Kisah menegangkan ini terjadi malam hari, 24 Juni 1982. Sebuah pesawat Boeing 747-236B milik British Airways dengan nomor registrasi G-BDXH, yang dijuluki City of Edinburgh, terbang dalam rute reguler dari London menuju Auckland, Selandia Baru.
Di tengah perjalanan malam yang tenang pada ketinggian jelajah 37.000 kaki di atas Samudra Hindia dekat wilayah Jawa Barat, para awak dan 263 orang di dalam pesawat sama sekali tidak menyadari bahaya besar yang sedang mengintai di depan mereka.
Suasana kabin yang semula tenang mendadak berubah menjadi aneh ketika para pilot melihat kilatan cahaya biru terang yang menari-nari di kaca kokpit serta percikan api misterius yang menyelimuti bilah sayap pesawat. Fenomena optik yang tampak indah ini sebenarnya adalah St. Elmo's fire, yang terjadi akibat muatan listrik statis tinggi dari partikel-partikel mikroskopis yang bergesekan dengan badan pesawat di udara gelap gulita.
Tidak lama setelah fenomena cahaya tersebut, kepulan asap beraroma belerang yang menyengat mulai merembes masuk ke dalam kabin penumpang melalui sistem ventilasi udara. Situasi dengan cepat memburuk ketika mesin nomor empat pesawat tiba-tiba mengalami gangguan parah, disusul oleh kegagalan total pada tiga mesin jet lainnya secara berurutan dalam waktu kurang dari dua menit.
Dalam sekejap, pesawat berbadan lebar bermesin empat yang membawa ratusan jiwa tersebut berubah menjadi "glider" raksasa tanpa daya di ketinggian jelajah yang tinggi. Sang kapten penerbangan, Eric Moody, dengan luar biasa berhasil menjaga ketenangannya dan menyampaikan salah satu pengumuman paling ikonik sekaligus tenang dalam sejarah penerbangan dunia kepada para penumpang yang mulai panik.
Tekanan udara di dalam kabin dilaporkan mulai menurun drastis, memaksa masker oksigen darurat otomatis terlepas dari langit-langit kabin untuk menyelamatkan para penumpang yang kesulitan bernapas. Di tengah kesenyapan mencekam yang hanya diisi oleh deru angin kencang di luar badan pesawat, beberapa penumpang bahkan sempat menuliskan surat perpisahan terakhir karena meyakini ajal mereka sudah dekat.
Tanpa adanya tenaga penggerak dari mesin, pesawat raksasa itu mulai meluncur turun secara tajam dari ketinggian 37.000 kaki demi mencari lapisan udara yang lebih rendah agar mesin dapat dihidupkan kembali. Upaya penyelamatan diri ini menuntut keahlian navigasi tingkat tinggi dari para awak kokpit yang harus mengarahkan pesawat melewati rintangan pegunungan di daratan Jawa tanpa bantuan pandangan visual yang memadai.
Penyebab dari bencana senyap ini baru terungkap jauh kemudian, yakni abu vulkanik pekat yang tidak terdeteksi oleh radar cuaca akibat letusan Gunung Galunggung di Tasikmalaya, Jawa Barat. Debu vulkanik panas yang masuk ke dalam mesin jet meleleh dan melapisi komponen vital bagian dalam, sehingga mematikan pembakaran sebelum akhirnya mendingin dan mengelupas ketika pesawat meluncur turun ke udara bersih.
Berkat ketenangan awak pesawat serta penurunan ketinggian yang membawa mereka keluar dari kepulan abu, satu per satu mesin jet berhasil dihidupkan kembali secara bertahap di udara. Meskipun kaca depan pesawat tergores parah dan buram akibat hantaman partikel debu, Kapten Eric Moody berhasil mendaratkan pesawat dengan selamat darurat di Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, tanpa ada korban jiwa.
Insiden heroik yang melibatkan Gunung Galunggung ini mengubah standar keselamatan industri penerbangan global secara permanen hingga hari ini. Sejak peristiwa tersebut, sistem peringatan dini abu vulkanik, pemantauan satelit antariksa, serta prosedur pengalihan jalur penerbangan darurat diperketat di seluruh dunia guna mencegah tragedi serupa terulang kembali.



KOMENTAR ANDA