Menteri Luar Negeri Singapura, Dr. Vivian Balakrishnan, melakukan kunjungan diplomatik bersejarah ke Pyongyang pada 26-27 Mei 2026, menandai kunjungan pertama pejabat tinggi Singapura ke Korea Utara dalam tujuh tahun terakhir.
Dalam pertemuan bilateral dengan Menlu Korea Utara Choe Son Hui, Singapura menekankan pentingnya menjaga saluran komunikasi tetap terbuka guna mencegah eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan Asia Timur.
Dr. Balakrishnan secara khusus mendorong Korea Utara untuk terlibat secara konstruktif dengan komunitas internasional, terutama melalui partisipasi dalam ASEAN Regional Forum (ARF) yang akan diselenggarakan di Filipina pada Juli mendatang. Singapura memandang ARF sebagai salah satu dari sedikit platform multilateral yang tersisa di mana Pyongyang dapat berinteraksi langsung dengan berbagai kekuatan regional untuk meredakan ketegangan.
Pernyataan ini muncul di tengah situasi keamanan yang semakin fluktuatif, di mana Korea Utara baru saja mengonfirmasi uji coba sistem senjata rudal modular terbaru pada hari yang sama dengan kunjungan tersebut. Singapura menyatakan keprihatinannya atas perkembangan militer yang provokatif, namun tetap meyakini bahwa isolasi total terhadap Pyongyang hanya akan memperburuk risiko miskalkulasi strategis.
Dalam diskusi yang berlangsung terbuka dan jujur, Balakrishnan menegaskan kembali posisi prinsip Singapura terhadap denuklirisasi Semenanjung Korea. Singapura tetap berkomitmen pada kepatuhan penuh terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB, namun di sisi lain, mendorong dimulainya kembali dialog perdamaian tanpa prasyarat yang memberatkan guna mencapai stabilitas jangka panjang.
Selama berada di Pyongyang, Dr. Balakrishnan juga mengadakan pertemuan dengan Jo Yong Won, Ketua Komite Berdiri Majelis Rakyat Tertinggi Korea Utara. Pertemuan ini difokuskan pada penguatan hubungan bilateral yang telah terjalin selama 50 tahun sejak 1975, meskipun hubungan tersebut sempat mengalami pasang surut akibat berbagai sanksi internasional dan penutupan perbatasan selama pandemi.
Diplomat senior Singapura itu juga menepis spekulasi bahwa Singapura akan kembali menjadi mediator untuk pertemuan puncak antara Amerika Serikat dan Korea Utara seperti pada tahun 2018. Ia menegaskan bahwa prioritas Singapura saat ini adalah mendukung upaya kolektif ASEAN untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi stabilitas regional, bukan bertindak sebagai penengah tunggal.
Pasca kunjungan ke Pyongyang, Dr. Balakrishnan langsung melanjutkan perjalanan ke Seoul untuk bertemu dengan Menlu Korea Selatan, Cho Hyun. Di sana, ia menyampaikan hasil pengamatannya bahwa kepemimpinan Korea Utara saat ini tampak lebih fokus pada penguatan pencegahan militer (military deterrence) dibandingkan dengan keterlibatan eksternal atau reformasi ekonomi.
Menanggapi kebijakan "koeksistensi damai" yang diusung pemerintahan Korea Selatan saat ini, Balakrishnan menyatakan dukungan Singapura terhadap setiap inisiatif yang dapat menurunkan suhu ketegangan. Ia menekankan bahwa perdamaian di Semenanjung Korea memiliki dampak langsung terhadap keamanan maritim dan ekonomi di seluruh kawasan Asia-Pasifik, termasuk bagi Singapura sebagai pusat perdagangan.
Di hadapan media, Balakrishnan menuliskan dalam unggahan media sosialnya bahwa hubungan Singapura dan Korea Utara dibangun di atas rasa saling menghormati dan keterlibatan berkelanjutan selama puluhan tahun. Ia berharap kunjungan ini dapat menjadi jembatan kecil untuk memulihkan kepercayaan yang sempat terkikis oleh tahun-tahun isolasi diplomatik.
Kunjungan lima hari Dr. Balakrishnan ke Asia Timur—yang juga mencakup Tiongkok—menunjukkan peran aktif Singapura sebagai "jembatan diplomatik" di tengah polarisasi global. Singapura berkomitmen untuk terus menyuarakan pentingnya supremasi hukum internasional dan dialog sebagai satu-satunya jalan keluar dari kebuntuan krisis di Semenanjung Korea.




KOMENTAR ANDA