Oleh: Ak Supriyanto, FEB Universitas Padjadjaran Bandung
IA lahir di Karachi pada 1945, di tahun-tahun ketika anak benua India dibelah oleh pisau kolonial menurut garis batas identitas agama. Ayahnya yang diplomat membawanya melanglang buana ke Ankara, Washington, Lagos, Kuala Lumpur, hingga Kuwait. Nomadisme semacam itu menanamkan dalam dirinya cara pandang orang luar, orang asing nan terbuang alias eksil, yang kelak menjadi gelar kehormatannya di New School for Social Research.
Pada usia sembilan belas, di padang pasir Kuwait yang membakar, ia menjadi insinyur. Debu dan terik matahari merampas penglihatannya untuk sementara, memaksanya berbaring di kamar gelap. Di sanalah, dalam kegelapan yang sunyi, sebuah pertanyaan tumbuh seperti akar yang mencari air: mengapa ada begitu banyak orang miskin di negeri yang begitu kaya?
Pertanyaan itu tidak pernah hilang. Bahkan, menuntunnya dari kampus Princeton ke kampus Columbia, dari teknik ke ekonomi, dari Harley-Davidson yang ia kendarai setiap hari melintasi Harlem yang miskin menuju Columbia yang megah, ke arah pemahaman baru: bahwa kapitalisme tidak bekerja melalui alokasi sumber daya yang rasional dan efisien, melainkan melalui mesin keuntungan yang tanpa henti.
Di Columbia, di tengah gelombang gerakan anti perang, hak sipil, dan feminis, ia menjadi intelektual radikal. Pandangan politiknya sempat menghambat peluangnya menduduki jabatan di New School, kampus swasta yang telah menjadi rumah perlindungan bagi intelektual Eropa yang melarikan diri dari fasisme menjelang perang dunia kedua. Tapi, di sanalah pada akhirnya ia menetap hingga pensiun pada 2022 dengan gelar yang menjadi cermin biografisnya: University in Exile Professor Emeritus.
Tradisi Klasik
Anwar Shaikh bukan sekadar ekonom heterodoks. Ia adalah arsitek yang membangun kembali tradisi klasik Adam Smith, David Ricardo, dan Karl Marx di atas fondasi yang kokoh dan terukur. Di jantung proyek intelektualnya terletak proposisi yang tampak sederhana namun radikal: kapitalisme digerakkan oleh pencarian laba yang tak henti. Namun, ortodoksi ekonomi tahun 1960-an dan 1970-an, baik neoklasik maupun Marxis, telah kehilangan kemampuan untuk menangkap dinamika inti ini.
Neoklasik beroperasi dalam hipotesis persaingan sempurna, dimana konsumen dan firma yang rasional bertindak untuk menghasilkan hasil yang optimal. Sementara itu, penghuni gerbong Marxian seperti Paul Sweezy dan Paul Baran, berargumen bahwa kapitalisme kompetitif telah digantikan oleh kekuasaan monopoli sehingga hukum nilai kehilangan relevansinya. Dengan demikian, teori Marx dianggap lebih tepat untuk firma-firma kecil dengan biaya tetap yang rendah, bukan untuk firma raksasa modern yang mampu menghalangi masuknya pesaing.
Anwar mencerna pandangan itu secara kritis. Seluruh kerangka ekonomi Marx bertumpu pada gagasan bahwa firma-firma yang memaksimalkan laba bergerak tanpa henti dari satu sektor ke sektor lain, mencari tingkat pengembalian terbaik. Jika persaingan benar-benar mati, maka hukum nilai, yang menjadi jantung teori Marx, juga mati. Karena itu, ia melakukan terobosan yang sangat berani: menguji klaim teori monopoli dengan data empirik. Hasilnya adalah pembongkaran atas pandangan yang tak berdasar. Bukan hanya fakta tidak sejalan dengan teori, tetapi banyak data yang dianggap sebagai bukti monopoli justru konsisten dengan persaingan ekonomi.
Teori Persaingan Nyata
Dari puing reruntuhan teori monopoli, Shaikh membangun sebuah alternatif: teori “persaingan nyata” (real competition). Ini bukanlah persaingan sempurna dari buku teks, bukan pula persaingan tidak sempurna warisan Joan Robinson (salah satu tokoh Keynesian) yang kemudian diserap oleh sebagian penganut post-Keynesian. Real competition adalah persaingan sebagaimana adanya: turbulen, antagonistik, Darwinis. Firma-firma berperang memperebutkan pangsa pasar dengan memangkas biaya unit, menurunkan harga, dan mendorong pesaing mereka keluar dari bisnis.
Firma-firma itu tidak hanya bereaksi terhadap harga pasar; mereka secara aktif membentuknya melalui strategi dan taktik. Persaingan adalah perang, dan seperti perang, ia memiliki pemenang dan pecundang. Beberapa firma meraih keuntungan besar, sementara yang lain bangkrut atau dibeli oleh pesaing yang lebih kuat.
