post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan

ADA dua penolakan paling terkenal dalam sejarah penghargaan. Dilakukan dua tokoh beda waktu, bidang dan bangsa. Yang satu warga Prancis, sastrawan dan yang satu warga Russia, matematikawan.

1964, Jean-Paul Sartre menolak Nobel Sastra. Katanya, seorang penulis tidak boleh membiarkan dirinya menjadi institusi.

2010, Grigori Perelman menolak Clay Millennium Prize 1 juta dolar dan Fields Medal. Katanya, saya tidak sendirian.

Keduanya menolak bukan karena benci uang, tapi karena benci cara dunia menilai kebenaran.

Konjektur Poincaré adalah satu-satunya dari tujuh Masalah Milenium yang sudah terpecahkan. Soalnya terlihat sederhana. Henri Poincaré bertanya tahun 1904: jika kamu punya ruang tiga dimensi yang tertutup, tidak berlubang, dan setiap lingkaran di dalamnya bisa diciutkan jadi titik, apakah ruang itu pasti bola tiga dimensi?

Bayangkan permukaan bumi. Jika kamu melingkarkan tali di bola, kamu bisa tarik tali itu sampai jadi satu titik. Jika kamu di donat, tidak bisa, karena ada lubang di tengah. Poincaré bertanya: bagaimana jika itu terjadi di ruang 3 dimensi yang tidak bisa kita lihat? Apakah itu tetap bola?

Selama ribuan tahun tidak ada homo sapiens yang bisa menjawab. Bahkan semula juga tidak ada yang mempertanyakan.

Pada 2002-2003, seorang Rusia kurus, berjanggut lebat, yang menolak memotong kuku, mengunggah tiga artikel di arXiv, bukan jurnal resmi. Judulnya membosankan:  The entropy formula for the Ricci flow.

Namanya Grigori Perelman, 36 tahun, mantan peneliti Steklov Institute di St Petersburg. Ia hidup dengan ibunya di apartemen kumuh, gajinya 100 dolar. Ia tidak membuktikan Poincaré secara langsung. Ia membuktikan yang lebih besar: Konjektur Geometri Thurston.

Idenya menggunakan aliran Ricci, gagasan Richard Hamilton. Hamilton membayangkan ruang seperti bongkahan es yang dipanaskan: bentuknya mengalir, benjolan-benjolan diratakan, hingga bentuk aslinya kelihatan.

Masalahnya, aliran itu bisa membentuk singularitas, seperti es mencair jadi tetesan yang putus. Perelman menemukan cara memotong singularitas itu. Ia melakukan operasi bedah matematika. Dan untuk mengontrol operasi itu, ia menemukan entropi baru. Dua makalah 30 halaman itu membuat dunia topologi menangis.

Tahun 2006, International Mathematical Union ingin memberinya Fields Medal, penghargaan tertinggi matematika, setara Nobel. Ia menolak. Ia tidak datang ke Madrid. "Saya tidak tertarik dengan uang atau ketenaran. Saya tidak ingin dipamerkan seperti binatang di kebun binatang," katanya kepada Sir John Ball.

Tahun 2010, Clay Mathematics Institute ingin memberinya 1 juta dolar untuk Masalah Milenium pertama yang terpecahkan. Ia menolak lagi. Alasannya dicatat oleh koleganya: "Saya tahu bagaimana mengontrol alam semesta. Katakan pada saya mengapa saya harus lari mengejar satu juta dolar?" Dan alasan yang lebih penting: kontribusinya setara dengan Hamilton. Memberi hadiah hanya kepadanya adalah tidak adil.

Di sinilah ia bertemu Sartre.

Sartre menolak Nobel karena ia tidak mau dilegitimasi oleh institusi borjuis. Perelman menolak karena ia tidak mau institusi me-legitimasi kebenaran yang seharusnya milik bersama. Matematika baginya bukan kompetisi. Kebenaran tidak butuh juri.

Hari ini Perelman masih di St Petersburg. Tidak ada HP, tidak ada email. Kadang terlihat memungut jamur di hutan dengan kantong plastik. Ia memecahkan bentuk alam semesta, lalu memilih hidup di luarnya.

Sartre bilang neraka adalah orang lain. Perelman membuktikan surga adalah ketika orang lain dilupakan, dan hanya bukti yang tersisa.


Ultimatum MSCI

Sebelumnya

Mampukah AI Memprogram Diri Sendiri?

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana