post image
KOMENTAR

Pelarangan terbang Boeing 737 Max-8 diperkirakan akan membuat pabrik pesawat Amerika Serikat itu menderita kerugian setidaknya 5,6 miliar dolar AS dalam pembukuan quarter kedua tahun ini.

Karena pelarangan terbang 737 Max dan konsekuensi dari keterlambatan pengiriman pesawat, Boeing akan mencatatkan biaya setelah pajak sebesar 4,9 miliar dolar AS atau 8,74 dolar AS per saham.

Hal ini disampaikan dalam sebuah dokumen yang diumumkan hari Kamis kemarin (18/7).

“Biaya ini akan muncul dari pengurangan keuntungan sebesar 5,6 miliar dolar AS dan pendapatan sebelum pajak pada quarter ini.

Krisis yang dipicu oleh kecelakaan dua Max-8 di Indonesia dan Ethiopia ini membuat setiap bulan 42 pesawat tidak dapat dikirimkan. Akibatnya, ongkos produksi naik sebesar 1,7 miliar dolar AS.

Perkiraan terbaik Boeing, Max bisa kembali beroperasi di awal quarter keempat tahun ini.

“Kami sedang fokus agar 737 Max bisa kembali beroperasi,” ujar Ketua dan Presiden Boeing, Dennis Muilenburg seperti dikutip dari AeroTime.

“Ini momen yang menentukan bagi Boeing. Tidak ada yang lebih penting bagi kita kecuali keamanan kru dan penumpang yang terbang dengan pesawat kami,” sambungnya.

Pada quarter pertama tahun ini Boeing melaporkan pendapatan sebesar 22,9 miliar dolar AS. Angka ini memperlihatkan penuruan sebesar 2 persen dibandingkan pada quater yang sama tahun lalu.

ARJ21 Telah Ujicoba Kemampuan Terbang Tinggi

Sebelumnya

Ada Rencana Unjuk Rasa, Bandara Hong Kong Terpantau Normal

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel AviaNews