Presiden Amerika Serikat Donald Trump melancarkan serangan verbal keras terhadap pemenang Nobel Perdamaian tahun ini. Dalam pernyataannya, Trump menggambarkan sosok penerima penghargaan bergengsi tersebut sebagai figur liberal yang bekerja di PBB dan tidak pernah dikenal publik sebelumnya.
Serangan tersebut disampaikan Trump saat berpidato dalam kampanye Partai Republik di Syracuse, New York. Ia mengaku sama sekali tidak pernah mendengar nama pemenang tersebut sebelumnya, seraya menyebut keputusan Komite Nobel sebagai sebuah misteri besar bagi publik luas.
Pemenang yang dimaksud adalah Navi Pillay, seorang yuris asal Afrika Selatan yang pernah memimpin komisi penyelidikan PBB yang menyimpulkan bahwa Israel telah melakukan genosida di Gaza. Terkait hal itu, Trump turut menuding bahwa sang pemenang secara nyata memiliki kebencian terhadap Israel.
Dalam kesempatan yang sama, Trump kembali mengklaim bahwa dirinya telah berhasil menyelesaikan delapan konflik perang di berbagai belahan dunia. Ia memamerkan pencapaian tersebut, termasuk merujuk pada konflik antara India dan Pakistan, sebagai bukti nyata kontribusinya bagi perdamaian global.
Menurut Trump, setiap satu saja dari delapan konflik yang diklaim telah diselesaikannya sudah lebih dari cukup untuk membawanya meraih Hadiah Nobel. Ia menegaskan bahwa belum pernah ada seorang presiden AS pun yang memiliki rekam jejak penyelesaian perang sebanyak dirinya.
Kritik tajam tersebut kemudian diarahkan langsung kepada Komite Nobel Perdamaian serta negara Norwegia sebagai tempat asal penghargaan tersebut. Trump menyatakan dengan tegas bahwa Amerika Serikat di bawah kepemimpinannya seharusnya berhak menerima Nobel Perdamaian.
Trump bahkan melangkah lebih jauh dengan menyebut ketiadaan namanya dalam daftar penerima Nobel sebagai noda yang tak terhapuskan bagi negara Norwegia. Ia menuduh penghargaan tersebut telah selamanya didiskreditkan oleh sekelompok ideolog radikal yang anti-demokrasi.
Selain melontarkan kritik di atas panggung kampanye, Trump juga memperkuat serangannya melalui unggahan di platform media sosial Truth Social. Ia kembali menegaskan bahwa tidak ada seorang pun di dunia ini yang mengenal Navi Pillay selain karena sikapnya yang memusuhi Israel.
Di sisi lain, Komite Nobel sendiri memberikan penghargaan tersebut atas peran sentral Navi Pillay dalam upaya mengadili kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan genosida. Komite menilai rekam jejak panjang Pillay telah memperluas cakupan dan dampak hukum internasional secara signifikan.
Navi Pillay memiliki rekam jejak karier internasional yang panjang, termasuk pernah menjabat sebagai hakim sekaligus presiden Tribunal Pidana Internasional untuk Rwanda. Ia juga pernah bertugas sebagai hakim di Mahkamah Pidana Internasional (ICC) serta Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia periode 2008 hingga 2014.



KOMENTAR ANDA