Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah memicu gangguan serius terhadap sektor penerbangan sipil di Arab Saudi. Sedikitnya 332 penerbangan dilaporkan dibatalkan, sementara ratusan jadwal keberangkatan lainnya mengalami penundaan menyusul serangan rudal yang dilancarkan oleh kelompok Houthi Yaman.
Berdasarkan data real-time AirNav Radar yang dikutip dari media Express, serangan rudal tersebut menyasar Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada Kamis, 8 Oktober 2026. Selain pembatalan massal, tercatat ada 223 penerbangan keberangkatan yang mengalami penundaan tanpa kepastian waktu akibat situasi keamanan yang memanas.
Serangan ini dilaporkan berdampak langsung pada infrastruktur bandara, termasuk merusak salah satu terminal dan menghancurkan sedikitnya satu unit pesawat penumpang kosong milik maskapai Saudi Arabian Airlines.
Aksi tersebut merupakan bagian dari gelombang serangan beruntun yang dilancarkan Houthi dalam tiga hari terakhir terhadap sejumlah fasilitas militer dan bandara sipil di Arab Saudi. Mengutip laporan CNN, kelompok Houthi mengklaim menggunakan kombinasi rudal jelajah, rudal balistik, dan pesawat nirawak (drone) untuk menyerang target di Riyadh dan Najran.
Otoritas pertahanan Arab Saudi menyatakan telah berhasil mencegat dua rudal balistik di atas langit Riyadh. Kendati demikian, serpihan atau puing-puing rudal yang berjatuhan tetap menimbulkan kerusakan material pada fasilitas publik, termasuk sebuah taman kanak-kanak dan klinik medis. Pada hari-hari sebelumnya, rangkaian serangan serupa di Riyadh dan Abha juga sempat menelan korban jiwa serta puluhan orang luka-luka.
Di tengah situasi yang kian menegang ini, ketegangan militer juga dilaporkan meluas ke sejumlah wilayah strategis di Yaman, sementara pergerakan diplomatik dan pertahanan kolektif terus disiapkan oleh sejumlah negara sekutu untuk merespons ancaman keamanan di kawasan tersebut.



KOMENTAR ANDA