931_thumb.jpg" /></item>
<item><title>Pembubaran Diskusi di UGM dan Ancaman Kesadaran Palsu</title><category>Nasional</category><link>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/16/4701/Pembubaran-Diskusi-di-UGM-dan-Ancaman-Kesadaran-Palsu</link><guid>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/16/4701/Pembubaran-Diskusi-di-UGM-dan-Ancaman-Kesadaran-Palsu</guid><pubDate>Tue, 16 Jun 2026 17:30:00 +0700</pubDate><description><![CDATA[<p style="text-align:center"><span style="color:#A9A9A9"><span style="font-size:28px">Ada kerugian besar yang luput dari kalkulasi para pelaku pembubaran sepihak ini. Dengan menghentikan diskusi, mereka secara sengaja telah menghalang-halangi dan menghilangkan hak publik yang lebih luas untuk mendapatkan penjelasan yang utuh langsung dari pembuat kebijakan.</span></span></p>

<blockquote>
<p>Oleh: <strong>Dr. Teguh Santosa</strong>, Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI)</p>
</blockquote>

<p>KABAR duka kembali terdengar dari dunia akademik kita.Ini bukan kabar duka biasa. Sebuah panggung intelektual yang semestinya menjadi ruang sakral bagi dialektika dan pengujian kebijakan publik, dipaksa gulung tikar dan dimatikan oleh aksi sekelompok mahasiswa. Peristiwa ini mencoreng wajah kebebasan berpendapat yang lama kita rawat.</p>

<p>Senin malam, 15 Juni 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM) diskusi bertema Pancasila Pemersatu Bangsa Indonesia berakhir ricuh. Sekelompok mahasiswa memaksa Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Nusron Wahid, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, serta Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) Budiman Sudjatmiko yang menjadi pembicara untuk turun dari panggung.</p>

<p>Kehadiran Nusron Wahid, Sudaryono, dan Budiman Sudjatmiko dalam diskusi yang dipandu dua host Total Politik, Arie Putra dan Budi Adiputro, adalah momentum langka yang sangat berharga bagi civitas akademika. Ketiga pejabat negara hadir sebagai representasi negara yang siap dikuliti, diuji, dan ditanyai tentang berbagai kebijakan sektoral yang bersentuhan langsung dengan hajat hidup orang banyak.</p>

<p>Peserta diskusi berharap bisa menguliti persoalan dari konflik agraria, ketahanan pangan, hingga strategi pengentasan kemiskinan yang menjadi keresahan nyata di tengah masyarakat hari ini. Kehadiran para pejabat ini adalah bentuk pertanggungjawaban langsung di hadapan lembaga penguji nalar ilmiah.</p>

<p>Tetapi, belum lama diskusi berjalan dan memasuki sesi pendalaman yang krusial, situasi di luar dan di dalam ruangan mulai memanas. Sekelompok mahasiswa mulai merangsek masuk dengan membawa spanduk, meneriakkan yel-yel provokatif, hingga melakukan tindakan intimidasi fisik yang tidak perlu.</p>

<p>Suasana akademis yang awalnya hangat oleh perdebatan gagasan seketika berubah mencekam karena tindakan anarkis kelompok tersebut. Benturan argumen yang dinanti justru digantikan oleh pemaksaan kehendak sepihak yang merusak fasilitas dan kenyamanan jalannya forum ilmiah.</p>

<p>Sebagai bagian dari masyarakat sipil dan komunitas media yang senantiasa merawat kemerdekaan berpendapat, Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) sangat menyayangkan tindakan tersebut.</p>

<p>Pembubaran ini bukan sekadar aksi protes biasa yang lazim terjadi di lingkungan kampus. Ini adalah tindakan nyata yang anti-demokrasi, anti-akademik, dan secara langsung menciderai tradisi kritis mahasiswa yang selama ini menjadi kebanggaan serta motor penggerak perubahan bangsa.</p>

<p>Ada kerugian besar yang luput dari kalkulasi para pelaku pembubaran sepihak ini. Dengan menghentikan diskusi, mereka secara sengaja telah menghalang-halangi dan menghilangkan hak publik yang lebih luas untuk mendapatkan penjelasan yang utuh langsung dari pembuat kebijakan.</p>

<p>Pejabat negara telah menyediakan waktu mereka untuk duduk, mendengar, dan siap dikritik secara terbuka. Di sinilah masyarakat memiliki kesempatan emas untuk menuntut akuntabilitas publik atas segala janji dan program kerja pemerintah secara langsung.</p>

<p>Ketika ruang ini ditutup paksa, maka kesempatan warga negara untuk mendapatkan transparansi informasi atas keresahan mereka ikut terkubur. Pembubaran diskusi ini, dengan kata lain, adalah bentuk sensor sepihak yang sangat merugikan kepentingan masyarakat luas.</p>

<p>Dalam tradisi masyarakat sipil yang sehat, ketidaksetujuan terhadap satu pandangan politik tidak bisa dan tidak akan pernah bisa dijadikan justifikasi untuk membungkam pendapat orang lain. Jawaban atas ketidaksetujuan adalah argumen yang lebih kuat, data yang lebih valid, dan narasi yang lebih solutif.</p>

<p>Saya tertarik untuk menganalisis perilaku para pelaku pembubaran ini menggunakan kacamata Teori Kritis Mazhab Frankfurt karena melihat ada sebuah ironi yang mendalam.</p>

<p>Fenomena penolakan dialog ini merefleksikan apa yang disebut oleh para pemikir kritis yang dipengaruhi pandangan Marx Muda sebagai false consciousness atau kesadaran palsu. Dalam perspektif struktural-kritis, kesadaran palsu bermakna sebuah kondisi di mana agen sosial mengadopsi keyakinan, ideologi, dan orientasi tindakan yang secara fundamental bertentangan dengan kepentingan objektif mereka sendiri.</p>

<p>Para pembubar diskusi di UGM ini merasa sedang mengobarkan api perlawanan emansipatoris. Sayangnya, mereka justru sedang mereproduksi represi totalitarian yang justru melanggengkan dominasi.</p>

<p>Para pemikir Mazhab Frankfurt mengingatkan bagaimana masyarakat modern sering kali mengalami penjinakan nalar melalui kepuasan semu, yang dalam konteks gerakan ini mewujud sebagai kepuasaan yang menyimpang. Mereka mengalami mistifikasi ideologis dan mengira pembungkaman mimbar akademik adalah sebuah heroisme politik. Padahal itu adalah bentuk pengkerutan nalar menjadi satu dimensi yang absolut dan anti-pluralitas.</p>

<p>Teori Kritis Mazhab Frankfurt mengingatkan bahwa rasionalitas yang melompat keluar dari koridor etisnya dapat berbalik arah menjadi mitos baru yang destruktif. Ketika mahasiswa menggunakan represi fisik untuk memadamkan argumen, kekritisan mereka telah mengalami komodifikasi di mana idealisme berubah menjadi sekadar barangdagangan. Mereka mengalami pembusukan internal di mana apa yang mereka anggap sebagai idealisme berubah menjadi sebuah dogma buta, di mana insting kekerasan mengalahkan kapasitas reflektif.</p>

<p>Jika kita menggunakan pandangan Jrgen Habermas mengenai agora atau ruang publik, kita semakin miris. Institusi akademik, termasuk mahasiswa di dalamnya, adalah laboratorium utama bagi berlangsungnya tindakan komunikatif yang bebas dari dominasi (domination-free communication). Dengan merusak ruang dialog melalui tindakan anarkis, para pelaku pembubaran justru telah menghancurkan instrumen pembebasan mereka sendiri demi memuaskan kesadaran semu yang destruktif.</p>

<p>Mereka bertindak anarkis atas nama idealisme, tetapi tindakan itu sendiri lahir dari kegagalan membaca realitas secara kritis. Mereka telah terkooptasi oleh kebencian buta yang dikemas sebagai sikap kritis, yang pada akhirnya membuat mereka bertindak anti-akademik di dalam rumah akademik.</p>

<p>UGM adalah rahim dari banyak pemikiran besar di Republik ini yang dibentuk oleh perdebatan argumen, bukan perdebatan otot. Jangan sampai kesadaran palsu yang diadopsi oleh segelintir sekelompok mahasiswa ini merusak wajah pendidikan tinggi kita dan membunuh nalar kritis generasi muda. []</p>
]]></description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://www.zonaterbang.id/assets/images/news/2026/06/20260616113301_thumb.jpg" /></item>
<item><title>Gila atau Waras </title><category>Jaya Suprana</category><link>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/16/4710/Gila-atau-Waras-</link><guid>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/16/4710/Gila-atau-Waras-</guid><pubDate>Tue, 16 Jun 2026 17:00:00 +0700</pubDate><description><![CDATA[<p style="text-align:center"><span style="color:#A9A9A9"><span style="font-size:28px">Konsep gila telah ada sejak zaman kuno, dengan berbagai definisi dan penjelasan.</span></span></p>

<blockquote>
<p>Oleh:<strong> Jaya Suprana</strong>, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan</p>
</blockquote>

<p>GILA atau waras adalah konsep maka nisbi sebab dapat berbeda-beda tergantung pada konteks budaya, sosial, dan medis. Secara umum, gila atau tidak gila dapat didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk berpikir, merasa, dan berperilaku secara rasional dan adaptif dalam lingkungan sekitarnya.</p>

<p>Konsep gila telah ada sejak zaman kuno, dengan berbagai definisi dan penjelasan. Pada zaman kuno, gila dianggap sebagai hukuman dari dewa atau akibat dari kekuatan supernatural. Pada abad ke-19, konsep gila mulai didefinisikan secara medis dan psikologis, dengan penekanan pada gangguan mental dan perilaku.</p>

<p>Mengukur dan memastikan gila atau waras dapat dilakukan melalui beberapa cara:</p>

<ol>
	<li>Diagnosis Psikiatri: Dokter psikiatri menggunakan kriteria diagnosis dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) untuk menentukan apakah seseorang memiliki gangguan mental atau tidak. Mirip tes gula darah untuk menentukan diabetes atau tidak dan jika diabetes lalu jenis apa.</li>
	<li>Tes Psikologis: Tes psikologis seperti tes IQ, tes kepribadian, noda tinta Rohrschach, tes neuropsikologis dapat membantu mengidentifikasi gangguan mental atau kognitif.</li>
	<li>Observasi Perilaku: Observasi perilaku seseorang dalam lingkungan sekitarnya dapat membantu mengidentifikasi pola perilaku yang tidak normal alias beda dari standard norma.</li>
	<li>Wawancara Klinis: Wawancara klinis dengan dokter psikiatri atau psikolog dapat membantu mengidentifikasi gejala-gejala gangguan mental.</li>
</ol>

<p>Pada usia lanjut Carl Gustav Jung dianggap gila oleh beberapa orang akibat minatnya yang semakin besar pada alam gaib, paranormal, okultisme, dan pseudosains. Namun, perlu diingat bahwa Jung adalah seorang psikiater dan psikolog yang sangat berpengaruh, dan karyanya masih dipelajari dan dihargai oleh banyak orang.</p>

<p>Jung sendiri mengakui bahwa minatnya pada alam gaib dan paranormal mulai berkembang setelah ia mengalami beberapa pengalaman pribadi yang tidak biasa, termasuk mimpi dan visi yang sangat meyakinkan. Ia percaya bahwa pengalaman-pengalaman ini dapat memberikan wawasan tentang alam bawah sadar dan proses individuasi.</p>

<p>Beberapa karya Jung yang dianggap kontroversial, seperti The Red Book dan Memories, Dreams, Reflections, menunjukkan minatnya pada alam gaib dan paranormal. Namun, perlu diingat bahwa Jung sendiri tidak pernah mengklaim bahwa karyanya adalah sains atau bahwa ia memiliki kemampuan paranormal.</p>

<p>Gagasan baru kerap dianggap gila semisal Columbus berlayar ke arah Barat demi mencari India, Kafka dan Joice menggagas konsep sastra baru, Einstein dengan teori nisbinya, Wittgenstein dengan pendekatan holistik-praktis terhadap bahasa, dodekafoni Schoenberg, kubisme Picasso, Jepang dengan proyek piramida Shimizu Mega City, prakarsa Jokowi mermbangun IKN, gagasan saya mendirikan MURI, mempergelar wayang orang di Sydney Opera House, resital pianoforte dan komposisi diri sendiri di Carnegie Hall, Jamu goes to UNESCO, Kelirumologi, Kedaulatan Filsafat Indonesia.</p>

<p>Saya kerap meragukan kewarasan diri saya sendiri akibat setiap hari memaksakan diri menulis minimal satu naskah dengan tema saling beda.</p>

<p>Ada beberapa kesamaan antara kegilaan dan pemikiran quantum yang dapat membuat kita mempertanyakan batas antara keduanya.</p>

<p>Kesamaan antara kegilaan dan pemikiran quantum</p>

<ol>
	<li>Tidak linear: Pemikiran quantum dan kegilaan seringkali tidak linear, tidak logis, dan tidak dapat diprediksi karena loncat-loncat ke sana-sini.</li>
	<li>Melanggar norma: Pemikiran quantum dan kegilaan seringkali melanggar norma-norma yang ada, sehingga terkesan absurd atau tidak masuk akal.</li>
	<li>Mengubah perspektif: Pemikiran quantum dan kegilaan dapat mengubah perspektif kita tentang realitas, sehingga kita melihat dunia dengan cara yang berbeda.</li>
	<li>Tidak pasti: Pemikiran quantum dan kegilaan seringkali tidak pasti, sehingga kita tidak dapat memprediksi hasilnya.</li>
</ol>

