post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Tugas kita sekarang adalah memastikan bahwa pergeseran itu membawa tatanan yang lebih adil, bukan sekadar pergantian pusat kekuasaan.

Oleh: Dr. Teguh Santosa, Direktur Geopolitik GREAT Institute

BUKU “Four Points of the Compass: The Unexpected History of Direction” karya Jerry Brotton bukan sekadar sejarah peta. Ia adalah pembacaan ulang tentang bagaimana arah mata angin telah menjadi alat politik, kebudayaan, dan kekuasaan.

Sebagai pengamat geopolitik, saya melihat buku yang diterbitkan pertama kali tahun 2024 ini penting karena membongkar asumsi dasar yang sering kita anggap netral: bahwa Utara selalu di atas, Barat adalah pusat peradaban, sementara Timur dan Selatan adalah pinggiran.

Brotton menunjukkan bahwa arah tidak pernah netral. Barat yang hari ini kita kenal sebagai pusat teknologi dan demokrasi, dulunya dipandang sebagai arah kematian dan kegelapan oleh banyak peradaban awal. Apalagi di era yang sampai sekarang tercatat tebal dalam sejarah sebagai “Dark Ages” atau Abad Kegelapan.

Sebaliknya, Timur yang hari ini sering diposisikan sebagai “yang lain”, pernah menjadi pusat kehidupan dan pencerahan. Ini mengingatkan kita bahwa geopolitik modern juga adalah produk dari narasi arah yang dibentuk berabad-abad.

Bagi Indonesia dan negara-negara Global South, ini relevan. Istilah “Global South” sendiri bukan sekadar penanda geografis, tetapi penanda ekonomi dan politik. Brotton dengan tepat mencatat bahwa arah telah digunakan untuk memetakan hierarki dunia. Maka ketika kita bicara tentang kebangkitan Asia, Afrika, dan Amerika Latin, kita sebenarnya sedang menyusun ulang peta arah itu sendiri.

Dari sudut pandang geopolitik, buku ini memberi landasan historis bagi pentingnya kerjasama Selatan-Selatan. Selama berabad-abad, arah Barat diposisikan sebagai poros dunia. Akibatnya, Selatan dan Timur dipaksa menyesuaikan diri dengan standar dan narasi yang dibuat dari luar.

Namun seperti ditunjukkan Brotton, sejarah arah selalu berubah. Kebangkitan China, India, ASEAN, dan blok Afrika menunjukkan bahwa poros dunia sedang bergeser. Kerjasama Selatan-Selatan bukan sekadar strategi ekonomi, tetapi upaya untuk menulis ulang arah geopolitik dunia agar tidak lagi berpusat pada satu kutub. Ketika kita membangun jalur perdagangan, diplomasi, dan teknologi di antara negara-negara Selatan, kita sebenarnya sedang menciptakan “utara” baru versi kita sendiri.

Tantangan di Era Digital

Brotton juga mengingatkan tentang “arah kelima”: titik biru GPS di ponsel kita. Di era digital, arah fisik mulai kehilangan makna. Manusia tidak lagi membaca peta kognitif, tetapi mengikuti garis biru yang dibuat algoritma. Ini berbahaya bagi geopolitik Global South. Jika kita kehilangan kemampuan untuk memetakan diri secara mandiri, kita akan terus bergantung pada sistem navigasi yang dibuat oleh pusat kekuasaan lama.

Four Points of the Compass: The Unexpected History of Direction” adalah pengingat bahwa geopolitik dimulai dari cara kita memberi nama pada arah. Buku ini memperkuat keyakinan bahwa dunia multipolar tidak hanya soal militer dan ekonomi, tetapi juga soal siapa yang berhak menentukan arah.

Rekomendasi saya: baca buku ini untuk memahami bahwa kebangkitan Global South bukan fenomena baru, tetapi kelanjutan dari sejarah panjang pergeseran arah dunia. Tugas kita sekarang adalah memastikan bahwa pergeseran itu membawa tatanan yang lebih adil, bukan sekadar pergantian pusat kekuasaan.

 


Menelusuri Armada Udara VVIP Paling Mengesankan di Dunia

Sebelumnya

Belajar dari Sungai Shanghai: Mimpi yang Belum Selesai untuk Jakarta

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Gaya Hidup