post image
Fokker F.7 yang menghubungkan dua dunia, Eropa dan Hindira Belanda pada Oktober-November 1924.
KOMENTAR

Pada Oktober 1924, sebuah lapangan terbang berumput di dekat Amsterdam menjadi saksi bisu misi penerbangan yang sangat ambisius. Tiga penerbang muda bersiap untuk melakukan perjalanan udara yang belum pernah tercatat sebelumnya menuju Batavia, melintasi jarak lebih dari 15 ribu kilometer.

Pada masa itu, layanan penerbangan rutin antara Belanda dan Hindia Belanda belum ada sama sekali. Perjalanan udara jarak jauh ini masih dianggap sebagai sebuah eksperimen besar guna menguji apakah daratan Eropa dan Pulau Jawa benar-benar dapat dihubungkan melalui jalur udara.

Di Lapangan Terbang Schiphol, sebuah pesawat bersayap tunggal berjenis Fokker F.7 dengan nomor registrasi H-NACD telah siap sedia. Pesawat tersebut telah dipersiapkan secara khusus dengan membawa tambahan bahan bakar, perlengkapan navigasi, serta berbagai perbekalan untuk menghadapi perjalanan panjang di depan.

Misi bersejarah ini dipiloti Thomasson van der Hoop, didampingi oleh Letnan van Weerden Poelman serta mekanik pesawat P. van den Broeke. Keberangkatan mereka turut dilepas oleh para insinyur, anggota komite penerbangan, serta perancang pesawat terkenal Anthony Fokker yang hadir langsung di Schiphol.

Tepat pukul 08.45 pagi, pesawat Fokker tersebut mulai bergerak meninggalkan landasan rumput dan terbang mengudara. Setelah sempat didampingi oleh pesawat lain untuk sesaat, Fokker H-NACD melanjutkan perjalanan ke arah timur seorang diri melintasi langit Eropa.

Kendala di Bulgaria

Kendati demikian, tantangan besar segera menghadang ketika pesawat mengalami masalah mesin di dekat Plovdiv, Bulgaria, yang memaksa mereka melakukan pendaratan darurat di Saladovo. Mengingat lokasi tersebut belum mencapai separuh perjalanan menuju Jawa, ekspedisi terpaksa terhenti dan pesawat harus menjalani perbaikan intensif.

Di tengah penundaan tersebut, kisah perjalanan ini berhasil memikat perhatian publik di Belanda melalui pemberitaan surat kabar Het Leven. Dukungan luar biasa mengalir dari masyarakat luas yang menggalang dana untuk mendatangkan mesin pengganti Rolls-Royce Eagle demi kelanjutan misi ekspedisi ini.

Setelah hampir sebulan tertahan di Bulgaria dan perbaikan selesai, pesawat Fokker kembali mengudara pada tanggal 2 November untuk melanjutkan penerbangan panjangnya. Rute perjalanan kemudian melintasi Konstantinopel (Istanbul), Anatolia, Persia, British India, hingga kawasan Asia Tenggara.

Setibanya di Bandara Cililitan, Batavia, pada akhir November 1924, kedatangan pesawat ini disambut oleh kerumunan besar yang mencakup pejabat, perwira militer, jurnalis, serta Gubernur Jenderal Hindia Belanda Dirk Fock. Pesawat mendarat dengan mulus diiringi sorak-sorai sorak gembira masyarakat setelah menempuh perjalanan lebih dari tujuh minggu dari Amsterdam.

Bandara Cililitan kini dikenal dengan nama Bandara Halim Perdanakusuma.

Keberhasilan penerbangan bersejarah ini menandai babak baru dalam dunia aviasi internasional. Apa yang awalnya hanya sebuah eksperimen berani kini terbukti mampu membuka jalan bagi era baru perjalanan udara jarak jauh antara dunia Eropa dan Hindia Belanda.


Kisah Mencekam British Airways 009 di Atas Sukabumi

Sebelumnya

Mengenang Tragedi Cubana Flight 455, Peristiwa Kelam di Langit Karibia

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Histoire