<p>Beberapa contoh antara lain :</p>

<ol>
	<li>Albert Einstein: Einstein adalah contoh seorang ilmuwan yang memiliki pemikiran quantum yang revolusioner, tetapi juga dianggap gila oleh beberapa orang pada saatnya.</li>
	<li>Niels Bohr: Bohr adalah contoh lain dari ilmuwan yang memiliki pemikiran quantum yang inovatif, tetapi juga dikenal karena kegilaan sepak terjang.</li>
	<li>Edwin Schroedinger: Eksperimen pemikiran Schrdinger dengan kucingnya adalah contoh dari pemikiran quantum yang terkesan gila, tetapi sangat penting dalam ikhtiar memahami prinsip-prinsip quantum.</li>
</ol>

<p>Meskipun ada kesamaan antara kegilaan dan pemikiran quantum, bukan berarti kegilaan secara langsung terkait dengan kemampuan untuk memahami quantum. Namun, kegilaan dapat membantu kita untuk berpikir di luar kotak, melanggar norma-norma baku, mencairkan pendapat beku dan melihat dunia dengan cara yang berbeda demi membantu kita memahami konsep-konsep quantum maupun apapun yang kompleks serta liar berkeliaran di alam semesta. []</p>
]]></description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://www.zonaterbang.id/assets/images/news/2026/06/20260617020420_thumb.jpg" /></item>
<item><title> Diduga Bagian dari “Armada Bayangan”, Inggris Tangkap Tanker Rusia  </title><category>Militer</category><link>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/16/4699/-Diduga-Bagian-dari-“Armada-Bayangan”,-Inggris-Tangkap-Tanker-Rusia--</link><guid>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/16/4699/-Diduga-Bagian-dari-“Armada-Bayangan”,-Inggris-Tangkap-Tanker-Rusia--</guid><pubDate>Tue, 16 Jun 2026 13:33:46 +0700</pubDate><description><![CDATA[<p><strong>ZT.</strong> Angkatan Bersenjata Inggris bersama badan penegak hukum setempat berhasil melakukan operasi penyergapan dan penyitaan berskala besar terhadap kapal tanker minyak sepanjang 244 meter, Smyrtos, di lepas pantai selatan Inggris. Operasi gabungan yang berlangsung pada Minggu, 14 Juni 2026, ini melibatkan kekuatan penuh dari Royal Navy, Royal Marines, Royal Air Force (RAF), serta National Crime Agency (NCA).</p>

<p>Langkah tegas ini menandai untuk pertama kalinya Inggris memimpin langsung operasi penyitaan terhadap kapal tanker yang diduga kuat sebagai bagian dari armada bayangan (shadow fleet) Rusia. Melalui operasi interdiksi maritim ini, Inggris resmi menyusul jejak sejumlah negara sekutu NATO lainnya yang telah lebih dulu mengambil tindakan serupa di perairan internasional.</p>

<p>Penyergapan taktis ini mengerahkan berbagai aset militer mutakhir milik Inggris. Pasukan elite Royal Marine Commandos dan petugas penegak hukum sipil spesialis dikerahkan ke lokasi dengan dukungan helikopter Merlin, Wildcat, dan Chinook, pesawat patroli maritim P-8 Poseidon, serta dua kapal perang Royal Navy, yaitu HMS Sutherland dan HMS Ledbury.</p>

<p>Kapal tanker Smyrtos sendiri diketahui berlayar dengan mengibarkan bendera Kamerun palsu dan telah angkat jangkar dari pelabuhan Rusia di wilayah Baltik sejak 5 Juni 2026. Berdasarkan rekam jejaknya, kapal ini sebenarnya telah masuk ke dalam daftar hitam manifes kapal sanksi pemerintah Inggris sejak Juli tahun lalu karena dinilai membantu sekutu Rusia.</p>

<p>Tindakan hukum di tengah laut ini memiliki landasan legal yang kuat setelah Perdana Menteri Inggris, Sir Keir Starmer, memberikan lampu hijau pada Maret lalu. Berdasarkan Pasal 110 UNCLOS, kapal perang memiliki hak untuk melakukan pemeriksaan demi memverifikasi bendera jika ada dugaan kapal tersebut tidak memiliki kebangsaan resmi, sehingga hukum domestik Inggris dapat ditegakkan.</p>

<p>Saat ini, kapal Smyrtos telah digiring dan bersandar di kawasan Portland, Dorset, sementara masa depan jangka panjang kapal tersebut masih dalam proses pembahasan otoritas terkait. Pemerintah Inggris memastikan bahwa kapal tanker berukuran raksasa ini akan terus dipantau secara ketat demi alasan keselamatan lingkungan dan keamanan maritim.</p>

<p>Pemilihan lokasi penyergapan di Selat Inggris ini secara langsung menguji kesiapan tempur dan kapabilitas raid maritim Inggris. Selain helikopter angkatan laut yang beroperasi dari pangkalan RNAS Yeovilton di Somerset, pasukan elite Special Boat Service (SBS) yang bermarkas di Poole juga dilaporkan berada dalam posisi siaga penuh selama operasi berlangsung.</p>

<p>Unit 42 Commando dari Barak Bickleigh, Plymouth, dikonfirmasi memegang peran utama dalam aksi penyerbuan ke atas dek kapal. Pasukan ini baru saja divalidasi sebagai bagian dari Special Operations Maritime Task Group yang baru pada Februari 2026, menjadikannya ujung tombak andalan Inggris dalam menghadapi ancaman taktis di laut.</p>

<p>Fenomena shadow fleet Rusia sendiri merujuk pada armada kapal dagang yang kerap berganti bendera, memalsukan identitas, atau mematikan sistem navigasi AIS demi menghindari sanksi internasional saat mendistribusikan minyak ke negara-negara sekutunya. Sebelum operasi ini, Inggris juga sempat membantu Prancis menyita tanker Tagor di lepas pantai Brittany awal bulan ini.</p>

<p>Operasi penyitaan Smyrtos ini sekaligus menjadi debut publik bagi UK Commando Force (UKCF) di bawah nama barunya setelah bertransformasi dari 3 Commando Brigade. Operasi besar ini juga menjadi pencapaian perdana bagi Menteri Pertahanan Inggris yang baru, Dan Jarvis, yang baru saja ditunjuk menggantikan John Healey pada 11 Juni kemarin. []</p>
]]></description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://www.zonaterbang.id/assets/images/news/2026/06/20260616013603_thumb.jpg" /></item>
<item><title>Pertarungan Besar yang Gagal Dijelaskan kepada Rakyat</title><category>Nasional</category><link>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/16/4698/Pertarungan-Besar-yang-Gagal-Dijelaskan-kepada-Rakyat</link><guid>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/16/4698/Pertarungan-Besar-yang-Gagal-Dijelaskan-kepada-Rakyat</guid><pubDate>Tue, 16 Jun 2026 13:04:50 +0700</pubDate><description><![CDATA[<p style="text-align: center;"><span style="font-size:28px"><span style="color:#A9A9A9">Kelompok-kelompok ini tidak hanya memiliki kekuatan modal yang besar, tetapi juga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap arah kebijakan dan kehidupan politik nasional.</span></span></p>

<blockquote>
<p>Oleh:<strong> Agung Nugroho</strong>, Direktur Jakarta Institute</p>
</blockquote>

<p>SALAH satu kelemahan terbesar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto saat ini mungkin bukan terletak pada keberanian mengambil kebijakan, melainkan pada kemampuan menjelaskan kebijakan tersebut kepada rakyat. Banyak langkah pemerintah yang memunculkan perdebatan dan kontroversi, tetapi masyarakat sering kali tidak mendapatkan penjelasan yang utuh mengenai tujuan, arah, dan konteks besar di balik kebijakan-kebijakan tersebut.</p>

<p>Akibatnya, ruang publik lebih banyak dipenuhi polemik daripada pemahaman. Publik disuguhi potongan-potongan peristiwa tanpa memperoleh gambaran menyeluruh tentang apa yang sebenarnya sedang dikerjakan pemerintah dan mengapa kebijakan tersebut dianggap penting bagi masa depan bangsa.</p>

<p>Padahal, jika dicermati lebih dalam, tantangan terbesar yang dihadapi Presiden saat ini bukan berasal dari oposisi politik formal. Tantangan yang jauh lebih besar justru datang dari kelompok-kelompok ekonomi yang selama puluhan tahun menikmati keuntungan dari struktur ekonomi yang telah mapan. Kelompok-kelompok ini tidak hanya memiliki kekuatan modal yang besar, tetapi juga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap arah kebijakan dan kehidupan politik nasional.</p>

<p>Dalam kajian ekonomi politik, kelompok semacam ini sering disebut sebagai oligarki. Istilah tersebut bukan sekadar merujuk pada orang-orang kaya, melainkan pada situasi ketika kekuatan ekonomi terkonsentrasi pada segelintir elite yang kemudian memiliki kemampuan untuk memengaruhi berbagai keputusan strategis negara demi menjaga dan memperluas kepentingannya.</p>

<p>Ketika kekayaan dan akses terhadap sumber daya ekonomi terkumpul pada kelompok yang sangat terbatas, maka perubahan kebijakan yang berpotensi mengurangi keuntungan mereka hampir selalu menghadapi perlawanan. Fenomena ini bukan sesuatu yang unik di Indonesia. Sejarah di berbagai negara menunjukkan pola yang sama. Setiap upaya negara untuk memperkuat kontrol atas sumber daya strategis, memperbaiki distribusi manfaat ekonomi, atau membatasi privilese kelompok tertentu hampir selalu diikuti oleh resistensi dari pihak-pihak yang merasa kepentingannya terganggu.</p>

<p>Perlawanan tersebut tidak selalu muncul dalam bentuk konfrontasi terbuka. Ia dapat hadir melalui tekanan politik, pembentukan opini publik, kampanye media, hingga berbagai manuver yang bertujuan mempertahankan keadaan yang selama ini menguntungkan kelompok tertentu. Semakin besar kepentingan yang terganggu, semakin besar pula energi yang dikeluarkan untuk mempertahankannya.</p>

<p>Karena itu, jika berbagai kebijakan pemerintah memang dimaksudkan untuk memperkuat posisi negara, memperbaiki tata kelola ekonomi, menutup kebocoran anggaran, meningkatkan penerimaan negara, serta mengurangi dominasi kelompok-kelompok ekonomi tertentu atas sumber daya strategis nasional, maka resistensi yang muncul dapat dipahami sebagai konsekuensi politik dari perubahan tersebut.</p>

<p>Namun dalam setiap agenda perubahan besar, pertarungan tidak hanya terjadi pada tingkat kebijakan. Pertarungan juga terjadi pada tingkat persepsi. Kelompok yang merasa dirugikan oleh perubahan biasanya akan berupaya membangun narasi bahwa perubahan tersebut tidak diperlukan, tidak efektif, atau bahkan merugikan rakyat. Karena itu, keberhasilan sebuah agenda reformasi tidak hanya ditentukan oleh kualitas kebijakan, tetapi juga oleh kemampuan menjelaskan tujuan dan manfaat perubahan kepada masyarakat.</p>

<p>Persoalan besar muncul ketika narasi mengenai pertarungan ekonomi politik yang sedang berlangsung hampir tidak pernah dijelaskan secara utuh kepada rakyat. Masyarakat melihat berbagai kebijakan yang diambil pemerintah, tetapi tidak selalu memahami konteks yang melatarbelakanginya.</p>

<p>Mereka menyaksikan kontroversi yang muncul di ruang publik, namun tidak memperoleh penjelasan yang memadai mengenai kepentingan apa yang sebenarnya sedang bertarung di balik kontroversi tersebut. Akibatnya, publik lebih banyak terjebak dalam perdebatan mengenai dampak jangka pendek suatu kebijakan tanpa memahami tujuan strategis yang ingin dicapai dalam jangka panjang.</p>

<p>Di sinilah letak kelemahan mendasar tim komunikasi politik Presiden. Mereka belum mampu membangun pemahaman publik mengenai gambaran besar perubahan yang sedang dijalankan pemerintah.</p>

<p>Alih-alih menjelaskan hubungan antara berbagai kebijakan yang diambil negara dengan agenda memperkuat kedaulatan ekonomi nasional, tim komunikasi justru lebih sering tampil reaktif terhadap isu-isu yang berkembang dari hari ke hari. Akibatnya, masyarakat kesulitan memahami hubungan antara satu kebijakan dengan kebijakan lainnya.</p>

<p>Yang terlihat hanyalah rangkaian kontroversi yang berdiri sendiri-sendiri, bukan sebuah agenda perubahan yang saling terhubung dan memiliki tujuan yang jelas.</p>

<p>Yang lebih memprihatinkan, pertarungan narasi di ruang publik seolah diserahkan kepada relawan dan buzzer pendukung pemerintah. Ketika kritik muncul, yang paling aktif memberikan respons justru para pendukung di media sosial, sementara institusi komunikasi resmi pemerintah sering kali tidak hadir dengan penjelasan yang memadai.</p>

<p>Padahal, relawan maupun buzzer bukanlah instrumen komunikasi negara. Mereka tidak memiliki akses penuh terhadap data, pertimbangan kebijakan, maupun strategi pemerintahan secara keseluruhan. Akibatnya, ruang publik lebih sering dipenuhi perdebatan emosional dan saling serang daripada diskusi yang mampu meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai arah kebijakan negara.</p>

<p>Situasi ini sesungguhnya sangat merugikan pemerintah sendiri. Dalam politik modern, kebijakan yang baik tidak cukup hanya dijalankan. Kebijakan tersebut juga harus mampu dipahami oleh rakyat. Dukungan publik tidak lahir semata-mata dari hasil kebijakan, tetapi juga dari pemahaman mengenai alasan dan tujuan kebijakan tersebut.</p>

<p>Rakyat berhak mengetahui mengapa sebuah kebijakan diambil, siapa yang diuntungkan, siapa yang merasa dirugikan, dan apa dampaknya bagi masa depan bangsa. Tanpa penjelasan yang memadai, masyarakat akan mengisi kekosongan informasi dengan asumsi, spekulasi, atau narasi yang dibangun oleh pihak-pihak lain yang memiliki kepentingan tertentu.</p>

