post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaa

SEMULA saya pikir hewan paling banyak diburu ilegal di dunia adalah gajah, badak atau harimau. Saya keliru. Ternyata yang paling terancam punah adalah trenggiling.

Hewan pemalu, tidak punya gigi, jalan seperti dinosaurus kecil, dan punya satu-satunya pertahanan: menggulung diri jadi bola. Pertahanan yang sempurna melawan singa, tapi tidak berguna melawan manusia yang tinggal angkat dan masukkan ke karung.

Di Indonesia kita punya dua spesies: Trenggiling Sunda (Manis javanica) di Jawa-Sumatra-Kalimantan, dan Trenggiling Cina (Manis pentadactyla) di utara. Keduanya masuk Daftar Merah IUCN: Kritis dan Terancam Punah.

Trenggiling itu tukang kebersihan hutan. Satu ekor dewasa bisa makan 70 juta semut dan rayap setahun. Lidahnya 40 cm, lengket, masuk ke sarang rayap tanpa merusak pohon. Kalau trenggiling hilang, populasi rayap meledak, kayu lapuk lebih cepat, tanah kehilangan nutrisi, dan petani rugi.

Ia juga arsitek tanah. Cakar depannya yang besar menggali lubang tidur. Setelah ia pergi, lubang itu dipakai musang, ular, bahkan landak. Hutan kehilangan tukang gali gratis.

Dua alasan di-poaching, keduanya mitos.

Pertama, sisiknya. Sisik trenggiling terbuat dari keratin, sama seperti kukumu. Tidak ada obat di dalamnya. Tapi di pasar gelap Vietnam dan China, sisiknya dijual $3.000 per kilo, diklaim bisa menyembuhkan asma, kanker, melancarkan ASI. Studi farmakologi 2018-2023 membuktikan: tidak ada efek. Sama saja makan kuku.

Kedua, dagingnya. Di restoran elit, daging trenggiling dihargai Rp 5-10 juta per ekor, dianggap simbol status. Padahal trenggiling liar membawa virus dan bakteri, karena tubuhnya penuh rayap dan tanah.

Data TRAFFIC: antara 2016-2024, sekitar 900.000 trenggiling disita secara global. Itu yang ketahuan. Yang lolos diperkirakan 3 kali lipat. Di Indonesia, penyitaan terbesar 2023 di Medan: 1,2 ton sisik, setara 3.000 ekor mati dalam sekali kirim.

 Trenggiling tidak bisa hidup di kebun sawit monokultur. Ia butuh hutan primer dengan kayu busuk dan sarang rayap. Setiap hektar hutan dibuka, satu keluarga trenggiling kehilangan kantin dan kamar tidurnya.

Apa yang bisa kita lakukan?

1. Jangan beli, jangan makan. Kalau ada yang menawarkan sisik atau daging trenggiling di pasar online, laporkan ke BKSDA atau Lapor! di 0812-... Lebih cepat lewat Instagram @bksda.

2. Dukung pusat rehabilitasi. Di Sumatera Utara ada Yayasan Scorpion, di Jawa Barat ada Javan Pangolin Conservation di Tasikmalaya. Mereka melepasliarkan trenggiling sitaan, karena 80% trenggiling sitaan mati stres kalau tidak ditangani.

3. Jaga hutan di sekitar. Kalau kamu tinggal dekat hutan, biarkan tumpukan kayu busuk. Itu restoran trenggiling.

4. Edukasi. Ajari anak: sisik trenggiling = kuku. Tidak sakti.

Trenggiling tidak bisa teriak. Ia hanya menggulung. Ia percaya dengan menggulung, dunia akan pergi. Manusia harus membuktikan kepercayaan itu benar.

Kalau hari ini kita biarkan satu ekor mati, besok kita akan membayar dengan hutan yang sepi dari tukang bersihnya, tanah yang tandus, dan rayap yang pesta di rumah kita. Ekosistem rusak

Selamatkan trenggiling, sebelum ia tinggal nama di buku pelajaran anak-anak kita. Seperti dinosaurus.


Perelman dan Sartre

Sebelumnya

Ultimatum MSCI

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana