post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Oleh: Dr. Teguh Santosa, Dosen Hubungan Internasional, UIN Jakarta

KAMPONG Gelam bukan sekadar nama kawasan di Singapura yang terletak di jantung kota, diapit oleh Victoria Street, Jalan Sultan, dan Beach Road. Lebih dari itu, ia adalah cermin sejarah yang memantulkan identitas, perjuangan, dan dinamika sosial masyarakat Melayu di tengah pesatnya modernitas negara tersebut.

Secara etimologis, nama "Kampong Gelam" diperkirakan berasal dari keberadaan pohon Gelam (Melaleuca atau kayu putih) yang dulu banyak tumbuh di kawasan ini. Sebelum kedatangan bangsa Inggris pada tahun 1819, kawasan yang berada di wilayah perencanaan Rochor (di utara Sungai Singapura) ini telah menjadi pemukiman bagi bangsawan Melayu Singapura.

Sejarah modern kawasan ini terbentuk pasca-perjanjian tahun 1819 antara Perusahaan Hindia Timur Britania (EIC), Sultan Hussein Shah dari Johor, dan Temenggong Abdul Rahman. Berdasarkan rancangan tata kota Raffles Plan 1822, wilayah Singapura dibagi berdasarkan kelompok etnis. Kampong Gelam dialokasikan khusus untuk Sultan, keluarganya, serta komunitas Melayu dan Arab—yang sebagian besar berprofesi sebagai pedagang. Sementara Temenggong menetap di Telok Blangah, Sultan Hussein mendirikan pusat kekuasaannya di Kampong Gelam, menjadikannya magnet bagi para imigran Muslim dari berbagai tempat di Nusantara, seperti Riau, Melaka, Sumatra, Jawa, Bawean, dan Banjar.

Pada pertengahan hingga akhir abad ke-19, gelombang imigran Nusantara dan pedagang Arab yang kian deras melahirkan sub-wilayah pemukiman seperti Kampong Malacca, Kampong Jawa, dan Kampong Bugis. Secara geografis, Kampong Gelam memiliki akses langsung ke pesisir (Beach Road), menjadikannya titik vital bagi para pedagang dari Nusantara dan dunia Arab yang berdatangan dengan perahu melalui sungai.

Posisi ini menempatkan Kampong Gelam sebagai gerbang ekonomi sekaligus pusat penyebaran intelektual dan spiritual Islam yang sangat berpengaruh. Bagi pelancong Indonesia hari ini, Masjid Sultan yang dibangun sejak 1824, adalah penanda utama serta pusat spiritual di kawasan tersebut.

Memori Kolektif dan Narasi dari Bawah

Saya mendapatkan buku “Leluhur: Singapore's Kampong Gelam” dari sang penulisnya, Hidayah Amin, persis dua tahun lalu ketika kami kembali bertemu dalam reuni kecil peserta program SIF ASEAN Visiting Student Batch 1999.

Buku ini lahir dari kegelisahan batin Hidayah Amin ketika rumah leluhurnya, Gedung Kuning, sebuah bangunan bersejarah di dekat Istana Kampong Gelam, diakuisisi oleh pemerintah pada tahun 1999. Kisah pengambilalihan Gedung Kuning tersebut ditulisnya dalam buku terpisah yang terbit lebih dahulu, “Gedung Kuning: Memories of a Malay Childhood”. Bagi Hidayah Amin, peristiwa itu bukan sekadar perpindahan aset fisik, melainkan kehilangan bagian dari identitas dirinya. Proses menulis menjadi cara baginya untuk memproses kesedihan dan mencari kembali akar jati diri yang seolah terputus.

Selama tiga tahun, Hidayah melakukan riset yang mendalam, mencakup kajian pustaka hingga wawancara langsung dengan para mantan penduduk setempat. Kerja keras ini membuahkan buku setebal 384 halaman yang mampu menangkap memori kolektif yang selama ini tidak tercatat di arsip formal. Ia merekam kisah-kisah kecil yang sering kali terabaikan, memberikan warna manusiawi pada lembaran sejarah yang biasanya kaku.

Hidayah juga merekam kisah tentang masa-masa sulit saat penduduk harus beradaptasi dengan perubahan zaman, di mana mereka tetap menjaga tradisi “gotong royong” meski di tengah keterbatasan lahan dan ekonomi. Detail-detail kehidupan sehari-hari ini menjadi denyut nadi kawasan tersebut, menunjukkan betapa kuatnya ikatan kekeluargaan yang melampaui sekadar hubungan bertetangga di kawasan urban yang padat.

Transformasi Etnis dan Tata Kota Modern

Awal abad ke-20 membawa dinamika baru. Pertumbuhan ekonomi dan pembentukan ruko-ruko (shophouses) mengubah Kampong Gelam menjadi kawasan kosmopolitan multi-etnis yang juga dihuni oleh warga Tionghoa dan India. Seiring meluasnya aktivitas komersial, sebagian warga Arab mulai berpindah ke kawasan seperti Joo Chiat, Tanglin, dan Bukit Tunggal, sementara masyarakat Melayu pada dekade 1920-an banyak berpindah ke pemukiman baru di Geylang Serai dan Kampong Eunos.

Kontras dengan masa lalu yang terbuka ke arah laut, Kampong Gelam kini berdiri di tengah himpitan “hutan beton” Singapura yang modern. Kawasan ini tampak terjepit di antara gedung-gedung pencakar langit yang berkilauan dan denyut nadi kota yang serba cepat.

Melalui program konservasi dan revitalisasi, lorong-lorong bersejarah seperti Haji Lane, Arab Street, Baghdad Street, dan Bussorah Street kini dihidupkan kembali. Bangunan ruko kuno yang dipugar kini berdampingan dengan galeri seni, kafe, studio desain, hingga bisnis tradisional kain tenun, karpet, dan perlengkapan ibadah. Meski arsitekturnya dipertahankan dan ditransformasikan sebagai destinasi wisata dan budaya (Malay Heritage Centre di bekas Istana Kampong Gelam), ia tetap berfungsi sebagai oase budaya di tengah riuh pikuk kosmopolitan.

Dekonstruksi Narasi dan Relevansi Serumpun

Keunggulan utama karya Hidayah Amin terletak pada gaya penulisan yang sangat aksesibel. Hidayah memilih bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami oleh khalayak luas, mulai dari akademisi hingga masyarakat awam, agar memori ini tetap lestari dalam ingatan generasi mendatang.

Dalam perspektif Hubungan Internasional dan sosiologi perkotaan, Kampong Gelam memiliki posisi yang strategis. Dulu, kawasan ini merupakan pusat perdagangan, intelektual, dan sosial yang menghubungkan Singapura dengan Kepulauan Melayu yang lebih luas. Keberadaannya membentuk identitas berlapis yang menyatukan saudagar Arab, bangsawan Melayu, serta masyarakat Nusantara dari berbagai daerah.

Saya melihat buku ini sebagai upaya dekonstruksi terhadap narasi sejarah yang sering kali hanya fokus pada narasi besar pembangunan nasional. Hidayah mengajak kita untuk melihat Singapura dari sudut pandang “orang kecil” yang sebenarnya adalah pilar utama pembentuk karakter kota ini.

Penghargaan Singapore History Prize tahun 2021 yang diterima buku ini adalah bukti sahih atas kualitas karyanya. Dewan juri mengakui bahwa buku ini tidak hanya informatif, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan terhadap pemahaman publik mengenai sejarah Singapura.

Narasi yang dibangun Hidayah Amin mengingatkan kita bahwa sebuah kawasan bukan sekadar bangunan fisik. Kampong Gelam adalah entitas budaya yang mencakup tradisi, kebiasaan, dan keramah-tamahan masyarakat Melayu yang tak lekang oleh waktu. Buku ini juga memberikan kritik tersirat bagi para perencana kota: saat sebuah wilayah bersejarah diubah menjadi sekadar atraksi wisata, ada banyak memori dan jiwa yang berisiko hilang jika tidak didokumentasikan dengan baik.

Bagi masyarakat Indonesia, pemahaman atas sejarah Kampong Gelam sangat relevan dalam konteks relasi serumpun di era modern. Dengan memahami jejak peradaban yang sama, kita bisa melihat bahwa tantangan yang dihadapi di Singapura—yakni mempertahankan identitas di tengah arus globalisasi—sebenarnya adalah tantangan yang sama bagi masyarakat di Indonesia dan Malaysia.

Hidayah Amin dengan sangat apik menunjukkan bahwa sejarah bukanlah sekadar kumpulan angka, tanggal, dan kebijakan tata kota. Sejarah adalah tentang manusia, tentang rasa kehilangan, dan tentang upaya untuk terus mengingat dari mana kita berasal.


Tiongkok Berhasil Integrasikan Pembangunan dan Perlindungan Lingkungan

Sebelumnya

Belajar dari Yunnan, Tobat Ekologi Ditopang Gerakan Koperasi

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Budaya