post image
KOMENTAR

Korean Air menjadi maskapai Asia yang berhasil melakukan rebound secara mengesankan. Pada kuartal kedua tahun ini, atau Q2, masksapai negeri ginseng itu mencatat keuntungan hampir empat kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Cuan Korean Air dari bulan April sampai Juni tercatat sebesar KRW 735,9 miliar atau setara 569,2 juta dolar AS.

Sementara pada periode yang sama tahun, Korean Air mencatat keuntungan sebesar KRW 196,9 miliar atau setara 152,3 juta dolar AS.

Untuk menghasilkan laba operasional sebesar itu, Korean Air memperoleh total pendapatan sebesar KRW 3,3 triliun atau 2,57 miliar dolar AS. Adapun biaya operasional naik menjadi KRW 2,59 triliun atau setara 2 miliar dolar AS, dan laba bersih mencapai KRW 450,4 miliar yang berarti setara 348,4 juta dolar AS.

Dalam penjelasannya yang diperoleh redaksi dari SimpleFlying, pihak Korean Air mengatakan kenaikan harga avtur dan nilai tukar yang bergejolak selama kuartal kedua dapat diatasi dengan pemulihan permintaan penumpang dan kargo.

Pandemi Covid-19 memperlihatkan betapa pentingnya arti operasional kargo pada perkembangan maskapai, termasuk Korean Air. Untuk Q2, pendapatan kargo maskapai ini sebesar KRW 2,17 triliun atau setara 1,67 miliar dolar AS. Ini berarti sekitar 66 persen dari total pendapatan.

Adapun pendapatan penumpang menyumbang sebesar KRW 874 miliar atau setara 672 juta dolar AS dan pendapatan lainnya sebesar KRW 287 miliar atau setara 220 juta.

Pada Q2 2021, total pendapatan sebesar KRW 1,95 triliun atau 1,5 miliar dolar AS, dengan kargo menyumbang 77 persen dan pendapatan penumpang memberikan kontribusi sebesar 11 persen.

Dalam laporan juga disebutkan bahwa pendapatan kargo meningkat 44 persen secara YoY, meskipun ada gangguan rantai pasokan yang disebabkan oleh perang berkepanjangan di Ukraina dan lock down di China.

Korean Air mengatasinya dengan mengalihkan fokusnya secara strategis untuk mengangkut pasokan bantuan darurat, suku cadang mobil, semikonduktor, dan elektronik dengan permintaan tinggi. Rute kargo yang paling cepat berkembang dan paling populer adalah antara Asia dan Amerika, diikuti oleh Eropa dan Asia Tenggara. Maskapai ini memiliki armada kargo 23 Boeing Freighter, termasuk empat B747F, tujuh B747-8F, dan 12 B777F.

Meskipun tidak sebanding dengan kargo, pendapatan penumpang mencatat peningkatan yang sehat sebesar 307 persene dari tahun ke tahun.

Maskapai mengharapkan untuk pulih lebih lambat pada paruh kedua tahun 2022 dari yang diperkirakan semula. Ini mengaitkannya dengan dampak pandemi yang sedang berlangsung, yang tidak diragukan lagi merujuk pada kebijakan nol-Covid dari tetangga dekatnya, China.

Volume penumpang tertinggi adalah ke Amerika, diikuti oleh Asia Tenggara, dengan lalu lintas domestik tepat di depan Eropa. Mengenai penjualan, 52 persene berasal dari Amerika, 17 persene dari Asia Tenggara, 15 persene dari dalam negeri, dan 10 persen dari Eropa. Penjualan rute ke China hanya menghasilkan 2 persen dari penjualan Q2 Korean Air.

Faktor beban penumpang untuk Q2 mencapai 80 persen, mendekati 83 persen yang dicapai pada Q2 2019. Maskapai ini dengan hati-hati menambah kapasitas, berencana menjadi sekitar 50 persen dari kapasitas pra-Covid pada bulan September.

Setelah itu, dikatakan akan terus "merespon secara fleksibel terhadap permintaan." Pada akhir Juni, Korean Air melaporkan memiliki armada 131 pesawat penumpang. Armada Airbus termasuk sepuluh A220, 10 A380, dan 30 A330. Dari Boeing, ia memiliki 18 B737, tiga B737 MAX 8, sembilan B747-8Is, 41 B777, dan sepuluh B787-9.

Peningkatan pesawat penumpang juga menghadirkan kapasitas kargo ekstra, yang diharapkan dapat diisi oleh Korean Air. Melihat sisa tahun 2022, maskapai mengatakan akan memaksimalkan keuntungan dengan memanfaatkan layanan penumpang terjadwal, mengoperasikan rute berdasarkan permintaan regional dan fluktuasi kapasitas, dan melalui optimalisasi armada.


KPK akan Dilibatkan untuk Urai Benang Kusut Riau Air

Sebelumnya

Perusahaan Besar Perlu Salurkan BLT seperti AGP

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel AviaNews