post image
KOMENTAR

NASKAH “Menikmati Humor Banyumasan” (27 Januari 2020) memperoleh tanggapan gembira-ria dari berbagai pihak termasuk tidak kurang dari Pak Dahlan Iskan yang tidak perlu dijelaskan tentang siapa beliau .

Egalitarian

Sementara penulis biografi asal Batang merangkap Kepala Departemen Penelitian dan Pengembangan Pengurus Pusat Forum Taman Bacaan Masyarakat, Agus M. Irkham menegaskan bahwa di dalam ngapak beliau merasakan ada keintiman dan sikap egalitarian. Hangat, akrab dan membahagiakan.

Lain halnya dengan mahaguru kebudayaan Jawa saya yang juga pembatik merangkap kartunis dan penulis kelas langitan asal Kaliwungu, Darminto “Odios” Sudarmo bukan menanggapi namun malah memperparah suasana kejenakaan ngapak dengan sebuah lelucon Banyumasan berhias sentuhan pemikiran dasar matematika a la Principia Mathematica mahakarya barengan Russel-Whitehead sebagai berikut :

Ngapak

(Diawali berbagai sticker orang tertawa terbahak-bahak dan terguling-guling) “Iya ngapak lucu nemen kiye! Kaya kancane nyong crita, mangan ning warteg segane ora diitung. Lho ken? Lha iyalah, lawuh mujahir goreng siji, sayur tah loro, krupuk tela, lha sega priben carane ngetung? Saka siji? Ya, ora lah.

Apabila diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan resiko sirna sukma kengapakannya : “Iya ngapak memang sangat lucu! Seperti teman saya pernah cerita makan di Warung Tegal nasinya tidak dihitung. Lho kok bisa!? Lha iyalah, lauk pauk ikan mujahir goreng satu, sayur tahu dua, krupuk tiga, lha bagaimana cara menghitung nasi? Mulai dari satu? Ya, tentu saja tidak lah!”.

Naga-naganya Melly Goeslaw perlu bikin lagu baru berjudul “Menghitung Nasi”.

Penulis adalah pendiri Perhimpunan Pencinta Humor peneliti humorologi dan pembelajar kebudayaan Jawa 

Andaikata Saya Presiden RRC

Sebelumnya

Mengenang Gus Sholah

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jayasupranaisme