Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menyampaikan keprihatinannya terkait penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik strategis. Ia menilai bahasa nasional Indonesia masih kalah dominan jika dibandingkan dengan penggunaan bahasa Inggris.
Salah satu sorotan utama yang dikritisi secara langsung adalah papan informasi serta rambu petunjuk di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Padahal, bandara tersebut merupakan pintu gerbang utama internasional bagi para pelintas batas negara.
Menurut Mu'ti, keberadaan bandara internasional seharusnya dimanfaatkan secara optimal sebagai sarana diplomasi budaya. Melalui ruang publik tersebut, Indonesia mempunyai kesempatan emas untuk memperkenalkan bahasa Indonesia kepada warga asing dari berbagai belahan dunia.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Mendikdasmen dalam kegiatan bertema "Bahasa Indonesia Bermartabat; Indonesia Berdaulat". Momentum ini digunakan untuk menegaskan kembali pentingnya menjaga kedudukan serta marwah bahasa Indonesia di rumah sendiri.
Lebih lanjut, ia menyayangkan kecenderungan instansi maupun lembaga negara yang lebih membanggakan penggunaan istilah asing. Gejala lebih memilih istilah asing ketimbang padanan kata bahasa Indonesia kerap pula dijumpai dalam berbagai agenda pertemuan resmi.
Kendati demikian, Mendikdasmen menegaskan bahwa mengutamakan bahasa Indonesia bukan berarti menutup diri terhadap penguasaan bahasa asing. Keterampilan berbahasa asing tetap penting, namun porsi penempatannya harus proporsional dengan menjadikan bahasa Indonesia sebagai prioritas utama.
Di samping menyoroti ruang publik, Mu'ti juga mengomentari pergeseran pola komunikasi yang terjadi di kalangan generasi muda saat ini. Penggunaan singkatan gaul yang masif dinilai kadang kala menciptakan celah kesenjangan komunikasi antar-generasi.
Ia bahkan mengaku kerap merasa kesulitan memahami pesan singkat atau singkatan baru ketika berdialog via aplikasi perpesanan dengan anak-anak maupun mahasiswanya. Dinamika bahasa pergaulan tersebut menunjukkan betapa cepatnya perubahan tren bahasa di era digital.
Selain bahasa nasional, pemerintah juga terus berupaya merawat kekayaan bahasa daerah yang tersebar di seluruh penjuru nusantara. Berdasarkan data mutakhir dari Badan Bahasa, saat ini tercatat ada sebanyak 729 bahasa daerah di Indonesia.
Dari ratusan bahasa lokal tersebut, wilayah Papua tercatat memiliki keragaman dan jumlah bahasa daerah terbanyak. Melalui penguatan bahasa Indonesia dan pelestarian bahasa ibu, identitas kultural bangsa diharapkan tetap kokoh di tengah arus globalisasi.



KOMENTAR ANDA