Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan
23 Agustus 1927, jam 00:19. Penjara Charlestown, Massachusetts. Dua kursi listrik disiapkan. Nicola Sacco, 36 tahun, pembuat sepatu. Bartolomeo Vanzetti, 39 tahun, penjual ikan. Keduanya imigran Italia, keduanya anarkis. Mereka mati karena kesalahan yang hari ini kita sebut kelirumologi: ilmu tentang kekeliruan dalam sistem hukum.
Kasus awalnya sederhana. 15 April 1920, di South Braintree, dua orang membawa kas pabrik sepatu ditembak mati. Dirampok 15.776 dolar. Saksi melihat mobil kabur berisi 4 orang. Tiga minggu kemudian, Sacco dan Vanzetti ditangkap. Bukan karena bukti perampokan, tapi karena mereka datang mengambil mobil teman anarkis mereka yang ditahan. Saat ditangkap mereka berbohong dan membawa pistol.
Itu cukup di Amerika tahun 1920. Amerika sedang demam paranoida anarkis. Bom meledak di Wall Street. Pemerintah memburu imigran Italia dan anarkis. Jaksa Frederick Katzmann tidak perlu membuktikan Sacco dan Vanzetti merampok. Ia cukup membuktikan mereka membenci pemerintah.
Sidangnya cacat sejak awal.
1. Saksi yang dipaksa.
Tidak ada sidik jari, tidak ada uang rampokan di rumah mereka. Identifikasi saksi berubah-ubah. Satu saksi awalnya bilang tidak bisa mengenali, di sidang jadi yakin 100%.
2. Senjata yang tidak cocok.
Peluru yang membunuh penjaga diklaim dari pistol Sacco. Ahli balistik modern tahun 1961 membuktikan klaim itu salah. Senjata Sacco adalah Colt.32, peluru di TKP.38 yang sudah ditembak dari pistol lain.
3. Alibi yang diabaikan.
Sacco punya alibi kuat: hari itu ia sedang mengurus paspor di konsulat Italia di Boston, ada puluhan saksi dan stempel. Hakim Webster Thayer menolak mendengarkan. Catatan pribadinya yang bocor kemudian: "Saya akan tunjukkan pada bajingan-bajingan anarkis itu."
4. Pengakuan orang lain yang dibungkam.
Tahun 1925, Celestino Madeiros, perampok yang menunggu hukuman mati di sel sebelah, mengaku: perampokan itu dilakukan geng Morelli, bukan Sacco dan Vanzetti. Ia tahu detail di mana uang disembunyikan. Hakim Thayer menolak sidang ulang.
Dunia protes. Einstein, Marie Curie, H.G. Wells mengirim petisi. Di Paris, London, Buenos Aires ada bom dan demonstrasi. Gubernur Massachusetts membentuk komisi: Presiden Harvard, Presiden MIT. Mereka tetap menyetujui vonis.
Kenapa tetap dieksekusi? Karena sistem tidak bisa mengaku salah. Mengakui salah berarti mengakui perburuan imigran dan anarkis itu salah. Jaksa dan hakim sudah terlanjur menyebut mereka musuh negara.
50 tahun kemudian, 23 Agustus 1977, Gubernur Massachusetts Michael Dukakis secara resmi menyatakan: Sacco dan Vanzetti tidak mendapat pengadilan yang adil. Bukan pengampunan, tapi pernyataan bahwa negara telah gagal.
Kelirumologi Sacco-Vanzetti mengajarkan tiga hal yang masih berlaku untuk semua vonis mati hari ini:
Pertama, ketika opini publik takut, jaksa mencari penjahat yang cocok dengan ketakutan itu, bukan pelaku yang cocok dengan bukti.
Kedua, kebohongan kecil saat ditangkap — Sacco dan Vanzetti berbohong karena takut dideportasi sebagai anarkis — bisa diubah jadi bukti pembunuhan.
Ketiga, hukuman mati tidak bisa dikoreksi. Kalau mereka dipenjara seumur hidup, mereka bisa keluar tahun 1977.
Sacco dan Vanzetti meninggalkan surat terakhir: "Jangan menangisi kami, tapi apa yang akan kalian lakukan untuk mereka yang masih hidup."
Lebih baik membebaskan seribu orang bersalah ketimbang menghukum satu orang yang tidak bersalah. Logika alasanologisnya sederhana : yang hidup bisa ditangkap lagi, yang mati tidak bisa dihidupkan lagi.



KOMENTAR ANDA