Dalam kerangka tersebut, intensitas persaingan tidak ditentukan oleh jumlah firma di pasar. Bahkan di era konglomerat raksasa, tekanan kompetitif tetap hidup dan membara. Kapitalis bersaing untuk memaksimalkan pengembalian dari investasi. Untuk menyukseskannya, mereka memangkas biaya, yang memberi jalan bagi penurunan harga jual dan merebut pangsa pasar yang lebih besar.
Persaingan nyata juga memungkinkan mereka memperluas margin keuntungan, mencapai di atas apa yang diperoleh kapitalis lain. Tetapi, tingkat keuntungan yang menjulang tinggi menarik lebih banyak kapitalis masuk ke dalam industri. Persaingan meningkat, harga turun, dan tingkat keuntungan kembali ke apa yang ditawarkan ekonomi secara keseluruhan.
Anwar menyebut proses ini “turbulensi”. Istilah turbulensi itu menangkap dengan tepat sifat tak henti dari gerakan kapitalisme, di mana ketidakseimbangan bukanlah penyimpangan dari norma, melainkan norma itu sendiri.
Mengukur Marx
Anwar tidak berhenti pada teori. Ia mengoperasionalkan kategori-kategori Marxis, dengan menunjukkan bagaimana keteraturan empiris kapitalisme modern berjalan dengan mekanisme yang telah dijelaskan Marx dalam berjilid-jilid Das Kapital.
Dalam Measuring the Wealth of Nations (Cambridge University Press, 1994), yang ia tulis bersama E. Ahmet Tonak, Anwar menganalisis neraca nasional Amerika Serikat melalui lensa Marxis, mengembangkan elemen-elemen konseptualnya dari abstraksi teoritis menjadi besaran yang dapat diukur. Kedua penulis menunjukkan bahwa sistem neraca nasional sejak awal dipengaruhi oleh ortodoksi neoklasik sehingga definisi produksi dan nilai di dalamnya tidak kompatibel dengan teori Marxis.
Mereka menyatakan, kategori-kategori Marxis seperti nilai lebih, komposisi organik kapital, dan tingkat eksploitasi tidak pernah benar-benar diukur dengan data nyata. Dengan begitu saja mengimpor kategori-kategori yang dibangun di atas fondasi neoklasik, ekonom Marxis gagal memberikan gambaran empiris yang lebih tepat tentang kapitalisme.
Shaikh dan Tonak kemudian mengembangkan prosedur pemetaan (mapping) antara kategori Marxian dan tabel input-output untuk mengungkap fitur-fitur menarik dari distribusi pendapatan serta menghitung nilai kerja secara langsung dari data resmi. Prosedur ini pertama kali dikembangkan Anwar pada 1975 dan disempurnakan dalam buku itu.
Mereka juga mengkritik studi-studi Marxis sebelumnya yang tidak membedakan kerja produktif dari yang tidak produktif, sehingga estimasi mereka tentang nilai lebih dan tingkat keuntungan menjadi terdistorsi. Mereka berargumen bahwa Marx membedakan secara tegas antara kerja yang menciptakan nilai lebih dan kerja yang sekadar mendistribusikan atau mempertahankan tatanan sosial. Perbedaan krusial kedua hal itu telah diabaikan oleh banyak studi empiris sebelumnya.
Dengan demikian, sumbangan pokok buku tersebut bukan hanya memberikan kritik yang tajam kepada arus utama ekonomi Marxis -- baik yang ortodoks maupun yang terinspirasi Keynesian – dalam mengoperasionalkan inti analisis Marx secara empiris., melainkan juga membangun jembatan metodologis yang memungkinkan teori nilai kerja Marx diuji, diukur, dan dipertanggungjawabkan secara empiris terhadap realitas ekonomi Amerika Serikat pascaperang. Upaya konseptual semacam itu mungkin telah diupayakan sebelumnya oleh ekonom tradisi Marxis seperti Gillman, Mage, Wolff, Moseley, dan lain-lain, namun Shaikh dan Tonak menyempurnakannya dengan sistematisasi dan kritik metodologis yang lebih ketat.
Mahakarya Ambisius
Benang merah seluruh pemikirannya bertemu dalam Capitalism: Competition, Conflict, Crises, yang diterbitkan oleh Oxford University Press pada 2016, sekitar lima belas tahun dalam masa penulisan. Dengan tebal hampir seribu halaman, buku ini adalah salah satu monumen intelektual yang cemerlang dalam literatur ekonomi kontemporer. James K. Galbraith menyebutnya sebagai risalah ekonomi paling ambisius dan sukses dalam 150 tahun. Geoffrey Harcourt menyebutnya “struktur paling komprehensif sejak Das Kapital”. New Left Review menulis bahwa buku ini menawarkan prospek pembaruan intelektual yang lebih komprehensif dari yang dilakukan ekonom Marxis lain sebelumnya.



KOMENTAR ANDA