<p>Tentu saja tidak semua kritik terhadap pemerintah dapat dikaitkan dengan kepentingan oligarki. Kritik merupakan bagian penting dari kehidupan demokrasi yang sehat dan harus dihormati. Namun, demokrasi yang sehat juga menuntut kemampuan untuk memahami bahwa tidak semua perlawanan terhadap perubahan lahir dari kepentingan publik. Sebagian dapat saja muncul dari kelompok-kelompok yang merasa kehilangan privilese ekonomi yang selama ini mereka nikmati.</p>

<p>Karena itu, jika pemerintah memang sedang menjalankan agenda perubahan yang bertujuan memperkuat posisi negara dan memperbaiki struktur ekonomi nasional, maka munculnya resistensi merupakan sesuatu yang dapat dipahami. Persoalannya bukan lagi apakah perlawanan itu ada atau tidak, melainkan apakah pemerintah mampu menjelaskan kepada rakyat mengapa perlawanan tersebut muncul dan apa yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan dalam proses perubahan itu.</p>

<p>Pada titik inilah peran tim komunikasi politik menjadi sangat penting. Mereka seharusnya menjadi jembatan antara agenda perubahan pemerintah dan pemahaman rakyat. Mereka harus mampu menerjemahkan bahasa kebijakan yang rumit menjadi narasi yang sederhana, mudah dipahami, dan relevan dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Sayangnya, fungsi tersebut hingga kini belum terlihat berjalan secara optimal.</p>

<p>Akibatnya, pemerintah berisiko kehilangan dukungan publik bukan karena kebijakannya keliru, melainkan karena masyarakat tidak memahami apa yang sebenarnya sedang diperjuangkan.</p>

<p>Sejarah menunjukkan bahwa banyak agenda perubahan gagal bukan karena kekurangan keberanian politik, melainkan karena kegagalan membangun kesadaran publik. Jika pemerintah meyakini bahwa Indonesia sedang menghadapi persoalan struktural berupa konsentrasi kekuatan ekonomi, kebocoran sumber daya negara, dan berbagai hambatan yang menghalangi terwujudnya keadilan ekonomi, maka membangun pemahaman publik bukanlah pekerjaan tambahan. Ia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari strategi perubahan itu sendiri.</p>

<p>Sebab pada akhirnya, perubahan besar tidak hanya membutuhkan kekuasaan untuk bertindak. Perubahan juga membutuhkan kemampuan menjelaskan kepada rakyat mengapa tindakan tersebut perlu dilakukan, siapa yang sedang dihadapi, dan masa depan seperti apa yang sedang diperjuangkan. Tanpa itu semua, pertarungan besar yang sedang berlangsung akan terus gagal dipahami oleh rakyat yang seharusnya menjadi kekuatan utama bagi perubahan tersebut. []</p>
]]></description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://www.zonaterbang.id/assets/images/news/2026/06/20260616010851_thumb.jpg" /></item>
<item><title>Pesawat Pengebom B-52 Stratofortress Jatuh Setelah Lepas Landas</title><category></category><link>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/16/4696/Pesawat-Pengebom-B-52-Stratofortress-Jatuh-Setelah-Lepas-Landas</link><guid>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/16/4696/Pesawat-Pengebom-B-52-Stratofortress-Jatuh-Setelah-Lepas-Landas</guid><pubDate>Tue, 16 Jun 2026 10:59:41 +0700</pubDate><description><![CDATA[<p><strong>ZT. </strong>Sebuah insiden tragis mengguncang dunia penerbangan militer Amerika Serikat ketika sebuah pesawat pengebom strategis jenis B-52H Stratofortress milik Angkatan Udara AS (USAF) dilaporkan jatuh. Peristiwa nahas ini terjadi sesaat setelah pesawat lepas landas di Pangkalan Angkatan Udara Edwards (Edwards AFB) yang terletak di California. Berita mengenai kecelakaan ini langsung menyebar luas setelah beberapa gambar dan video amatir beredar di media sosial.</p>

<p>Pihak otoritas Pangkalan Angkatan Udara Edwards segera mengonfirmasi kebenaran insiden tersebut melalui saluran komunikasi resmi mereka. Berdasarkan pernyataan awal, kecelakaan itu terjadi pada tanggal 15 Juni 2026, sekitar pukul 11:20 waktu setempat. Tidak lama setelah benturan keras terjadi, kepulan asap hitam yang sangat tebal terlihat membubung tinggi ke langit, bahkan dapat disaksikan dengan jelas oleh warga dari jarak yang cukup jauh.</p>

<p>Kandungan bahan bakar yang sangat besar di dalam tangki pesawat diduga kuat menjadi pemicu dahsyatnya kobaran api dan kepekatan asap di lokasi kejadian. Sebagai informasi, pesawat pengebom raksasa jenis B-52H memiliki kapasitas bahan bakar maksimal yang mencapai 312.197 pon atau sekitar 141.610 kilogram untuk mendukung misi penerbangan jarak jauh. Jumlah bahan bakar yang penuh saat lepas landas membuat kebakaran yang terjadi di area jatuhnya pesawat menjadi sangat hebat.</p>

<p>Informasi mengenai kecelakaan ini pertama kali mencuat ke publik melalui unggahan di halaman Facebook populer Air Force amn/nco/snco, yang kerap membagikan informasi seputar dunia militer. Meskipun belum ada konfirmasi resmi mengenai identitas fisik pesawat, halaman tersebut mengklaim bahwa pesawat yang mengalami musibah adalah B-52 dengan nomor ekor 60-0061. Pesawat khusus ini diketahui tengah digunakan secara aktif oleh militer untuk menguji sistem radar canggih terbaru, AESA.</p>

<p>Dalam perkembangan terbaru yang dirilis oleh pihak Edwards AFB, diketahui bahwa pesawat pengebom tersebut sedang terbang dengan membawa delapan orang personel di dalamnya. Jumlah ini tergolong lebih banyak daripada biasanya, mengingat kru standar untuk pengoperasian B-52 normalnya hanya terdiri dari lima orang. Penambahan personel ini diduga terkait dengan sifat penerbangan yang merupakan bagian dari uji coba sistem di bawah skuadron penguji.</p>

<p>Situasi di lokasi kejadian saat ini dilaporkan sangat memprihatinkan. Pihak pangkalan militer menyatakan bahwa indikasi awal menunjukkan kecelakaan ini kemungkinan besar tidak menyisakan korban selamat akibat kedahsyatan benturan dan kebakaran yang terjadi. Tim penyelamat dan petugas pemadam kebakaran darurat masih terus bekerja keras di lapangan untuk menyisir puing-puing dan memastikan kondisi seluruh personel yang berada di dalam manifes penerbangan tersebut.</p>

<p>Sejumlah media berita lokal kini telah merilis foto-foto udara yang memperlihatkan kondisi lokasi jatuhnya pesawat. Dari gambar-gambar yang beredar, tampak serpihan dan puing-puing pesawat B-52 hancur berserakan di sekitar landasan pacu. Beberapa kendaraan darurat dan pemadam kebakaran terlihat bergerak cepat mengepung titik api utama guna memadamkan sisa-sisa kebakaran yang masih menyala.</p>

<p>Demi kelancaran proses evakuasi dan pengamanan area, otoritas militer memutuskan untuk menutup total Pangkalan Udara Edwards untuk sementara waktu. Seluruh jadwal penerbangan yang menuju ke pangkalan tersebut terpaksa dialihkan ke lokasi pangkalan udara alternatif terdekat. Langkah tegas ini diambil agar seluruh fasilitas instalasi militer dapat fokus sepenuhnya pada operasi penanggulangan darurat dan mitigasi bahaya.</p>

<p>Kecelakaan hebat ini tercatat sebagai peristiwa jatuhnya pesawat pengebom B-52 yang pertama dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Insiden serupa berskala besar sebelumnya terjadi pada tanggal 19 Mei 2016 di Pangkalan Angkatan Udara Andersen, Guam. Pada waktu itu, sebuah B-52H dengan nomor ekor 60-0047 gagal melakukan lepas landas dan terbakar hebat setelah keluar dari ujung landasan pacu, meskipun beruntung seluruh tujuh kru di dalamnya berhasil menyelamatkan diri.</p>

<p>Terkait insiden terbaru di California ini, Angkatan Udara Amerika Serikat menyatakan telah meluncurkan tim investigasi khusus untuk menyelidiki penyebab pasti jatuhnya pesawat. Hingga saat ini, kronologi detail mengenai kegagalan fungsi pesawat sesaat setelah mengudara tersebut masih belum diketahui secara pasti. Pihak berwenang berjanji akan terus memberikan pembaruan informasi secara berkala seiring berjalannya proses penyelidikan di lapangan. []</p>
]]></description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://www.zonaterbang.id/assets/images/news/2026/06/20260616110259_thumb.jpg" /></item>
<item><title>Alhamdulillah, Eksternal Mereda dan Sentimen Pasar Membaik</title><category>AviaNews</category><link>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/16/4695/Alhamdulillah,-Eksternal-Mereda-dan-Sentimen-Pasar-Membaik</link><guid>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/16/4695/Alhamdulillah,-Eksternal-Mereda-dan-Sentimen-Pasar-Membaik</guid><pubDate>Tue, 16 Jun 2026 10:51:53 +0700</pubDate><description><![CDATA[<p style="text-align:center"><span style="color:#A9A9A9"><span style="font-size:28px">Hampir semua negara yang sistem pajaknya baik, sistem demokrasinya juga baik.</span></span></p>

<blockquote>
<p>Oleh: <strong>Prof. Didik J Rachbini</strong>, Ekonom Senior Indef dan Rektor Universitas Paramadina</p>
</blockquote>

<p>PRESIDEN SBY beberapa waktu lalu turun gunung mengingatkan perlunya disiplin fiskal. Biasanya beliau hanya melukis dan kunjungan ke daearah-daerah dengan pemandangan indah. Tetapi dengan perkembangan baru harga minyak turun karena faktor eksternal ekspektasi damai akan terwujud, maka indikator-indikator ekonomi, seperti nilai tukar dan harga saham terus membaik.</p>

<p>Alhamdulillah ada good news untuk kita semua, begitu rasa syukur yang disampaikan Presiden SBY di media twitternya, yang memiliki 8 juta followers, lalu disiapkan oleh media publik beberapa hari yang lalu. Bahkan SBY menyampaikan terbuka terima kasih kepada presiden Prabowo dan mengapresiasi gerak cepat pemerintah dan Bank Indonesia (BI) dalam menstabilkan situasi ekonomi nasional. SBY menilai intervensi dari otoritas keuangan berhasil membuat pasar saham dan Rupiah menguat kembali.</p>

<p>Ada berita baik harga minyak Brent terus menurun. Harga minyak pada puncak krisis perang mencapai 120 dollas AS per barrel dan kini sudah turun lagi sekitar 4 persen menjadi 80 dollar AS per barrel. Harga minyak Brent ini menyentuh level terendah dalam dua bulan setelah AS dan Iran mencapai kesepakatan damai.</p>

<p>Pihak Trump sangat ingin berdamai sebab publik AS juga tertekan dengan kenaikan harga minyak tersebut. Pihak Trump ingin mengakhiri konflik Timur Tengah dalam rangka membuka kembali Selat Hormuz dan perang tidak memberikan efek apa-apa terhadap popularitas Trump. Penutupan selat ini menjadi biang kerok harga minyak naik tinggi sekali. Pasar minyak telah mendapat gangguan sangat serius sejak bulan Februari yang lalu kini diperkirakan ada harapan untuk pulih dan kembali normal.</p>

<p>Itu faktor luar negeri, lalu bagaimana faktor dalam negeri?</p>

<p>Kritik yang cukup keras dari berbagai pihak terhadap pemerintahan Prabowo adalah disiplin fiskal. Jika saya lihat dari laporan yang ada, dalam pandangan saya kondisi fiskal cukup baik dengan pendapatan dan pengeluaran masih dalam toleransi yang memadai, terutama dalam defisit yang terjadi sampai tengah tahun seakarang ini. Defisit fiskal sampai bulan Mei 2026 relatif terjaga pada angka 0,7 persen terhadap PDB. Mudah-mudahan ini terus terjaga sampai pada kuartal 2 yang akan datang. Pada kasus MBG, pemerintah sudah menurunkan total angaran tinggal 268 trilyun rupiah dan diperkirakan akan turun lagi karena pemerintah berjanji akan fokus pada daeran 3T. </p>

<p>Tidak hanya itu, defisit fiskal hampir satu semester ini bisa dijaga karena dari sisi pendapatan juga ada peningkatan penerimaan pajak dan non-pajak. Saya kira ini ada faktor sukses Cortex, yang berperan dalam hal ini. Sementara itu, pembiayaan fiskal sudah mencapai Rp379,4 triliun, setara dengan 55,1 persen dari target anggaran setahun penuh. Ini berarti ada penyediakan pendanaan yang cukup untuk mendukung pelaksanaan anggaran di sisa tahun ini.</p>

<p>Pembiayaan fiskal sangat penting karena menjadi penyangga rencana defisit APBN, yang ditargetkan presdien tidak boleh lebih dari 3 persen. Bahkan presiden menargetkan defisit lebih kecil dari 3 persen tetapi belum bisa disanggupi oleh Menteri Keuangan.</p>

<p>Pendapatan fiskal cukup baik meningkat sekitar 19 persen (YoY) sampai bulan Mei 2026. Nilai pendapatan fiskal tersebut sampai bulan Mei. 2026 tercatat sampai 1.185,0 triliun rupiah. Sumber utamanya adalah penerimaan pajak naik menjadi 22 persen (YoY) pada bulan Mei 2026 karena penerimaan pajak pertambahan nilai (PPN) meningkat signifikan sebesar 41 persen (YoY).</p>

<p>Selain itu, pendapatan non-pajak mencatatkan peningkatan yang signifikan sebesar 19,9 persen (YoY) pada bulan Mei 2026, terutama yang beasal dari sektor teknologi, informasi dan komunikasi.</p>

<p>Seperti kita ketahui, rasio pajak kita masih rendah dan sekarang kita mesti meningkatkannya agar setara dengan negara-negara lain setidaknya di lingkungan ASEAN. Dari penduduk yang besar, pajak dari sektor perdagangan naik sebesar 52 persen (YOY), lalu sektor pertambangan naik 38 persen (YOY) dan manufaktor meningkat sampai 20 persen (YOY). Jadi, pendapatan dari sektor-sektor tersebut (perdagangan, pertambangan dan manufaktur) merupakan penggerak utama pertumbuhan pendapatan pajak hampir satu semester ini.</p>

<p>Peningkatan pendapatan pajak didukung oleh pengumpulan pajak yang lebih baik dengan dukungan implementasi sistem Coretax perlu terus ditingkatkan. Rakyat membayar pajak dalam jumlah sangat besar kepada negara, yang harus diikuti oleh perwujudan demokasi secara substansial. Hampir semua negara yang sistem pajaknya baik, sistem demokrasinya juga baik.</p>

<p>Pada sisi belanja, pemerintah Prabowo memang cenderung menuju sosialisme dengan peran negara yang lebih besar. Program priorotas yang memang dicanangkan dalam kampanye adalah pangan dan energi. Berdasarkan sektor, pengeluaran terkait dengan ketahanan pangan meningkat sebesar 76 perssen (YoY), terutama alokasi untuk petani dan pangan rakyat dan untuk subsidi pupuk dan BULOG. Selain itu, ada pengeluaran bulanan untuk subsidi dan kompensasi melonjak sampai 208 persen (YoY).</p>

<p>Pencairan dana untuk program Makan Siang Bergizi Gratis (MBG), yang realisasinya telah mencapai Rp86,6 triliun. Ini yang menjadi target kritik dari berbagai pihak di dalam maupun di luar negeri. Saya kira pemerintah mendengar kritik tersebut dan sudah dikurangi. Tapi jika diperhatikan, selama hampir 1 semester program MBG baru menyerap 86,6 triyun sehingga semester berikutnya diperkirakan tidak akan jauh berbeda. Jadi akan ada penghematan dana MBG karena fokus ke daerah 3 T.</p>

<p>Jadi, dengan data-data faktual ini menurut saya kebijakan fiskal masih bisa dijaga dengan disiplin yang lebih baik. Beberapa catatan yang harus diperhatikan adalah dana daerah, perbaikan cortex dan masalah restitusi. Dengan demikia, persepsi pasar terhadap fiskal bisa lebih jujur dan obyektif sehingga nilai tukar dan saham menjadi lebih baik lagi ke depan, apalagi faktor eksternal juga mulai mereda.</p>

<p>Pasar modal dan nilai tukar negara tetangga tidak mengalami guncangan serius sehingga kita tidak harus menerima kenyataan pahit dari persepsi pasar yang negatif. Meskipun ada kecenderungan perbaikan dalam perkembangan ekonomi, tetapi nasihat SBY tetap penting disimak. Presiden SBY hadir di publik beberapa waktu terakhir ini dengan memberikan saran yakni terus menjaga kepercayaan pasar dan menjaga disiplin fiskal, serta kebijakan moneter yang sahih. Jika pasar melihat konsistensi kebijakan, tata kelola fiskal dan pemerintahan yang baik, dan komunikasi pemerintah yang kredibel, maka kepercayaan lambat laun akan pulih. []</p>
]]></description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://www.zonaterbang.id/assets/images/news/2026/06/20260616105319_thumb.jpg" /></item>
<item><title> Tragedi di Missouri: Pesawat Penerjun Payung Jatuh Setelah Lepas Landas, 12 Orang Tewas</title><category>AviaNews</category><link>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/16/4694/-Tragedi-di-Missouri:-Pesawat-Penerjun-Payung-Jatuh-Setelah-Lepas-Landas,-12-Orang-Tewas</link><guid>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/16/4694/-Tragedi-di-Missouri:-Pesawat-Penerjun-Payung-Jatuh-Setelah-Lepas-Landas,-12-Orang-Tewas</guid><pubDate>Tue, 16 Jun 2026 10:36:37 +0700</pubDate><description><![CDATA[<p><strong>ZT. </strong>Sebuah kecelakaan pesawat tragis terjadi di Missouri barat pada hari Minggu, 14 Juni 2026. Pesawat yang mengangkut rombongan penerjun payung tersebut jatuh sesaat setelah lepas landas dari Bandara Butler Memorial (BUM). Insiden maut ini mengakibatkan seluruh penumpang dan kru di dalamnya tewas di tempat.</p>

<p>Menurut laporan dari <em>AP News</em>, pesawat tersebut sedang mengoperasikan penerbangan rekreasi skydiving ketika kecelakaan terjadi di area sekitar bandara. Menanggapi laporan insiden mengerikan ini, jajaran otoritas lokal, negara bagian, hingga badan federal segera dikerahkan ke lokasi kejadian guna melakukan penanganan darurat.</p>

<p>Skala kecelakaan yang besar ini memicu respons darurat masif dari tim penyelamat setempat. Selain upaya evakuasi, insiden ini juga langsung memicu penyelidikan mendalam dari pejabat penerbangan federal. National Transportation Safety Board (NTSB) dan Federal Aviation Administration (FAA) kini tengah bekerja keras untuk mengungkap penyebab pasti di balik kecelakaan tersebut.</p>

<p>Berdasarkan keterangan pihak berwenang, pesawat nahas tersebut lepas landas dari Bandara Butler Memorial pada pukul 11.30 waktu setempat. Sejumlah saksi mata melaporkan bahwa mereka melihat pesawat mulai kehilangan kendali dan jatuh tidak lama setelah berhasil mengudara. Pihak bandara mengonfirmasi bahwa benturan keras terjadi hanya sekitar 300 yard dari ujung landasan pacu.</p>

<p>Pesawat yang terlibat dalam kecelakaan ini diidentifikasi sebagai Pacific Aerospace 750XL dengan nomor registrasi N221BN. Pesawat turboprop bermesin tunggal buatan Selandia Baru ini memang dirancang khusus memiliki performa lepas landas dan pendaratan pendek (STOL). Karakteristiknya yang mampu menampung kelompok penerjun dalam jumlah besar membuatnya sangat populer di kalangan operator skydiving komersial.</p>

<p>Data pelacakan penerbangan dari Flightradar24 menunjukkan bahwa pesawat tersebut sangat aktif dalam beberapa hari menjelang kecelakaan. Bahkan pada hari kejadian, pesawat itu sudah menyelesaikan dua penerbangan logistik serupa. Riwayat ini mencerminkan pola operasional bisnis skydiving pada umumnya, di mana satu pesawat melakukan penerbangan pendek berulang kali untuk mengantar para penerjun ke ketinggian sepanjang hari.</p>

<p>Petugas pemadam kebakaran dan aparat kepolisian yang tiba di lokasi segera berbagi tugas untuk mengamankan area. Tim pemadam kebakaran bergerak cepat memadamkan kobaran api yang membakar bangkai pesawat pasca-benturan, sementara polisi membatasi akses ke beberapa area bandara. Hal ini dilakukan guna menjaga integritas tempat kejadian perkara (TKP) agar tim penyidik dapat memeriksa puing-puing dengan cermat.</p>

<p>Otoritas setempat memastikan bahwa seluruh 12 orang di dalam pesawat, yang terdiri dari satu pilot dan 11 penumpang, dinyatakan meninggal dunia. Beruntung, tidak ada korban luka maupun korban jiwa dari masyarakat yang berada di darat saat pesawat tersebut jatuh menghantam bumi.</p>

<p>Proses identifikasi formal terhadap para korban dan pemberitahuan kepada pihak keluarga saat ini sedang berjalan. Pihak berwenang juga menyediakan layanan dukungan psikologis bagi kerabat korban dan komunitas lokal yang terguncang oleh tragedi ini. Situasi di lokasi dilaporkan sangat emosional, mengingat beberapa anggota keluarga korban diketahui berada di bandara saat kecelakaan itu terjadi.</p>

<p>Penerbangan maut ini diketahui terafiliasi dengan Skydive Kansas City, sebuah perusahaan skydiving komersial yang menggunakan Bandara Butler Memorial sebagai salah satu basis operasinya. Dalam pernyataan resminya, manajemen perusahaan menyampaikan rasa duka cita yang mendalam kepada semua pihak yang terdampak dan menegaskan bahwa mereka bersikap kooperatif penuh dalam membantu proses investigasi yang dipimpin oleh NTSB dan FAA. []</p>
]]></description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://www.zonaterbang.id/assets/images/news/2026/06/20260616103802_thumb.jpg" /></item>
<item><title> Pesawat Pengebom Strategis Tu-22M3 Rusia Jatuh di Wilayah Irkutsk, Seluruh Kru Dilaporkan Selamat</title><category>AviaNews</category><link>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/16/4697/-Pesawat-Pengebom-Strategis-Tu-22M3-Rusia-Jatuh-di-Wilayah-Irkutsk,-Seluruh-Kru-Dilaporkan-Selamat</link><guid>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/16/4697/-Pesawat-Pengebom-Strategis-Tu-22M3-Rusia-Jatuh-di-Wilayah-Irkutsk,-Seluruh-Kru-Dilaporkan-Selamat</guid><pubDate>Tue, 16 Jun 2026 09:20:00 +0700</pubDate><description><![CDATA[<p><strong>ZT. </strong>Sebuah pesawat pengebom strategis jenis Tupolev Tu-22M3 milik Angkatan Kerdgantaraan Rusia (RuAF) dilaporkan jatuh dalam sebuah insiden udara yang dramatis pada 15 Juni 2026. Detik-detik jatuhnya pesawat militer tersebut sempat terekam kamera warga dan videonya langsung beredar luas di berbagai platform media sosial. Rekaman video menunjukkan pesawat berbadan besar itu menukik tajam secara vertikal sebelum akhirnya menghilang di balik bukit dan menghantam daratan.</p>

<p>Sesaat setelah benturan keras terjadi, ledakan hebat memicu kemunculan asap hitam pekat yang membubung tinggi ke udara. Rekaman lanjutan yang diunggah oleh netizen memperlihatkan lokasi jatuhnya pesawat yang dipenuhi oleh puing-puing membara di sebuah area lapangan terbuka. Berdasarkan analisis geografis dari sejumlah akun pengamat militer, titik jatuhnya pesawat pengebom tersebut berhasil dilacak berada di kawasan Svirsk, yang masuk dalam wilayah administratif Irkutsk.</p>

<p>Kawasan Irkutsk sendiri dikenal sebagai lokasi strategis bagi militer Rusia karena menampung Pangkalan Udara Belaya. Pangkalan ini merupakan salah satu pangkalan operasional utama bagi armada pengebom Tu-22M3 serta menjadi markas bagi Resimen Penerbangan Pengebom Berat ke-200. Sebagai fasilitas militer vital, Pangkalan Belaya sebelumnya juga pernah menjadi target serangan drone besar-besaran oleh Ukraina dalam operasi bertajuk Operation Spiderweb pada Juni 2025 lalu.</p>

<p>Kementerian Pertahanan Rusia (RuMoD) melalui saluran Telegram resmi yang berafiliasi dengan Kremlin segera memberikan rilis terkait insiden ini. Berdasarkan keterangan resmi pemerintah dan kesaksian warga di lokasi kejadian, seluruh kru pilot dilaporkan berhasil mengaktifkan kursi lontar darurat tepat waktu dan dinyatakan selamat. Pihak kementerian juga menambahkan bahwa jet pengebom tersebut sedang melakukan penerbangan yang memang sudah dijadwalkan dalam rangka latihan rutin.</p>

<p>Melihat posisi pesawat yang menukik tajam sebelum menyentuh tanah, para ahli menduga bahwa gangguan teknis fatal telah terjadi saat pesawat masih berada di ketinggian yang cukup tinggi. Ketinggian ini memberikan waktu yang krusial bagi kru pesawat untuk mengarahkan pengebom menjauh dari zona pemukiman warga sebelum akhirnya memutuskan untuk melontarkan diri. Langkah ini berhasil meminimalkan risiko adanya korban jiwa dari masyarakat sipil di darat.</p>

<p>Pesawat Tu-22M3, yang oleh NATO diberi kode nama Backfire-C, merupakan varian paling canggih dari keluarga jet pengebom Tu-22 yang pertama kali mengudara pada tahun 1977 dan mulai bertugas secara resmi pada dekade 1980-an. Keunggulan varian ini terletak pada adopsi mesin NK-25 yang lebih bertenaga serta integrasi sistem navigasi dan serang canggih besutan Almaz PNA. Di era modern, pesawat ini menjadi tulang punggung kekuatan udara jarak jauh Moskow.</p>

<p>Dalam doktrin militer Rusia, Tu-22M3 merupakan satu dari tiga pilar utama armada pengebom strategis, bersanding dengan Tu-160 dan Tu-95. Berdasarkan data dari laporan World Air Forces 2026 yang mendata armada hingga Desember 2025, Rusia tercatat mengoperasikan 57 unit pesawat jenis ini. Dengan adanya kecelakaan terbaru di Irkutsk tersebut, jumlah armada aktif Tu-22M3 yang dimiliki Rusia kini berkurang menjadi 56 unit.</p>

<p>Kecelakaan ini menambah panjang daftar insiden yang menimpa armada Tu-22M3 setelah beberapa kecelakaan serupa juga dilaporkan terjadi pada tahun 2024 dan 2025. Rentetan peristiwa ini semakin mempertegas kekhawatiran global mengenai kesiapan operasional dan beban perawatan dari armada yang kian menua. Meskipun Rusia telah meluncurkan berbagai program modernisasi untuk memperpanjang masa pakai pesawat, rata-rata usia operasional dari armada pengebom ini kini telah melewati angka tiga dekade.</p>

<p>Sejak dimulainya invasi skala penuh ke Ukraina, Tu-22M3 memegang peranan yang sangat aktif dalam meluncurkan rudal jelajah jarak jauh seperti jenis Kh-22 dan Kh-32 ke berbagai wilayah Ukraina. Kemampuan pesawat ini untuk melakukan serangan dari jarak aman (standoff strikes) di dalam ruang udara Rusia menjadikannya salah satu komponen kunci dalam strategi ofensif jarak jauh Kremlin selama konflik berlangsung.</p>

<p>Sepanjang konflik tersebut, armada Tu-22M3 telah mengalami kerugian baik akibat pertempuran maupun insiden non-tempur. Pada April 2024, Ukraina mengklaim berhasil menembak jatuh satu unit Tu-22M3 di wilayah Stavropol menggunakan sistem pertahanan udara S-200 yang dimodifikasi. Selain itu, serangan drone Operation Spiderweb pada Juni 2025 dilaporkan merusak setidaknya empat unit Tu-22M3 di Pangkalan Belaya, melengkapi daftar penyusutan jet pengebom andalan Rusia ini di tengah ketegangan yang terus berlanjut. []</p>
]]></description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://www.zonaterbang.id/assets/images/news/2026/06/20260616112238_thumb.jpg" /></item>
<item><title>Laut Bukan Tong Sampah Republik: Catatan dari Likupang</title><category>Nasional</category><link>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/16/4693/Laut-Bukan-Tong-Sampah-Republik:-Catatan-dari-Likupang</link><guid>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/16/4693/Laut-Bukan-Tong-Sampah-Republik:-Catatan-dari-Likupang</guid><pubDate>Tue, 16 Jun 2026 08:12:09 +0700</pubDate><description><![CDATA[<p style="text-align: center;"><span style="color:#A9A9A9"><span style="font-size:28px">Likupang bukan destinasi biasa. Ia telah ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus dan masuk dalam jajaran destinasi pariwisata super prioritas</span></span></p>

<blockquote>
<p>Oleh: <strong>Abdullah Rasyid</strong>, Staf Khusus Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan dan Mahasiswa Doktoral Ilmu Pemerintahan IPDN</p>
</blockquote>

<p>ADA dua cara memandang Likupang. Pertama, sebagai pantai indah: pasir putih, air laut biru, bukit hijau, pulau-pulau kecil, dan cakrawala yang membuat orang ingin berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kota. Kedua, sebagai ujian besar: apakah Indonesia sanggup membangun pariwisata kelas dunia tanpa mengulang kesalahan lama, yakni membangun destinasi terlebih dahulu, lalu panik ketika sampah sudah lebih dulu menguasai pantainya.</p>

<p>Dalam kunjungan Studi Strategis Dalam Negeri Mahasiswa Doktoral Ilmu Pemerintahan IPDN ke Manado dan Minahasa Utara, Likupang tidak hanya hadir sebagai lanskap wisata. Ia hadir sebagai pertanyaan pemerintahan. Di hadapan laut yang tenang, kita justru diingatkan pada pekerjaan negara yang belum selesai: sampah, sanitasi, tata kelola pesisir, perilaku warga, kapasitas pemerintah daerah, dan keberlanjutan pariwisata nasional.</p>

<p>Likupang bukan destinasi biasa. Ia telah ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus dan masuk dalam jajaran destinasi pariwisata super prioritas. Artinya, Likupang bukan hanya milik Minahasa Utara. Ia menjadi wajah Indonesia. Ia menjadi etalase bagaimana negara membayangkan masa depan pariwisata: bukan sekadar banyak wisatawan, tetapi wisata yang bersih, sehat, produktif, berbudaya, dan berkelanjutan.</p>

<p>Namun, justru karena statusnya strategis, Likupang tidak boleh dibiarkan tumbuh dengan standar biasa. Tidak cukup jalan diperbaiki, promosi diperkuat, hotel dibangun, dan festival digelar. Pariwisata tidak hanya hidup dari foto yang indah. Pariwisata hidup dari pengalaman yang utuh. Wisatawan bisa datang karena pantai, tetapi mereka akan pulang membawa kesan tentang kebersihan, keramahan, keamanan, dan keteraturan.</p>

<p>Dalam pariwisata bahari, sampah bukan sekadar urusan estetika. Sampah adalah persoalan martabat.</p>

<p>Sampah plastik di pantai bukan hanya merusak pemandangan. Ia merusak karang, mengancam ikan, mengganggu nelayan, mencemari rantai makanan, menurunkan kualitas kesehatan, dan menghancurkan reputasi destinasi. Satu botol plastik yang mengapung di laut bisa lebih kuat merusak citra pariwisata daripada seribu baliho promosi yang dipasang di bandara.</p>

<p>Di sinilah kita perlu belajar dari Bunaken. Bunaken adalah ikon lama pariwisata Sulawesi Utara. Namanya sudah mendunia sebagai surga bawah laut. Para penyelam datang untuk melihat karang, ikan, dinding laut, dan kekayaan biodiversitas yang tidak mudah ditemukan di tempat lain. Tetapi Bunaken juga berkali-kali mengingatkan kita bahwa keindahan laut tidak kebal dari sampah.</p>

<p>Bunaken mengajarkan satu hal: sampah laut tidak mengenal batas administratif. Sampah yang mengotori kawasan wisata laut tidak selalu lahir di kawasan itu. Ia bisa datang dari sungai, drainase kota, pasar, permukiman, pelabuhan, kapal, kegiatan wisata, bahkan daerah lain yang terhubung oleh arus laut. Karena itu, menyelamatkan Bunaken tidak cukup dengan membersihkan pantai Bunaken. Menyelamatkan Bunaken harus dimulai dari Manado, dari sungai, dari pasar, dari rumah tangga, dari kapal wisata, dari pelabuhan, dan dari perilaku sehari-hari masyarakat pesisir.</p>

<p>Logika yang sama berlaku bagi Likupang. Jika Likupang ingin menjadi destinasi kelas dunia, maka pengelolaan sampahnya tidak boleh menunggu destinasi itu ramai lebih dulu. Kesalahan banyak kawasan wisata di Indonesia adalah memperlakukan sampah sebagai urusan belakang. Saat wisatawan sudah datang, warung tumbuh, homestay bertambah, parkir penuh, dan aktivitas ekonomi meningkat, barulah sampah dianggap masalah. Padahal, pada saat itu, biaya pemulihannya sudah jauh lebih mahal.</p>

<p>Likupang harus mengambil jalan sebaliknya. Sampah harus menjadi bagian dari desain awal pariwisata. Bukan pelengkap. Bukan urusan teknis dinas kebersihan semata. Bukan kegiatan bersih-bersih menjelang kunjungan pejabat. Sampah harus diperlakukan sebagai infrastruktur utama destinasi.</p>

<p>Kita sering menyebut infrastruktur pariwisata sebagai jalan, bandara, pelabuhan, hotel, jaringan internet, dan listrik. Semua itu benar. Tetapi untuk destinasi bahari, infrastruktur yang sama pentingnya adalah sistem persampahan. Ada atau tidaknya pemilahan dari sumber. Ada atau tidaknya TPS3R. Ada atau tidaknya bank sampah. Ada atau tidaknya armada angkut. Ada atau tidaknya pengolahan sampah organik. Ada atau tidaknya larangan plastik sekali pakai. Ada atau tidaknya protokol kapal wisata membawa kembali sampahnya. Ada atau tidaknya desa wisata yang mampu mengelola sampahnya sendiri.</p>

<p>Tanpa itu, pariwisata hanya memindahkan masalah kota ke pantai.</p>

<p>Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH Jumhur Hidayat telah memberi arah yang penting. Dalam konteks Bali, KLH/BPLH menekankan penanganan sampah kiriman laut bersama daerah-daerah sekitar agar aliran limbah lintas perairan dihentikan dari hulu. Pesannya jelas: sampah laut tidak boleh hanya ditangani di hilir. Tidak cukup memungut sampah ketika sudah sampai di pantai. Negara harus berani menghentikan sampah sejak sumbernya.</p>

<p>Pendekatan ini sangat relevan untuk Sulawesi Utara. Bunaken dan Likupang harus dibaca sebagai satu lanskap ekologi, bukan dua destinasi terpisah. Bunaken menjaga reputasi bawah laut Indonesia. Likupang menjaga masa depan pariwisata super prioritas. Keduanya terhubung oleh laut, arus, manusia, perilaku konsumsi, dan tata kelola pesisir.</p>

<p>Maka, jika Bali bisa dijadikan laboratorium pemilahan sampah dan penanganan sampah laut dari hulu, Sulawesi Utara pun seharusnya dapat menjadi laboratorium pariwisata bahari bersih. Bahkan, Sulawesi Utara memiliki modal sosial yang kuat: budaya gotong royong, komunitas pesisir, gereja, masjid, sekolah, kampus, desa, pelaku wisata, dan jaringan pemerintah daerah yang dapat digerakkan bersama.</p>

<p>Persoalannya, selama ini pengelolaan sampah sering terlalu dibebankan kepada pemerintah daerah dengan kapasitas terbatas. Di banyak tempat, dinas lingkungan hidup hanya bekerja dengan armada minim, anggaran terbatas, petugas terbatas, dan sistem pengawasan yang belum memadai. Pola yang berjalan masih kumpul, angkut, buang. Sampah dari rumah dikumpulkan, diangkut, lalu dibuang ke tempat pemrosesan akhir. Jika tidak terangkut, ia dibakar, ditimbun, dibuang ke sungai, atau berakhir di laut.</p>

<p>Model seperti ini tidak cocok untuk destinasi super prioritas. Likupang tidak boleh dibangun dengan logika persampahan lama. Jika negara serius menjadikan Likupang sebagai wajah pariwisata nasional, maka standar pengelolaan sampahnya juga harus nasional, bahkan internasional.</p>

<p>Pertama, Likupang perlu protokol pariwisata tanpa sampah tercecer. Setiap pantai, homestay, restoran, warung, kapal wisata, area parkir, dan titik kunjungan harus memiliki standar kebersihan yang jelas. Bukan sekadar tempat sampah, tetapi sistem: pemilahan, pengangkutan, pencatatan, pengolahan, dan pengawasan.</p>

<p>Kedua, desa-desa wisata di sekitar Likupang harus diperkuat sebagai aktor utama. Sampah tidak bisa hanya diurus dari kantor kabupaten. Desa Pulisan, Marinsow, Kinunang, dan desa-desa pesisir lain harus menjadi garda depan. Bank sampah desa harus hidup. BUMDes harus dilibatkan. Koperasi lokal bisa menjadi pengelola rantai nilai sampah. Sampah plastik dapat masuk ke daur ulang. Sampah organik dapat menjadi kompos atau pakan maggot. Sampah residu harus ditekan sekecil mungkin.</p>

<p>Ketiga, pelaku pariwisata harus ikut memikul tanggung jawab. Hotel, resort, restoran, operator kapal, pengelola pantai, penyelenggara event, dan biro perjalanan tidak boleh hanya menikmati keuntungan dari keindahan alam. Mereka harus menjadi penjaga alam itu sendiri. Setiap izin usaha pariwisata semestinya disertai kewajiban pengelolaan sampah. Setiap event wisata harus punya rencana pengurangan sampah. Setiap kapal wisata harus membawa kembali sampahnya. Setiap pelaku usaha harus mengurangi plastik sekali pakai.</p>

<p>Keempat, perlu integrasi Bunaken-Manado-Likupang dalam pengendalian sampah laut. Arus laut tidak membaca peta administrasi. Karena itu, kebijakan sampah laut harus lintas kabupaten/kota. Manado, Minahasa Utara, Bitung, dan kawasan pesisir sekitarnya perlu duduk bersama. Sungai dan drainase yang bermuara ke laut harus dipasangi sistem penahan sampah. Pelabuhan harus diawasi. Pasar pesisir harus ditata. Permukiman nelayan harus mendapat fasilitas pengelolaan sampah yang layak.</p>

<p>Kelima, gerakan perubahan perilaku harus masuk ke sekolah, rumah ibadah, kampus, dan komunitas. Sampah bukan hanya masalah teknis. Ia juga masalah etika. Orang membuang sampah sembarangan bukan karena tidak ada teknologi, tetapi karena belum tumbuh rasa malu ekologis. Di negara kepulauan, membuang sampah ke sungai sama dengan mengirim racun ke laut. Membuang plastik ke pantai sama dengan menampar wajah sendiri sebagai bangsa maritim.</p>

<p>Di titik ini, tesisnya menjadi jelas: laut bukan tong sampah Republik.</p>

<p>Indonesia selalu bangga menyebut dirinya negara kepulauan. Kita bicara tentang poros maritim, ekonomi biru, kedaulatan laut, pariwisata bahari, dan kejayaan maritim. Tetapi semua kata besar itu akan kehilangan wibawa jika laut kita tetap menjadi tempat pembuangan akhir. Tidak ada martabat maritim di atas laut yang penuh plastik. Tidak ada ekonomi biru di atas pantai yang kotor. Tidak ada pariwisata kelas dunia jika wisatawan harus berenang bersama sampah sachet, botol plastik, dan styrofoam.</p>

<p>Likupang memberi kita kesempatan untuk memperbaiki arah. Karena ia masih berkembang, standarnya masih bisa dibentuk. Karena ia sedang menjadi perhatian nasional, dukungan anggaran dan kebijakan masih bisa diarahkan. Karena masyarakatnya masih dekat dengan laut, partisipasi sosial masih bisa diperkuat. Dan karena statusnya super prioritas, negara tidak punya alasan untuk membiarkan Likupang tumbuh dengan sistem persampahan yang biasa-biasa saja.</p>

<p>Kunjungan Mahasiswa Doktoral IPDN ke Likupang memberi pelajaran penting bagi ilmu pemerintahan. Pemerintahan tidak hanya diukur dari dokumen perencanaan, pidato, atau proyek fisik. Pemerintahan diuji oleh hal-hal konkret: apakah sampah terangkut, apakah pantai bersih, apakah desa punya sistem, apakah warga terlibat, apakah pelaku usaha patuh, apakah data tersedia, apakah pengawasan berjalan, apakah laut terlindungi.</p>

<p>Di situlah pariwisata bertemu tata kelola. Di situlah lingkungan hidup bertemu pemerintahan. Di situlah keindahan alam bertemu disiplin negara.</p>

<p>Likupang tidak boleh kehilangan jiwanya. Ia tidak boleh hanya menjadi etalase resort dan promosi. Ia harus tetap menjadi ruang hidup masyarakat pesisir, ruang ekonomi nelayan, ruang budaya Minahasa Utara, dan ruang ekologis yang sehat. Pariwisata yang baik bukan pariwisata yang menggusur masyarakat dari lautnya sendiri, melainkan pariwisata yang membuat masyarakat lebih sejahtera karena lautnya dijaga.</p>

<p>Karena itu, agenda pengelolaan sampah di Bunaken dan Likupang harus naik kelas menjadi agenda strategis pariwisata nasional. Bukan sekadar program dinas. Bukan sekadar kerja bakti. Bukan sekadar lomba kebersihan. Tetapi gerakan pemerintahan yang terukur: ada target, ada data, ada anggaran, ada kelembagaan, ada sanksi, ada insentif, ada pendidikan publik, dan ada evaluasi berkala.</p>

<p>Jika sampah laut bisa dikendalikan, Bunaken akan tetap menjadi kebanggaan dunia bawah laut Indonesia. Jika Likupang mampu membangun pariwisata bersih sejak awal, ia akan menjadi contoh bahwa destinasi super prioritas tidak hanya berarti super indah, tetapi juga super tertata. Dan jika Sulawesi Utara mampu menghubungkan konservasi, pariwisata, ekonomi lokal, dan pengelolaan sampah, maka ia dapat menjadi model nasional bagi pembangunan pariwisata kepulauan.</p>

<p>Pada akhirnya, martabat negara kepulauan tidak hanya ditentukan oleh seberapa luas lautnya, tetapi oleh seberapa serius ia menjaga laut itu dari sampahnya sendiri.</p>

<p>Indonesia tidak kekurangan pantai indah. Indonesia kekurangan disiplin untuk merawatnya.</p>

<p>Likupang, Bunaken, dan seluruh pesisir Nusantara sedang menunggu jawaban itu. []</p>
]]></description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://www.zonaterbang.id/assets/images/news/2026/06/20260616081424_thumb.jpg" /></item>
<item><title>Adab di Atas Selebrasi</title><category>Budaya</category><link>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/15/4692/Adab-di-Atas-Selebrasi</link><guid>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/15/4692/Adab-di-Atas-Selebrasi</guid><pubDate>Mon, 15 Jun 2026 23:18:52 +0700</pubDate><description><![CDATA[<p style="text-align: center;"><span style="color:#A9A9A9"><span style="font-size:28px">Namun yang membuat dunia terpana bukanlah dua gol tersebut.</span></span></p>

<blockquote>
<p>Oleh: <strong>Bung Jimmy</strong>, Entrepreneur  Konsultan Bisnis, Penggila  Penikmat Bola sejak WC 1986</p>
</blockquote>

<p><strong>Ketika Sujud Lebih Nyaring Daripada Gemuruh Stadion</strong></p>

<p>Ada gol yang membuat stadion berguncang.<br />
Ada gol yang membuat komentator kehilangan suara.<br />
Ada gol yang mengubah jalannya pertandingan.</p>

<p>Tetapi ada gol yang lebih besar dari sekadar angka di papan skor.<br />
Gol yang mengajarkan manusia tentang adab, akar, dan rasa hormat.</p>

<p>Pada laga pembuka Piala Dunia 2026, Swedia menghancurkan Tunisia dengan skor 5-1. Di antara pesta gol itu, seorang pemuda bernama Yasin Ayari tampil sebagai bintang. Ia mencetak gol pada menit ke-7 dan menit ke-96, membuka sekaligus menutup kemenangan negaranya.</p>

<p>Namun yang membuat dunia terpana bukanlah dua gol tersebut.<br />
Bukan pula statusnya sebagai rising star Liga Inggris.</p>

<p>Melainkan apa yang ia lakukan setelah mencetak gol.<br />
Ia tidak berlari sambil berteriak.<br />
Tidak memprovokasi tribun lawan.<br />
Tidak mempertontonkan euforia berlebihan.<br />
Ia memilih bersujud.</p>

<p>Dan lebih indah lagi, ia tidak melakukan selebrasi yang berlebihan di hadapan Tunisia, negeri asal ayahnya.<br />
Di situlah sepak bola berubah menjadi pelajaran kehidupan.</p>

<p><strong>Anak Dua Tanah Air</strong></p>

<p>Yasin Ayari lahir di Solna, Swedia.<br />
Ia tumbuh sebagai warga Swedia, tetapi darah Tunisia mengalir dari ayahnya.<br />
Di dalam dirinya bertemu dua identitas.<br />
Satu memberinya paspor.<br />
Satu lagi memberinya akar.</p>

<p>Maka ketika gol itu tercipta ke gawang Tunisia, Ayari seolah memahami sesuatu yang tidak tertulis dalam buku taktik mana pun:<br />
Kemenangan tidak boleh menghapus rasa hormat.</p>

<p>Hari ini dunia modern mengajarkan kita untuk selalu menonjolkan diri.<br />
Tetapi Ayari justru menunjukkan bahwa semakin tinggi seseorang naik, semakin penting ia mengingat dari mana ia berasal.</p>

<p><strong>Bukan Sekadar Pemain Berbakat</strong></p>

<p>Banyak orang melihat Ayari hanya sebagai pemain muda potensial.<br />
Padahal di balik itu, ia adalah salah satu gelandang paling komplet yang dimiliki Swedia saat ini.</p>

<p>Di Brighton  Hove Albion</p>

<p>Posisi utamanya adalah gelandang tengah.<br />
Ia berperan sebagai pengatur ritme permainan, distributor bola, penghubung antar lini, sekaligus pemain yang aktif melakukan pressing kepada lawan.<br />
Meski usianya baru 22 tahun, ia telah dipercaya menjadi salah satu motor permainan Brighton.</p>

<p><strong>Statistik Musim 2025/2026</strong></p>

<p><strong>🏟️ </strong><em>Premier League</em><br />
29 pertandingan<br />
3 gol<br />
3 assist<br />
1.932 menit bermain</p>

<p><strong>🏆 </strong><em>Carabao Cup</em><br />
2 pertandingan<br />
1 gol<br />
82 menit bermain</p>

<p>Angka-angka tersebut mungkin tidak sebesar para striker elite dunia.<br />
Namun bagi seorang gelandang, statistik itu menunjukkan kontribusi yang sangat bernilai.</p>

<p>Karena pekerjaan seorang gelandang tidak selalu terlihat dalam sorotan kamera.<br />
Mereka adalah arsitek yang bekerja di balik kemegahan bangunan.</p>

<p><strong>Masa Depan Swedia Ada di Kakinya</strong></p>

<p>Di Tim Nasional Swedia, Ayari juga menjadi bagian penting lini tengah.<br />
Ia mampu bermain sebagai:<br />
Gelandang bertahan<br />
Gelandang tengah<br />
Playmaker dari lini kedua<br />
Fleksibilitas inilah yang membuat pelatih sangat menyukainya.<br />
Ia bisa memutus serangan lawan.<br />
Ia bisa mengatur tempo.<br />
Ia bisa mengalirkan bola dari kedalaman.</p>

<p>Dan kini ia mulai menunjukkan kemampuan mencetak gol dalam laga-laga besar.<br />
Tidak berlebihan jika banyak pengamat meyakini bahwa Ayari akan menjadi salah satu pilar utama generasi emas Swedia berikutnya.</p>

<p><strong>Pelajaran yang Lebih Besar dari Sepak Bola</strong></p>

<p>Tetapi sesungguhnya kisah ini bukan tentang statistik.<br />
Bukan tentang dua gol.<br />
Bukan tentang Brighton.<br />
Bukan tentang Piala Dunia.</p>

<p>Kisah ini tentang sesuatu yang semakin langka di zaman sekarang:<br />
Kesadaran bahwa prestasi bukan alasan untuk kehilangan adab.</p>

<p>Banyak orang mampu menang.<br />
Sedikit orang mampu menang dengan elegan.<br />
Banyak orang mampu menjadi terkenal.<br />
Sedikit orang mampu tetap rendah hati ketika terkenal.<br />
Banyak orang mampu berdiri di podium.</p>

<p>Sedikit orang yang masih mau menundukkan kepala ketika berdiri di atas podium.<br />
Dan di lapangan itu, Yasin Ayari memilih menundukkan kepalanya hingga menyentuh tanah.</p>

<p>Seakan mengingatkan dunia:</p>

<p>Hari ini aku mencetak gol. Tetapi kemampuan itu bukan milikku semata.</p>

<p><strong>Sebuah Sujud yang Mengalahkan Selebrasi</strong></p>

<p>Ada saat ketika sorakan manusia terdengar sangat keras.<br />
Namun ada saat ketika sebuah sujud jauh lebih nyaring daripada puluhan ribu suara penonton.</p>

<p>Malam itu, dunia tidak hanya menyaksikan seorang pemain muda mencetak dua gol.<br />
Dunia menyaksikan seorang anak yang tidak melupakan leluhurnya.<br />
Seorang atlet yang tidak mabuk pujian.</p>

<p>Seorang pemenang yang tetap menghormati pihak yang kalah.<br />
Dan mungkin itulah alasan mengapa sujudnya terasa begitu indah.<br />
Karena dalam satu gerakan sederhana, ia mengajarkan sesuatu yang sering dilupakan manusia modern:</p>

<p>Prestasi membuatmu dikenal.<br />
Karakter membuatmu dihormati.<br />
Adab membuatmu dimuliakan.<br />
Gol memberi kemenangan. Bakat memberi masa depan. Tetapi adab memberi keberkahan.</p>

<p>Dan pada malam itu, Yasin Ayari membuktikan bahwa dalam kehidupan, sebagaimana dalam sepak bola, ADAB SELALU BERADA DI ATAS SELEBRASI. []</p>
]]></description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://www.zonaterbang.id/assets/images/news/2026/06/20260615112056_thumb.jpg" /></item>
<item><title>Daya Regeneratif </title><category>Jaya Suprana</category><link>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/15/4691/Daya-Regeneratif-</link><guid>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/15/4691/Daya-Regeneratif-</guid><pubDate>Mon, 15 Jun 2026 20:55:00 +0700</pubDate><description><![CDATA[<p style="text-align: center;"><span style="color:#A9A9A9"><span style="font-size:28px">Proses regenerasi ekor cicak melibatkan pembentukan jaringan baru yang disebut blastema, yang kemudian berkembang menjadi ekor baru.</span></span></p>

<blockquote>
<p>Oleh: <strong>Jaya Suprana</strong>, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan</p>
</blockquote>

<p>KEMAMPUAN cicak menumbuhkan kembali ekornya yang putus disebut autotomi atau regenerasi ekor. Autotomi adalah proses mekanisme pertahanan atau penyelamatan diri, kemudian menumbuhkan kembali ekor baru.</p>

<p>Proses regenerasi ekor cicak melibatkan pembentukan jaringan baru yang disebut blastema, yang kemudian berkembang menjadi ekor baru.Kemampuan ini sangat unik dan menarik, dan telah menjadi subjek penelitian medis dan biologis untuk memahami potensi sel-sel stem dalam memperbaiki jaringan yang rusak.</p>

<p>Beberapa contoh hewan autotomis adalah:</p>

<ul>
	<li>Cicak : Melepaskan ekornya ketika terancam.</li>
	<li>Tokek: Melepaskan ekornya untuk mengalihkan perhatian predator.</li>
	<li>Kadal: Melepaskan ekornya untuk melindungi diri.</li>
	<li>Salamander: Melepaskan ekornya sebagai mekanisme penyelamatan diri.</li>
	<li>Laba-laba: Melepaskan kaki atau bagian tubuh lainnya ketika terancam.</li>
	<li>Gurita: Melepaskan lengan atau bagian tubuh lainnya untuk melindungi diri.</li>
	<li>Siput Laut: Melepaskan bagian tubuhnya ketika terancam.</li>
	<li>Kepiting: Melepaskan cakarnya untuk melindungi diri.</li>
	<li>Tikus Berduri Afrika: Melepaskan kulit dan bulunya ketika terancam.</li>
	<li>Tikus Kapas: Melepaskan kulit ekornya untuk melindungi diri.</li>
	<li>Lebah: Melepaskan sengatnya ketika menyengat predator. Kemudian mati.</li>
	<li>Bajing Kelabu Timur: Melepaskan kulit ekornya untuk melindungi diri.</li>
</ul>

<p>Ular berganti kulit sebenarnya disebut bukan autotomi tetapi ecdysis, Ecdysis adalah proses penggantian kulit pada ular dan reptil lainnya, yang terjadi secara teratur sepanjang hidup ular, terutama ketika mereka tumbuh.</p>

<p>Proses ini memungkinkan ular untuk menghilangkan kulit lama yang rusak, kotor, atau tertutup parasit, dan mendapatkan kulit baru yang lebih sehat dan fleksibel Autotomi, di sisi lain, adalah kemampuan hewan untuk melepaskan bagian tubuhnya sebagai mekanisme pertahanan diri, seperti cicak yang melepaskan ekornya.</p>

<p>Jadi, ular berganti kulit bukanlah autotomi, melainkan proses ecdysis yang alami dan penting untuk kelangsungan hidup.</p>

<p>Pemilihan kulit terkelupas pada manusia tidak termasuk autotomi atau ecdysis.</p>

<p>Autotomi adalah kemampuan hewan untuk melepaskan bagian tubuhnya sebagai mekanisme pertahanan diri, sedangkan ecdysis adalah proses penggantian kulit pada hewan yang memiliki eksoskeleton, seperti ular dan serangga.</p>

<p>Pada manusia, proses pemulihan kulit yang terkelupas adalah proses alami yang disebut deskuamasi. Deskuamasi adalah proses resusitasi sel kulit mati dari lapisan epidermis, yang kemudian digantikan oleh sel kulit baru.</p>

<p>Proses ini tidak sama dengan autotomi atau ecdysis, karena tidak melibatkan pelepasan bagian tubuh sebagai mekanisme pertahanan diri atau penggantian kulit secara keseluruhan.</p>

<p>Kuku dan rambut setelah dipotong mampu tumbuh kembali adalah proses deskuamasi yang merupakan sumber nafkah bagi tukang cukur dan manikuris maupun pedikuris . Tanpa deskuamasi tidak ada alat pemotong kuku dan pemangkas rambut maupun pencukur jenggot dan penggunting bulu hidung.</p>

<p>Cicak, ular, dan manusia memiliki proses biologis daya regeneratif yang berbeda karena jalur evolusi dan adaptasi lingkungan yang berbeda.</p>

<p><strong>Cicak (Autotomi)</strong></p>

<ul>
	<li>Cicak memiliki kemampuan autotomi karena evolusi sebagai mekanisme pertahanan diri.</li>
	<li>Mereka melepaskan ekornya untuk mengalihkan perhatian predator dan melarikan diri.</li>
	<li>Autotomi memungkinkan cicak untuk bertahan hidup dan bereproduksi.</li>
</ul>

<p><strong>Ular (Ecdysis)</strong></p>

<ul>
	<li>Ular memiliki proses ecdysis karena pertumbuhan dan perkembangan tubuhnya.</li>
	<li>Mereka perlu mengganti kulit lama yang tidak elastis lagi untuk memungkinkan pertumbuhan dan pergerakan.</li>
	<li>Ecdysis juga membantu ular menghilangkan parasit dan kotoran yang menempel pada kulit.</li>
</ul>

<p><strong>Manusia (Deskuamasi)</strong></p>

<ul>
	<li>Manusia tidak memiliki kemampuan autotomi atau ecdysis karena evolusi dan adaptasi lingkungan yang berbeda.</li>
	<li>Manusia memiliki kulit yang lebih tebal dan kompleks, dengan lapisan epidermis yang terus-menerus memperbarui diri.</li>
</ul>

<p>Deskuamasi adalah proses alami pengelusan sel kulit mati, yang membantu menjaga kulit tetap sehat dan bersih. Juga kembali menumbuhkan rambut yang dipangkas serta kuku yang dipotong.</p>

<p>Perbedaan ini disebabkan oleh evolusi di mana struktur tubuh menyesuaikan diri dengan lingkungan hidup yang pada hakikatnya secara tak terbantahkan membuktikan betapa dahsyat KemahaKuasaan Yang Maha Kuasa dalam menciptakan keanekaragaman hayati di planet bumi ini. []</p>
]]></description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://www.zonaterbang.id/assets/images/news/2026/06/20260615110002_thumb.jpg" /></item>
<item><title>Belanda Juara Piala Dunia 2026?</title><category>Jaya Suprana</category><link>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/15/4690/Belanda-Juara-Piala-Dunia-2026</link><guid>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/15/4690/Belanda-Juara-Piala-Dunia-2026</guid><pubDate>Mon, 15 Jun 2026 17:30:00 +0700</pubDate><description><![CDATA[<p style="text-align: center;"><span style="color:#A9A9A9"><span style="font-size:28px">Klement sendiri kaget. Awalnya model ini satir buat menertawakan para ekonom yang sok rumangsa bisa ramal segala.</span></span></p>

<blockquote>
<p>Oleh: <strong>Jaya Suprana</strong>, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan</p>
</blockquote>

<p><br />
MOHON perhatikan tanda tanya pada judul naskah ramalan ini sebab pada saat naskah ini ditulis, Piala Dunia 2026 baru saja dimulai maka sama sekali belum berakhir.</p>

<p>Matematikawan Jerman Joachim Klement semula cuma jahil mau membuktikan bahwa ramalan juara Piala Dunia itu ngawur maka ngaco. Hasilnya? Model bikinannya malah bener 3 kali beruntun: Jerman 2014, Prancis 2018, Argentina 2022. Sekarang, untuk 2026, model yang sama menunjuk satu nama: Belanda.</p>

<p>Klement tidak ngitung jumlah gol atau umpan. Dia pakai 4 variabel struktural yang bikin sebuah negara jago sepak bola:</p>

<ol>
	<li>Populasi: Semakin banyak orang, semakin besar talent pool. Tapi pakai logaritma biar tidak ada efek China vs India auto juara.</li>
	<li>Iklim: Sepak bola butuh bisa dimainkan sepanjang tahun. Terlalu panas/dingin = disadvantage.</li>
	<li>Kekayaan/GDP per kapita: Buat bangun akademi, lapangan, sekolah bola.</li>
	<li>Peringkat FIFA saat ini: Buat ngukur kualitas generasi pemain sekarang.</li>
</ol>

<p>Ke 4 faktor itu + variabel keberuntungan/acak 45%, lalu disimulasikan ribuan kali. Hasilnya probabilitas juara tiap negara.</p>

<ul>
	<li>2014: Modelnya pilih Jerman walau semua ahli bilang tim Eropa tidak pernah juara di Amerika Selatan. Jerman menang.</li>
	<li>2018: Prancis muncul sebagai jawara.</li>
	<li>2022: Argentina jadi juara dunia.</li>
</ul>

<p>Klement sendiri kaget. Awalnya model ini satir buat menertawakan para ekonom yang sok rumangsa bisa ramal segala. Untuk Piala Dunia 48 tim di AS-Kanada-Meksiko, modelnya nge-lock Belanda.</p>

<p>Alasan Klement:</p>

<ul>
	<li>Performa di atas rata-rata: Belanda tampil terus di atas batting average yang seharusnya, berdasarkan fondasi negara. Negara kecil tapi 3x masuk final.</li>
	<li>Tidak ada titik lemah: Tidak punya bintang kayak Messi, tapi semua pemain levelnya rata. Tidak ada weak spot.</li>
	<li>Defensif kuat: Offense wins matches, defence wins tournaments - dan Belanda punya pertahanan terbaik.</li>
	<li>Iklim: Musim panas AS lebih sejuk dari Qatar. Eropa lebih diuntungkan.</li>
</ul>

<p>Jalur prediksinya: Belanda lolos grup lawan Jepang, Swedia, Tunisia, lalu menang lawan Maroko, Kanada, Prancis, dan final lawan Spanyol di MetLife 19 Juli 2026. Versi lain: final lawan Portugal.</p>

<p>Catatan penting dari Klement sendiri adalah akurasi model cuma 55%. 45% sisanya murni Insya Allah terkait stamina bundar, form hari itu, keputusan wasit, bola kena tiang gawang. Kalau ada yang taruhan gara-gara model ini, dia tidak ketolong. Bandar masih taruh Belanda di peringkat 8 dengan odds +1900.</p>

<p>Matematika tidak berani janji Belanda juara. Tapi kalau 3x berturut-turut model ini bener, maka Tim Oranje punya argumen statistik terkuat 2026. Belanda = negara out-performer abadi. Piala Dunia 2026 mungkin saatnya kutukan raja tanpa mahkota bubar. []</p>
]]></description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://www.zonaterbang.id/assets/images/news/2026/06/20260615105358_thumb.jpg" /></item>
<item><title>Antariksa dan Kedaulatan Indonesia</title><category>Nasional</category><link>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/15/4700/Antariksa-dan-Kedaulatan-Indonesia</link><guid>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/15/4700/Antariksa-dan-Kedaulatan-Indonesia</guid><pubDate>Mon, 15 Jun 2026 16:35:00 +0700</pubDate><description><![CDATA[<p style="text-align:center"><span style="color:#A9A9A9"><span style="font-size:28px">Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, ketergantungan Indonesia terhadap layanan berbasis satelit bahkan lebih tinggi dibanding banyak negara lain.</span></span></p>

<blockquote>
<p>Oleh: <strong>Chappy Hakim</strong>, Pusat Studi Air Power Indonesia</p>
</blockquote>

<p>KETIKA dunia menyaksikan eskalasi konflik di Timur Tengah, perhatian publik umumnya tertuju pada rudal yang meluncur, pesawat tempur yang beroperasi, atau pergerakan pasukan di medan perang.</p>

<p>Namun sesungguhnya terdapat dimensi lain yang bekerja di balik layar dan sering luput dari perhatian, yaitu ruang angkasa. Satelit-satelit yang mengorbit bumi menjadi tulang punggung sistem navigasi, komunikasi, pengintaian, dan peringatan dini yang menentukan efektivitas operasi militer modern. Konflik Timur Tengah memperlihatkan bahwa penguasaan antariksa tidak lagi merupakan simbol kemajuan teknologi semata, melainkan instrumen strategis yang dapat menentukan hasil akhir dari sebuah konflik.</p>

<p>Dari perspektif Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa tantangan kedaulatan pada abad ke-21 tidak hanya datang dari darat, laut, dan udara, tetapi juga dari wilayah yang jauh di atas kepala kita yakni ruang angkasa.</p>

<p>Kesadaran akan pentingnya ruang angkasa menjadi semakin relevan ketika kehidupan modern saat ini hampir sepenuhnya bergantung pada infrastruktur yang berada di orbit bumi. Navigasi pesawat dan kapal, komunikasi antarwilayah, transaksi perbankan, prakiraan cuaca, hingga sistem peringatan dini bencana semuanya ditopang oleh satelit. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, ketergantungan Indonesia terhadap layanan berbasis satelit bahkan lebih tinggi dibanding banyak negara lain.</p>

<p>Masalahnya, ketika ketergantungan tersebut meningkat, ancaman terhadap ruang angkasa juga berkembang semakin kompleks. Ruang angkasa yang dahulu dipandang sebagai wilayah damai untuk kepentingan bersama umat manusia kini berubah menjadi arena persaingan geopolitik. Berbagai negara besar telah mengembangkan kemampuan anti-satelit (anti-satellite weapon/ASAT), baik melalui serangan fisik maupun metode non-kinetik seperti jamming, spoofing, dan serangan siber.</p>

<p>Ancaman yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah kemungkinan pengembangan senjata orbital bertenaga nuklir yang mampu melumpuhkan banyak satelit sekaligus melalui gelombang elektromagnetik. Pada saat yang sama, ledakan jumlah satelit komersial juga meningkatkan risiko tabrakan dan penciptaan puing antariksa yang dapat mengganggu seluruh ekosistem orbit bumi.</p>

<p>Dengan kata lain, ruang angkasa yang semakin padat kini juga semakin rentan. Bagi Indonesia, perkembangan tersebut memiliki implikasi strategis yang tidak dapat diabaikan. Gangguan terhadap satelit dapat melumpuhkan berbagai sektor sekaligus, mulai dari transportasi, komunikasi, ekonomi, hingga penanggulangan bencana. Kerentanan tersebut diperbesar oleh tingginya ketergantungan Indonesia pada teknologi dan sistem navigasi asing.</p>

<p>Selain itu, masih adanya ketidakjelasan hukum internasional mengenai batas antara wilayah udara dan ruang angkasa menciptakan tantangan tersendiri bagi konsep kedaulatan negara. Satelit asing dapat melintas berkali-kali di atas wilayah Indonesia tanpa dapat dicegah, meskipun aktivitasnya berpotensi mengumpulkan informasi strategis. Persoalan ini menunjukkan bahwa konsep kedaulatan pada abad ke-21 tidak lagi sesederhana menjaga perbatasan darat atau perairan teritorial.</p>

<p>Di sisi lain, Indonesia juga menghadapi sejumlah keterbatasan internal. Hingga kini belum tersedia satuan pertahanan antariksa yang secara khusus menangani ancaman dari orbit. Kapasitas sumber daya manusia, infrastruktur pemantauan ruang angkasa, koordinasi kelembagaan, serta regulasi pendukung masih memerlukan penguatan yang signifikan. Padahal Indonesia sesungguhnya memiliki modal strategis yang tidak kecil.</p>

<p>Sejarah panjang pengembangan teknologi antariksa, pengalaman mengoperasikan satelit nasional sejak era Palapa, serta posisi geografis di garis khatulistiwa merupakan aset yang bernilai tinggi. Pulau Biak, misalnya, memiliki potensi besar sebagai lokasi peluncuran satelit yang kompetitif di kawasan Asia-Pasifik karena kedekatannya dengan garis ekuator.</p>

<p>Karena itu, yang dibutuhkan bukanlah ambisi untuk menyaingi negara-negara adidaya dalam perlombaan antariksa, melainkan strategi yang realistis dan berkelanjutan. Prioritas utama adalah membangun kapasitas sumber daya manusia, membentuk kemampuan space situational awareness untuk memantau aktivitas di orbit, memperkuat keamanan siber infrastruktur satelit, serta meningkatkan peran Indonesia dalam diplomasi dan tata kelola antariksa internasional.</p>

<p>Dalam jangka menengah, Indonesia perlu mulai membangun satuan khusus pertahanan antariksa, mengembangkan pendidikan militer berbasis operasi ruang angkasa, serta menyiapkan peta jalan pengembangan bandar antariksa nasional. Sementara dalam jangka panjang, tujuan utamanya adalah mengurangi ketergantungan teknologi asing dan memperkuat kemandirian nasional di sektor antariksa.</p>

