post image
Prof. Anwar Shaikh
KOMENTAR

Dalam buku tersebut, Anwar menunjukkan bahwa sebagian besar proposisi sentral analisis ekonomi dapat diturunkan tanpa mengacu pada perangkat standar seperti hiper rasionalitas, utilitas yang dapat dimaksimalkan, atau keseimbangan umum. Anwar mengintegrasikan analisis mikro dan makro pertumbuhan, menjadikan karyanya sangat relevan dengan teori pertumbuhan kontemporer. Ia mengkritik ekonomi neoklasik dan menawarkan kerangka alternatif untuk memahami ekonomi modern: sebuah kerangka yang lebih mampu menjelaskan siklus boom-bust (fase fluktuasi ekonomi) yang berulang, krisis keuangan, dan ketidakstabilan yang melekat pada kapitalisme.

Ia menyatakan bahwa di dalam kapitalisme terdapat struktur konflik yang inheren. Kapitalisme digerakkan oleh motif mencari keuntungan, dan motif itu melahirkan pertarungan antarkelas yang tak pernah selesai. Penentuan upah adalah cermin pertarungan kekuasaan: kapitalis ingin upah serendah mungkin untuk mendongkrak profit, sementara buruh menginginkan upah setinggi mungkin. Dari ketegangan ini lahir pengangguran persisten yang berfungsi mendisiplinkan pasar tenaga kerja. 

Dalam skala global, perdagangan bebas tidak selalu membawa berkah yang adil; kapitalisme secara intrinsik melahirkan pembangunan yang tidak merata (uneven development) dan memperlebar jurang kaya-miskin antarnegara. Konflik, dengan kata lain, bukanlah penyakit yang bisa disembuhkan, melainkan nadi yang membuat sistem ini terus berdenyut.

Dalam magnum opus itu, Anwar juga menyoroti makrodinamika turbulensi dan hubungannya dengan krisis yang berulang. Ia memandang krisis ekonomi bukan sebagai kegagalan eksternal atau penyimpangan akibat kebijakan yang salah, melainkan sebagai konsekuensi logis dan normal dari operasi kapitalisme. 

Pertumbuhan, investasi, dan permintaan agregat diatur oleh tingkat profitabilitas, bukan sekadar oleh permintaan sebagaimana asumsi kaum Keynesian. Sejarah kapitalisme menunjukkan pola pasang surut yang berulang: siklus bisnis pendek tiga hingga lima tahun, siklus investasi tujuh hingga sebelas tahun, hingga gelombang panjang Kondratiev. 

Ketika tingkat keuntungan agregat mengalami penurunan jangka panjang, sistem akan jatuh ke dalam krisis sistemik atau depresi besar—seperti Depresi Besar 1930-an, Stagflasi 1970-an, dan Krisis Finansial Global 2007–2008. Melalui analisis empiris berbasis data historis ratusan tahun, terutama di Amerika Serikat dan Inggris, ia menyimpulkan bahwa keteraturan ekonomi kapitalis justru lahir dari ketidakteraturan yang bergejolak: order emerges from turbulent disorder.

Warisan Penting

Anwar Shaikh bukan hanya seorang cendekiawan. Ia adalah mahaguru. Murid-muridnya merekam dan mentranskripsikan kuliah-kuliahnya, yang beredar luas di kalangan pembelajar ekonomi sebagai bahan studi esensial. Ia menerima Distinguished University Teaching Award dari New School pada 2003, Honorary Doctorate dari Universidad Nacional Mayor de San Marcos di Lima, Peru, pada 2009, dan NordSud International Prize (Fondazione Pescarabruzzo) pada 2013/ 2014. Mereka yang mengenalnya sebagai dosen, pembimbing PhD dan teman mengenangnya sebagai sosok yang resourceful dalam menjelaskan liku-liku dan cara kerja batin kapitalisme.

Anwar meninggalkan kita pada 6 Oktober 2026 di New York, kota yang telah menjadi kampung barunya selama lebih dari setengah abad. Ia meninggalkan sebuah warisan yang, seperti yang ditulis Majalah Jacobin, memiliki potensi untuk mendorong ekonomi politik maju selama bertahun-tahun yang akan datang. Vivek Chibber, profesor sosiologi di New York University, menulis: “Kita tidak akan melihat bakat seperti dia untuk waktu yang sangat lama.”

Eksil itu telah berangkat dari padang pasir Kuwait yang membutakan menuju keabadian. Ia mengajarkan kepada kita bahwa kapitalisme bukanlah keseimbangan yang harmonis, melainkan turbulensi yang tak henti – sebuah badai yang di dalamnya firma-firma berperang, harga-harga bergolak, dan krisis-krisis datang seperti gelombang pasang yang tak terelakkan. 

Ia berhasil membangun kembali jembatan antara Smith, Ricardo, dan Marx, dan membawanya melintasi sungai waktu menuju abad kedua puluh satu. Anwar menunjukkan bagaimana masing-masing pemikir klasik menyumbangkan lapisan analisis yang saling melengkapi dalam bangunan teorinya. 

Dari Adam Smith, ia mengambil pemahaman mendalam tentang kekuatan tersembunyi pasar dan bagaimana kepentingan pribadi, melalui mekanisme persaingan, menghasilkan keteraturan sosial yang tidak disengaja. Meskipun, di sisi lain, ia menolak pandangan Smith tentang harmoni alami, dan menegaskan bahwa persaingan justru menghasilkan disequilibrium (ketidakseimbangan) yang terus-menerus. 

Dari David Ricardo, Anwar mewarisi analisis tajam tentang hukum-hukum politik ekonomi, terutama teori distribusi dan kecenderungan tingkat laba, walaupun ia juga mengoreksi Ricardo yang dianggap keliru mencampuradukkan neraca perdagangan dengan neraca pembayaran. 

Sementara dari Karl Marx, Anwar mengambil analisis paling fundamental: asal-usul, struktur, dan reproduksi sistem yang secara intrinsik konfliktual, serta kategori-kategori seperti nilai lebih dan komposisi organik kapital, yang ia operasionalkan secara empiris.

Yang menjadikan sintesis Anwar Shaikh istimewa adalah kemampuannya menunjukkan bahwa ketiganya -- Smith dengan kekuatan pasar, Ricardo dengan hukum distribusi, Marx dengan kontradiksi struktural, bukanlah tiga teori terpecah; melainkan satu tradisi yang, jika dibaca secara integratif, mampu menghasilkan pemahaman yang jauh lebih kaya dan akurat tentang kapitalisme daripada ekonomi arus utama maupun Marxisme yang terisolasi.

Walhasil, Anwar pun berhasil menggubah Marx dari sekedar teks yang didaras dari abad lampau menjadi alat analisis yang bekerja di era yang lebih baru. 

Tentu saja, pemikiran-pemikiran Anwar Shaikh mengundang berbagai kritik dan perdebatan. Pembelaannya atas argumen bahwa kapitalisme memiliki kecenderungan bawaan penurunan tingkat laba umum jangka panjang akibat mekanisasi (kenaikan komposisi organik modal), misalnya, mendapat kritik tajam lantaran dianggap memiliki beberapa kelemahan empiris.

Selain dinilai memiliki keterbatasan data karena banyak tergantung pada sektor manufaktur Amerika Serikat abad ke-20, model yang diajukan Anwar disebut gagal menangani transisi masif menuju service economy (ekonomi jasa) dan finansialisasi global yang memiliki struktur biaya modal sangat berbeda.

Ia juga menghadapi kritik yang tajam dalam perdebatan mengenai Teorema Okishio (1961). Teori ini secara matematis membuktikan bahwa jika upah riil konstan, adopsi teknologi baru oleh para kapitalis guna memotong biaya, secara otomatis akan menaikkan tingkat laba umum sehingga secara langsung menyanggah teori Marx. Anwar mengajukan konsep kompetisi nyata (real competition) sebagai argumen pembelaan.

Menurutnya, kapitalis tidak memotong biaya per unit, melainkan bersaing menurunkan harga jual melalui investasi modal padat teknologi demi mematikan lawan. Namun, para pengkritik menilai formalisasi matematika Shaikh dalam mematahkan Okishio terlalu dipaksakan karena mengasumsikan kapitalis bertindak "irasional" demi mengejar pangsa pasar (dengan menurunkan tingkat laba mereka sendiri secara sukarela). Para pengkritik menganggap Okishio tetap valid dalam kerangka ekuilibrium statis, sementara bantahan Shaikh sangat bergantung pada asumsi ketidakseimbangan yang persisten.

Kegigihan Anwar dalam membela argumen-argumen Marxis tak bisa dilepaskan dari keberpihakan ideologisnya. Anwar mencintai kaum buruh, kelompok miskin, dan negara berkembang yang tertindas oleh sistem ekonomi global. Namun, sebagai seorang ilmuwan, ia menolak menggunakan retorika moral atau sentimentalitas semata dalam analisis ekonominya. Baginya, keberpihakan terbaik seorang ekonom terhadap mereka yang tertindas adalah dengan menelanjangi mekanisme kerja kapitalisme secara ilmiah, objektif, dan tanpa ilusi.

Sekitar enam dekade lalu, di sebuah kamar gelap di Kuwait, seorang pemuda bertanya mengapa ada kemiskinan di tengah kelimpahan. Dalam hidup yang dijalaninya hingga beberapa hari lalu, ia menjawab pertanyaan itu dengan ketelitian seorang insinyur, gairah seorang Marxis, dan keberanian seorang asing yang tidak pernah sepenuhnya diterima oleh dunia yang ia jelaskan.

Kini ia telah berpulang, meninggalkan kita dengan peta kapitalisme dalam segala turbulensinya: sebuah peta yang akan memandu generasi-generasi pemikir mendatang merumuskan arah bagi dunia baru.

Selamat jalan, Prof. Eksil. Alfatehah.


Inggris Bertekad Pertahankan Tekanan pada Rusia Terkait Kesepakatan Diesel Trump-Putin

Sebelumnya

Uni Eropa Desak Amerika Serikat Batalkan Sanksi Terbaru Terhadap Mahkamah Pidana Internasional

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Dunia