post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan

AMERIKA membuat Charlie Chaplin jadi bintang film terkaya di dunia. Lalu Amerika mengusirnya sebagai pengkhianat. Ini adalah studi kasus klasik: bagaimana negara adikuasa takut pada seorang badut.

Chaplin tidak pernah jadi warga negara Amerika. Lahir London 1889, miskin, datang ke Amerika 1910, jadi jutawan di Hollywood dengan karakter Tramp, gelandangan bertopi bowler. Ia tidak pernah minta kewarganegaraan. Itu kesalahan pertamanya.

Kesalahan kedua, ia punya pendapat beda dari penguasa.

Tahun 1920-an, FBI sudah membuka file tentangnya. J. Edgar Hoover menganggapnya simpatisan komunis karena ia berteman dengan Upton Sinclair dan karena filmnya “The Kid” menunjukkan kemiskinan.

Tahun 1930-an, ia menolak membuat film bersuara karena ia percaya film bisu universal. Ketika ia akhirnya bersuara, ia memakai suaranya untuk politik. “Modern Times” (1936) mengejek pabrik dan pengangguran. 

“The Great Dictator”(1940) mengejek Hitler ketika Amerika masih netral dan banyak studio takut menyinggung pasar Jerman. Chaplin memerankan Hitler sebagai Hynkel yang konyol. Washington tidak suka, karena ia mendahului sikap resmi negara.

Puncaknya 1947-1952, era McCarthy. Komite Anti-Amerika HUAC mencari komunis di Hollywood. Chaplin dipanggil bukan karena partai, tapi karena moral.

Ia dituduh empat hal yang tidak ada hubungannya dengan film:

1. Komunis. Karena ia pernah memberi uang untuk bantuan Soviet saat perang — ketika Soviet adalah sekutu Amerika. Karena ia menolak mengutuk komunisme secara publik. Ia bilang: “Saya bukan komunis, saya adalah pencinta perdamaian.”

2. Amoral. Pernikahannya. Hubungannya dengan Joan Barry yang menggugatnya soal anak. FBI menggunakan kasus paternitas itu untuk menuntutnya dengan Mann Act, undang-undang anti pelacuran lintas negara bagian.

3. Tidak patriotik. Ia tidak pernah membeli obligasi perang sebanyak bintang lain, tidak pernah ikut tur propaganda.

4. Tulang punggung serikat. Ia mendanai penulis kiri.

Pada September 1952, Chaplin berlayar ke London untuk premiere “Limelight”. Di tengah Atlantik, Jaksa Agung Amerika James McGranery mencabut visa masuknya kembali. Alasannya: ia harus diwawancara soal karakter moral dan afiliasi politik. Hoover sudah menyiapkan 1900 halaman dossier.

Chaplin tidak melawan. Ia menetap di Corsier-sur-Vevey, Swiss. Rumahnya Manoir de Ban. Ia baru bisa kembali ke Amerika 20 tahun kemudian, 1972, untuk menerima Oscar kehormatan. 12 menit standing ovation, terpanjang dalam sejarah Oscar. Ia menangis.

Analisis politiknya jelas: Penguasa Amerika tidak memusuhi Chaplin karena ia berbahaya. Ia dimusuhi karena ia tidak bisa dikontrol. Chaplin adalah imigran yang tidak butuh Amerika untuk kaya, bintang yang tidak butuh Washington untuk dicintai, seniman yang menertawakan kekuasaan tanpa minta izin.

McCarthyisme butuh musuh yang terlihat asing. Seorang gelandangan (Tramp bukan Trump) dengan kumis kecil mirip Hitler, dengan tongkat bambu, yang selalu melawan polisi dan bos pabrik, adalah simbol sempurna untuk ditakuti.

Chaplin sendiri menyimpulkan di autobiografinya: “Saya jadi korban kebohongan dan propaganda kelompok reaksioner yang dengan kekuasaan mereka, menggunakan massa dengan menanamkan pikiran mereka bahwa saya berbahaya.”

Amerika akhirnya minta maaf dengan cara Hollywood: patung, penghargaan, dan air mata. Tapi pelajaran tetap: ketika negara timulai memeriksa lelucon seorang badut sebagai ancaman negara, yang terancam sebenarnya bukan badut itu, tapi negara itu sendiri. Sekaligus bukti bahwa kaum politisi memang alergi humor. Karena subyektif sambil kontekstual, maka humor tidak selalu lucu!


AI Bikin Kita Makin Bodoh?

Sebelumnya

Jembatan Mata-mata dan Teluk Babi

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana