post image
Concorde G-BOAD (210)
KOMENTAR

Concorde. Nama itu mengingatkan kita pada pesawat berteknologi supersonik yang pernah dikembangkan Prancis dan Inggris antara tahun 1969 hingga 2003.

Negeri jiran Singapura suatu kali juga pernah ikut mengoperasikan pesawat yang memiliki kecepatan hingga Mach 2,04 atau 2.180 kilometer per jam itu.

Concorde yang dioperasikan Singapura adalah G-BOAD (210) yang diterbangkan pertama kali tahun 1976 dari Filton.

Kerjasama Singapura dan Inggris ini tercatat sebagai salah satu operasional codeshare yang pertama kali dipraktikkan.

Uniknya lagi, bagian tubuh G-BOAD pun dicat berbeda. Di sebelah kiri livery dicat seperti livery SQ umumnya. Sementara sisi kanan dicat dengan livery British Airways Negus.

Ketika proyek Concorde baru dimulai, baik Prancis maupun Inggris tidak mendapatkan slot pendaratan di JFK New York. Ini artinya, kedua negara perlu mencari rute baru untuk mengoperasikan pesawat.

Dengan sifat supersonik yang dimilikinya, Concorde membutuhkan rute penerbangan jarak jauh. Maka, Australia adalah pilihan yang tepat. Namun, untuk mencapai Sydney, Concorde membutuhkan kota di tengah perjalanan.

Awalnya Concorde berhenti di Bahrain. Lalu, rute ini dikembangkan hingga ke Singapura sebelum akhirnya mendarat di Sydney.

Rute London-Bahrain dimulai pertama kali di tahun 1976. Concorde melayani sebanyak tiga penerbangan dalam seminggu menggunakan G-BOAA (206). Setelah itu rute berikutnya yang dikembangkan adalah London-Singapura.

Kerjasama SQ dan BA dalam mengoperasikan Concorde dimulai pada tanggal 9 Desember 1977.

Tetapi G-BOAD baru terbang tiga kali dari Inggris menuju Singapura sebelum rute penerbangan ini dihentikan sementara.

Pasalnya Malaysia, negeri tetangga Singapura, keberatan dengan kehadiran sang supersonik di atas Selat Malaka. Isu utama yang menjadi dasar keberatan Malaysia adalah isu lingkungan.

Bagi sementara kalangan, alasan yang disampaikan Malaysia ini dianggap bukan alasan sebenarnya. Malaysia tentu tidak ingin kehilangan status sebagai titik penghubung. Kehadiran pesawat-pesawat asing di Singapura dianggap sebagai ancaman.

Apalagi bagi Malaysia ketika itu, Singapura adalah anak nakal yang berani membangkang dari saudara tua.

Setelah serangkaian pembicaraan yang tak menghasilkan kesepakatan apapun, Singapura dan Inggris setuju untuk mencari rute baru untuk terbang dari Inggris ke Singapura.

Pada 24 Januari 1979, Concorde G-BOAD kembali beroperasi menghubungkan Inggris dan London. Namun, rute penerbangan jadi semakin panjang karena harus menghindarkan wilayah udara Malaysia. Dan aklibatnya  tidak ekonomis.

Akhirnya, pada tanggal 1 November 1980 penerbangan Concorde G-BOAD berakhir untuk selamanya.

Kekuatan Udara Indonesia 1960an

Sebelumnya

Lima Pesawat Terbaik Rancangan Biro Desain Ilyushin

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Histoire