Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan
(PARA beliau yang tunduk pada dogma filsafat akademis sebaiknya jangan lanjut membaca naskah ini demi tidak bingung campur jengkel akibat kekacau-balauan pemikiran tumpang-tindih bertabrakan terkandung di dalam naskah ini)
Istilah filsafat secara etimologis berasal dari philos dan sophia: cinta pada kearifan. Sementara “filsafat filsafat” adalah meta-refleksi, yakni kegiatan berpikir tentang berpikir itu sendiri.
Dalam tradisi Barat, Sokrates memulai ini dengan metode elenchus alias menguji asumsi lewat pertanyaan. Di Timur, tradisi Vedanta dan Zen juga membongkar kerangka pikir dengan koan dan meditasi. Filsafat Jawa membongkar kearifan. Semisal Ojo Dumeh.
Intinya sama: filsafat bukan sekadar menjawab, tapi membongkar cara kita bertanya. Tujuannya bukan menemukan kebenaran final, melainkan menyadari keterbatasan kerangka daya berpikir manusia. Seperti kata Wittgenstein, “Batas bahasa saya adalah batas dunia saya.”
Filsafat filsafat mengajak kita melihat bahwa banyak perdebatan hebat di dunia ini sebenarnya hanya salah paham semantik serta beda tafsir belaka.
Bayangkan kamu sedang ribut debat sama teman soal “lezat itu apa sih?” Kamu bilang soto, dia bilang steak. Itu debat biasa. Nah, filsafat filsafat itu kayak kamu berhenti sejenak dan nanya: “Eh, kenapa kita ribut? Emang ‘lezat’ itu bisa diukur? Atau kita cuma ribut karena beda selera dan definisi?”. De gustibus non est disputandum.
Jadi filsafat filsafat itu level langitan. Kalau filsafat biasa mikirin hidup, Tuhan, keadilan, maka filsafat filsafat mikirin: “Cara kita mikir itu bener nggak sih? Alat mikir kita rusak nggak?”.
Contoh gampangnya: kenapa kita yakin matahari akan terbit besok? Karena kemarin-kemarin juga terbit.
Tapi filsuf David Hume nanya: “Emang masa lalu menjamin masa depan?”
Nah, itu filsafat filsafat. Bikin nggak nyaman, tapi bikin kepala lebih jernih.
Filsafat filsafat itu ibarat nguping percakapan otak kamu sendiri, terus kamu nge-judge, “Lah, ngapain sih kamu mikir gitu?”. Bayangin kamu galau jam 2 pagi. Otak kamu: “Gue ini siapa?”. Filsafat filsafat: “Lah, ‘gue’ yang mana dulu? Yang ngetik status galau, atau yang besoknya pura-pura nggak inget?”
Atau saat kamu debat di kolom komentar. Filsafat biasa: ‘Salah! Pendapatmu ngawur!’.
Filsafat filsafat: “Tunggu, kita berdua pake kata ‘benar’ tapi definisinya sama nggak? Jangan-jangan kita cuma teriak-teriak sembari pake kamus beda.”
Maka filsuf sering dituduh sebagai mahluk tak berguna. Padahal mereka sedang ngecek apakah tangga yang kita pakai buat naik itu kokoh, atau cuma tangga imajiner.
Filsafat filsafat tidak bikin kamu kayaraya bendawi. Tapi dia bikin kamu nggak gampang dibodohi oleh kata-kata, termasuk kata-kata kamu sendiri. Di zaman banjir informasi, yang paling mahal bukan jawaban cepat. Tapi kemampuan buat berhenti 3 detik dan nanya: “Gue sedang mikir apa, dan kenapa gue mikirnya gitu?”
Memang terkesan filsafat filsafat mirip ulah seekor anjing yang sedang muter-muter mengejar ekornya sendiri.
Juga an sich lebih mirip seekor ular yang sedang lambat namun pasti menelan ekor kemudian tubuh dirinya sendiri sehingga setelah semua tertelan akhirnya sang ular hilang lenyap!



KOMENTAR ANDA