United Airlines dilaporkan telah memutus hubungan kerja (PHK) terhadap beberapa pramugari senior setelah melakukan penyelidikan internal terkait tuduhan komersialisasi pertukaran rute penerbangan. Para kru kabin veteran tersebut diduga menerima pembayaran dari junior mereka sebagai imbalan atas penyerahan jadwal penerbangan yang menguntungkan.
Informasi yang beredar mengungkapkan bahwa tindakan ini mengeksploitasi sistem penawaran (bidding) berbasis senioritas yang berlaku di maskapai tersebut.
Praktik menukar jadwal penerbangan (trip trading) sebenarnya merupakan hal yang lumrah dan diizinkan di industri penerbangan untuk memberikan fleksibilitas kerja. Namun, kebijakan internal United Airlines secara tegas melarang karyawan memungut biaya atau mencari keuntungan finansial dari pertukaran tersebut. Pelanggaran terhadap aturan ini dikategorikan sebagai pelanggaran berat yang dapat berujung pada tindakan disipliner hingga pemecatan.
Penindakan tegas ini menyasar rute-rute internasional yang sangat diminati karena menawarkan kredit jam terbang yang lebih tinggi serta masa transit (layover) yang lebih lama di luar negeri. Karena sistem penawaran jadwal sangat bergantung pada tingkat senioritas, pramugari senior memiliki akses prioritas untuk mengamankan penerbangan premium ini, yang kemudian diserahkan kepada kru junior yang bersedia membayar.
Isu monetisasi jadwal penerbangan ini menjadi kian sensitif seiring dengan pesatnya ekspansi jaringan global United Airlines. Maskapai yang berbasis di Amerika Serikat tersebut saat ini melayani lebih banyak destinasi internasional dibandingkan maskapai AS lainnya, dengan mencatatkan lebih dari 800 keberangkatan internasional pada hari-hari puncak perjalanan.
Menanggapi tindakan disipliner dan pemecatan yang dilakukan pihak manajemen, serikat pekerja Association of Flight Attendants (AFA) memberikan respons resmi melalui sebuah memo kepada para anggotanya. AFA menegaskan agar manajemen melakukan penyelidikan secara adil dan terukur, serta menuntut agar setiap keputusan didasarkan pada fakta yang kuat dan prinsip disiplin bertahap (progressive discipline).
Secara umum, pertukaran jadwal penerbangan diatur melalui platform penjadwalan elektronik yang bertugas memverifikasi batas jam kerja resmi, waktu istirahat minimum, dan kecukupan jumlah kru demi keselamatan penerbangan. Mekanisme ini dirancang untuk menunjang keseimbangan kehidupan kerja karyawan tanpa mengorbankan standar keselamatan udara.
Rotasi penerbangan internasional berdurasi tiga hingga enam hari terbukti jauh lebih bernilai secara finansial dibandingkan penerbangan domestik singkat yang biasanya selesai dalam satu atau dua hari. Akibat akumulasi jam terbang yang lebih besar dan kesempatan beristirahat di destinasi populer seperti Eropa, Asia, dan Pasifik Selatan, rute penerbangan jarak jauh ini selalu menjadi rebutan utama para kru kabin.
Manajemen United Airlines dan pihak serikat pekerja sebenarnya telah berulang kali mengingatkan seluruh staf bahwa manipulasi sistem penjadwalan demi keuntungan pribadi tidak dapat ditoleransi. Keputusan arbitrase sebelumnya mengenai praktik serupa, seperti "trip parking", juga telah mempertegas bahwa tindakan menjual jadwal penerbangan melanggar aturan kerja bersama yang telah disepakati.
Kasus pemecatan ini terjadi hanya beberapa bulan setelah lebih dari 28.000 pramugari United Airlines meratifikasi kesepakatan kerja kolektif baru yang bersejarah. Perjanjian tersebut mencakup kenaikan gaji rata-rata sebesar 31%, pembayaran gaji rapel, serta perbaikan sistem penjadwalan, meskipun aturan melarang transaksi komersial antar-jadwal tetap diberlakukan secara ketat.
Di tengah tingginya operasional maskapai yang mencapai lebih dari 4.500 penerbangan harian pada periode sibuk, integritas sistem penjadwalan menjadi kunci utama operasional yang stabil. Langkah tegas United Airlines ini menegaskan komitmen maskapai dalam menjaga keadilan di antara sesama karyawan serta memastikan seluruh aturan keselamatan penerbangan terpenuhi secara konsisten.



KOMENTAR ANDA