<p>Konflik yang terjadi di Timur Tengah memberikan pelajaran berharga bahwa perang masa depan tidak hanya ditentukan oleh jumlah pasukan atau kecanggihan persenjataan di permukaan bumi. Keunggulan strategis semakin ditentukan oleh kemampuan menguasai informasi, komunikasi, dan teknologi yang sebagian besar bertumpu pada aset-aset di orbit. Karena itu, ruang angkasa bukan lagi isu masa depan, melainkan realitas strategis masa kini.</p>

<p>Jika dahulu kedaulatan diukur dari kemampuan menjaga wilayah darat, laut, dan udara, maka pada abad ke-21 kedaulatan juga ditentukan oleh kemampuan menjaga kepentingan nasional hingga ke orbit bumi. Indonesia memiliki pilihan: menjadi penonton dalam percaturan antariksa global atau mulai mempersiapkan diri sebagai negara yang mampu melindungi kepentingannya di domain strategis baru tersebut.</p>

<p>Waktu untuk memulai adalah sekarang, sebelum ketergantungan berubah menjadi kerentanan, dan kerentanan berubah menjadi ancaman nyata terhadap kedaulatan nasional.</p>

<p>Demikianlah, karakter peperangan abad ke-21 dan seterusnya akan semakin berbeda dengan perang-perang yang kita kenal selama ini. Konflik tidak lagi semata-mata mempertemukan angkatan perang melawan angkatan perang di medan tempur konvensional, melainkan menjadi kompetisi antarnegera (nation among nations) yang melibatkan seluruh instrumen kekuatan nasional.</p>

<p>Dalam konteks tersebut, penguasaan ruang udara dan ruang angkasa akan menjadi faktor penentu kemampuan suatu bangsa untuk melindungi kepentingannya, mempertahankan kedaulatannya, dan menjaga daya saing strategisnya. Karena itu, Indonesia perlu mulai membangun dan mengembangkan National Air and Space Power sebagai bagian integral dari kekuatan nasional, agar mampu menghadapi tantangan geopolitik masa depan yang semakin kompleks dan multidimensional.</p>

<p>Tantangan tentang kedaualatan negara yang beririsan dengan Ruang Angkasa.</p>

<p>Untuk diketahui dan patut menjadi catatan bahwa, Kedaulatan negara di ruang udara hingga saat ini masih menyisakan persoalan mendasar, terutama karena belum terdapat kesepakatan internasional yang secara tegas menetapkan sampai pada ketinggian berapa kedaulatan udara suatu negara berlaku.</p>

<p>Meskipun Konvensi Chicago 1944 menegaskan bahwa setiap negara memiliki kedaulatan penuh dan eksklusif atas ruang udara di atas wilayah teritorialnya, batas vertikal antara ruang udara yang tunduk pada kedaulatan negara dan ruang angkasa yang bersifat bebas belum pernah disepakati secara universal. Namun demikian, dalam praktik dan pemahaman umum, banyak negara cenderung menerima pendekatan bahwa batas tersebut berada pada ketinggian di mana pesawat udara masih mampu terbang secara normal dengan mengandalkan daya angkat aerodinamis, yaitu sekitar 100 hingga 110 kilometer di atas permukaan laut.</p>

<p>Indonesia sendiri, melalui Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, mengadopsi batas ketinggian 110 kilometer sebagai batas ruang udara nasional, sejalan dengan pandangan dan usulan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional atau LAPAN sebelum lembaga tersebut kemudian dilebur ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional. []</p>

<p></p>
]]></description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://www.zonaterbang.id/assets/images/news/2026/06/20260616014103_thumb.jpg" /></item>
<item><title> Mesin Airbus A320 Iberia Gagal Start, Paus Leo XIV Terpaksa Pulang Menumpang Jet Pribadi Raja Spanyol</title><category>AviaNews</category><link>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/15/4689/-Mesin-Airbus-A320-Iberia-Gagal-Start,-Paus-Leo-XIV-Terpaksa-Pulang-Menumpang-Jet-Pribadi-Raja-Spanyol</link><guid>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/15/4689/-Mesin-Airbus-A320-Iberia-Gagal-Start,-Paus-Leo-XIV-Terpaksa-Pulang-Menumpang-Jet-Pribadi-Raja-Spanyol</guid><pubDate>Mon, 15 Jun 2026 15:47:24 +0700</pubDate><description><![CDATA[<p><strong>ZT.</strong> Sebuah insiden penerbangan yang tidak biasa menimpa Pemimpin Gereja Katolik Dunia, Paus Leo XIV, saat hendak mengakhiri kunjungan apostoliknya di Spanyol pada Jumat lalu. Pesawat Airbus A320 milik maskapai bendera Spanyol, Iberia, yang dijadwalkan membawa Paus beserta delegasinya kembali ke Roma, mengalami kendala teknis serius pada bagian mesin. Akibatnya, seluruh penumpang terpaksa diturunkan kembali ke landasan demi keselamatan penerbangan.</p>

<p>Paus Leo XIV bersama rombongan besar Vatikan sebenarnya telah duduk di dalam kabin pesawat sekitar pukul 16.00 waktu setempat di Bandara Tenerife Norte (TFN). Kegagalan fungsi ini baru diketahui saat kru pesawat memulai prosedur keberangkatan standar. Kapten pilot kemudian mengumumkan melalui pengeras suara kabin bahwa salah satu mesin pesawat tidak dapat dinyalakan akibat kondisi angin kencang yang melanda bandara.</p>

<p>Merespons kendala tersebut, tim teknisi bandara segera diterjunkan ke landasan pacu untuk melakukan penanganan darurat. Berdasarkan rekomendasi teknis, pesawat sempat diposisikan ulang agar menghadap langsung ke arah angin demi memicu proses pemulihan starter mesin yang kedua. Namun, upaya tersebut tetap tidak membuahkan hasil, sehingga memaksa pihak maskapai membatalkan penerbangan demi mematuhi protokol keselamatan yang ketat.</p>

<p>Beruntung bagi sang Paus, Raja Spanyol Felipe VI masih berada di bandara setelah beberapa saat sebelumnya melepas keberangkatan pemimpin tertinggi umat Katolik tersebut secara seremonial. Mengetahui situasi darurat yang dialami tamunya, Raja Felipe VI langsung menawarkan solusi cepat dengan meminjamkan pesawat jet pribadi miliknya, Dassault Falcon 900, agar Paus dapat segera kembali ke Vatikan tanpa penundaan yang berarti.</p>

<p>Pihak Vatikan secara resmi mengonfirmasi dan menyambut baik kebaikan hati monarki Spanyol tersebut. Dalam pernyataan resminya, Takhta Suci menyampaikan bahwa Paus Leo XIV akan kembali ke Roma menggunakan pesawat yang disediakan secara khusus oleh Yang Mulia Raja Spanyol. Penerbangan darurat tersebut dijadwalkan tinggal landas sekitar pukul 18.00 dan diperkirakan tiba di Roma pada pukul 23.00 waktu setempat.</p>

<p>Meski demikian, solusi ini menyisakan tantangan logistik tersendiri bagi rombongan besar yang mendampingi Paus. Jet pribadi Dassault Falcon 900 dengan konfigurasi VIP tersebut diperkirakan hanya mampu menampung sekitar 12 penumpang. Padahal, penerbangan kepausan ini mengikutsertakan sedikitnya 80 jurnalis internasional, staf senior Takhta Suci, serta jajaran pejabat tinggi gereja lainnya.</p>

<p>Keterbatasan kapasitas ini memaksa sebagian besar rombongan dan awak media tertahan di bandara di kepulauan Canaria tersebut, sementara Paus beserta ajudan terdekatnya lepas landas terlebih dahulu sebelum pukul 19.00. Untuk mengatasi penumpukan delegasi, manajemen maskapai Iberia bergerak cepat dengan mengirimkan pesawat Airbus A320 pengganti dari Madrid menuju Tenerife guna mengangkut sisa rombongan kembali ke Roma pada malam harinya.</p>

<p>Secara teknis aeronautika, kegagalan menyalakan mesin akibat terpaan angin kencang merupakan fenomena yang cukup dikenal dalam industri penerbangan, di mana prosedur menghadapkan pesawat ke arah angin merupakan langkah penanganan standar. Kendati demikian, Bandara Tenerife Norte sendiri memang dikenal memiliki reputasi internasional atas kondisi anginnya yang ekstrem dan berubah-ubah, menjadikannya salah satu bandara paling menantang di dunia dalam hal operasional penerbangan.</p>

<p>Insiden ini terjadi di akhir rangkaian kunjungan apostolik intensif selama tujuh hari yang dilakukan Paus Leo XIV di Spanyol sejak 6 Juni, yang mencakup kunjungan ke kota Madrid, Barcelona, Las Palmas de Gran Canaria, hingga Tenerife. Berdasarkan tradisi protokol kepausan, Paus biasanya berangkat dari Roma menggunakan maskapai ITA Airways, namun akan menggunakan maskapai bendera negara tuan rumah untuk rute kepulangan ke Roma.</p>

<p>Kerusakan teknis yang menuntut penggantian pesawat dalam penerbangan kepausan ini disebut-sebut sebagai peristiwa yang sangat langka dalam beberapa dekade terakhir. Insiden serupa terakhir kali tercatat pada tahun 1988, ketika pesawat yang membawa Paus Yohanes Paulus II terpaksa mendarat darurat di Afrika Selatan akibat cuaca buruk, yang kemudian mengharuskan sang Paus melanjutkan sisa perjalanannya ke Lesotho menggunakan jalur darat. []</p>
]]></description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://www.zonaterbang.id/assets/images/news/2026/06/20260615034816_thumb.jpg" /></item>
<item><title> Andi Arief: Pemerintah Prabowo-Gibran Harus Sabar dan Bijaksana Hadapi Kritik</title><category>Nasional</category><link>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/15/4687/-Andi-Arief:-Pemerintah-Prabowo-Gibran-Harus-Sabar-dan-Bijaksana-Hadapi-Kritik</link><guid>https://www.zonaterbang.id/read/2026/06/15/4687/-Andi-Arief:-Pemerintah-Prabowo-Gibran-Harus-Sabar-dan-Bijaksana-Hadapi-Kritik</guid><pubDate>Mon, 15 Jun 2026 15:24:13 +0700</pubDate><description><![CDATA[<p><strong>ZT.</strong>PolitisiPartaiDemokratyangjugamantanKetuaSolidaritasMahasiswaIndonesiauntukDemokrasi (SMID), Andi Arief, menegaskan komitmen partainya untuk mengawal pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka hingga akhir masa jabatan. Namun, sebagai bagian dari koalisi, ia mengingatkan pentingnya pemerintah menyikapi segala bentuk kritik dari masyarakat dengan kepala dingin dan kedewasaan politik.</p>

<p>Sebagai bagian dari koalisi Pemerintahan Prabowo-Gibran, saya tentu bersama partai akan mendukung dan menjaga keberlangsungan pemerintahan ini hingga pemilu berikutnya, ujar Andi Arief dalam keterangannya.</p>

<p>Mendengar Aspirasi Publik, dari Medsos hingga Jalanan</p>

<p>Aktivis mahasiswa era 1990-an ini menekankan bahwa partai koalisi memiliki kewajiban moral untuk tetap membuka telinga terhadap dinamika yang terjadi di masyarakat. Menurutnya, suara rakyat yang muncul di berbagai lini massa maupun aksi unjuk rasa tidak boleh diabaikan begitu saja.</p>

<p>Sebagai bagian dari partai koalisi, kami juga berkewajiban mendengarkan berbagai aspirasi yang berkembang di masyarakat, baik yang disampaikan melalui media sosial maupun yang disuarakan di jalanan, tuturnya.</p>

<p>Ia mengakui bahwa tidak semua tuntutan masyarakat dapat diakomodasi secara instan oleh pemerintah. Meski demikian, penyaringan terhadap aspirasi yang berorientasi pada kemaslahatan publik tetap harus dilakukan.</p>

<p>Aspirasi dan tuntutan tersebut tentu tidak semuanya dapat dipenuhi, namun selalu ada hal-hal yang layak didengar, dipertimbangkan, dan dijalankan demi kepentingan rakyat, tambah Andi.</p>

<p>Mengedepankan Kedewasaan Politik</p>

<p>Mantan aktivis Universitas Gadjah Mada (UGM) ini juga mengimbau jajaran pemerintahan dan sesama partai koalisi untuk tidak antikritik. Ia meminta agar respons terhadap tekanan publiktermasuk yang disampaikan dengan cara kurang simpatiktetapi dihadapi secara bijak.</p>

<p>Sedapat mungkin pemerintah dan partai-partai koalisi perlu bersikap lebih sabar dan bijaksana dalam menghadapi berbagai bentuk kritik maupun tekanan. Baik yang disampaikan dengan cara-cara yang santun maupun yang terkadang kasar dan mengusik rasa budaya, semuanya perlu disikapi dengan kepala dingin dan kedewasaan politik, tegasnya.</p>

<p>Refleksi Perjuangan Mahasiswa 90-an</p>

<p>Menutup pernyataannya, Andi Arief merefleksikan pengalamannya saat memimpin gerakan mahasiswa di Yogyakarta pada masa transisi demokrasi lalu. Ia berharap gerakan kritis yang ada saat ini tetap mengedepankan rasionalitas dan tanggung jawab, meniru esensi perjuangan masa lalu yang terorganisasi dengan baik.</p>

<p>Saya sendiri, pada masa lalu, memilih berjuang dengan cara yang benar, terorganisasi, dan tidak didorong oleh subjektivitas semata. Hampir seluruh mahasiswa UGM, mahasiswa Yogyakarta, dan mahasiswa Indonesia pada masa itu juga menempuh jalan perjuangan yang serupa: kritis, terukur, dan bertanggung jawab, pungkasnya. []</p>
]]></description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://www.zonaterbang.id/assets/images/news/2026/06/20260615032546_thumb.jpg" /></item>
</channel></rss>				