post image
Petugas di Air Traffic Controller (ATC)/Net
KOMENTAR

Peran Air Traffic Controller (ATC) atau pemandu lalu lintas di udara sangat krusial dalam keselamatan transportasi udara. Sayangnya, pernah terjadi beberapa insiden kesalahan manusia yang akhirnya berujung fatal, meski ada sedikit di antaranya yang berhasil selamat.

Dua penerbangan pada Rabu dini hari, 23 Maret 2011 menjadi contoh beruntung karena berhasil mendarat setelah pemandu ATC tertidur.

Penerbangan pertama adalah American Airlines 1012. Menurut NBC, penerbangan pertama kurang mendapatkan respons dari menara di Bandara Nasional Ronald Reagan, Washington.

Setelah menyadari tidak ada respons dari menara, penerbangan awalnya berputar di dekat bandara, dan berusaha untuk mendapatkan tanggapan.

Namun, karena pemandu yang bertugas tertidur, satu-satunya titik kontak mereka adalah dengan fasilitas ATC regional di Warrenton, Virginia. Upaya kontak berusaha dilakukan, termasuk melalui telepon, tetapi tidak berhasil.

Akibatnya, pesawat harus mendarat tanpa bantuan. Tidak lama kemudian, penerbangan United 628T juga terpaksa mendarat tanpa dipandu.

Kelelahan petugas dinilai sangat berperan dalam insiden tersebut. Ketika itu adalah shift malam keempat berturut-turut dari petugas. Ia juga bukan seorang pemula, karena telah bekerja di domain kontrol lalu lintas udara selama 20 tahun, dengan 17 di antaranya berada di Washington National.

Administrator FAA (Administrasi Penerbangan Federal) Randy Babbitt mengatakan tidak ada satu pun dari kedua pesawat yang lepas dari kontak radar, dan sistem cadangan diaktifkan untuk memastikan pendaratan yang aman.

Namun terlepas dari itu, kurangnya bantuan dari ATC, terutama di bandara yang sibuk, terbukti sangat berbahaya.

Mantan Ketua Dewan Keselamatan Transportasi Nasional Mark Rosenker pernah mengirim surat kepada FAA, menyoroti kekhawatirannya terkait empat kecelakaan yang melibatkan pemandu ATC yang kurang tidur.

Empat kecelakaan tersebut terjadi antara Juli 2001 dan Maret 2006. Salah satunya adalah tabrakan dua pesawat yang berjarak 12 detik.

Simple Flying menyebut, insiden ini mendorong pemikiran ulang tentang protokol kepegawaian di menara ATC.

Menteri Perhubungan saat itu, Ray LaHood kemudian menginstruksikan agar pemandu lalu lintas menjadi dua orang pada shift malam.

Dalam hal ini, pengawas yang bertugas memiliki antara dua dan enam jam tidur di antara shift, dengan satu bekerja tiga kali dalam dua hari. Ini menggarisbawahi pentingnya waktu istirahat yang cukup dalam peran penting keselamatan, yang banyak dimiliki oleh industri penerbangan.


KPK akan Dilibatkan untuk Urai Benang Kusut Riau Air

Sebelumnya

Perusahaan Besar Perlu Salurkan BLT seperti AGP

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel AviaNews