post image
Dr. Teguh Santosa bersama Wali Kota Nanjing, Li Zhongjun
KOMENTAR

Oleh. Dr. Teguh Santosa, Direktur Geopolitik GREAT Institute

DI masa lampau dikenal dengan berbagai nama, mulai dari Jinling (Kota Emas), Yingtian, Moling, hingga julukan abadi sebagai Ibu Kota Enam Dinasti, Nanjing kini berdiri di garis depan transformasi global.

Di bawah kepemimpinan modern, ibukota Provinsi Jiangsu ini membuktikan bahwa pelestarian alam dan kemajuan teknologi bukanlah dua hal yang saling menolak, melainkan sebuah simfoni yang harmonis. Komitmen Nanjing dalam mengintegrasikan ekosistem hijau dengan inovasi digital menciptakan standar baru bagi pembangunan perkotaan yang berkelanjutan.

Transformasi ini berakar dari visi jangka panjang yang menempatkan keseimbangan lingkungan sebagai fondasi utama kemajuan. Pemerintah kota menyadari bahwa pesatnya arus modernisasi dan industrialisasi digital berisiko merusak lanskap ekologis Sungai Yangtze dan kawasan pegunungan sekitarnya. Oleh karena itu, Nanjing mengambil langkah proaktif untuk memastikan setiap terobosan teknologi yang diadopsi justru berfungsi sebagai pelindung dan pemelihara keanekaragaman hayati setempat.

Di sektor pengelolaan ruang terbuka hijau, Nanjing memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan Internet of Things (IoT) untuk pemantauan ekosistem secara real-time. Taman-taman nasional dan cagar alam di sekitar kota kini dilengkapi dengan sensor lingkungan yang mengukur kualitas udara, kelembapan tanah, hingga kesehatan flora dan fauna secara otomatis. Langkah ini memungkinkan dinas terkait merespons ancaman lingkungan, seperti kekeringan atau polusi, jauh sebelum dampak buruknya dirasakan oleh warga.

Kebijakan utama yang digagas Wali Kota Li Zhongjun menjadi motor penggerak utama dalam mewujudkan visi eco-city ini. Di bawah kepemimpinannya, Nanjing meluncurkan program strategis “Inisiatif Koridor Hijau Pintar” (Smart Green Corridor). Kebijakan ini mewajibkan setiap proyek infrastruktur teknologi baru, mulai dari pusat data hingga jaringan 5G, untuk dirancang terintegrasi dengan jalur hijau vegetasi alami yang berfungsi sebagai penyerap karbon sekaligus habitat satwa lokal.

Peserta Belt and Road Journalists Forum (BRJF) 2026 bertemu dengan Li Zhongjun, Kamis petang, 15 Oktober 2026. Dia dengan telaten menjelaskan sejarah literasi kota berusia 3.100 tahun itu.  

Li Zhongjun juga memperkenalkan kebijakan “Nol Emisi Kawasan Industri Digital” yang menuntut seluruh kawasan teknologi tinggi di Nanjing beralih menggunakan energi terbarukan pada tahun-tahun mendatang. Kebijakan ini tidak hanya fokus pada efisiensi energi, tetapi juga mewajibkan perusahaan teknologi untuk berinvestasi dalam proyek restorasi ekosistem lokal, seperti rehabilitasi lahan basah di pinggiran Sungai Yangtze.

Penerapan teknologi ramah lingkungan juga merambah sektor transportasi publik perkotaan. Nanjing telah mengoperasikan armada transportasi umum berbasis listrik secara masif yang dikelola melalui sistem manajemen lalu lintas cerdas berbasis mahadata (big data). Sistem ini secara dinamis mengatur rute dan frekuensi armada untuk meminimalkan kemacetan, sehingga emisi gas rumah kaca di pusat kota dapat ditekan secara signifikan tanpa mengorbankan mobilitas jutaan warganya.

Dalam hal pengelolaan air, kota ini menerapkan konsep “Kota Spons” atau Sponge City yang didukung teknologi sensor hidrologi canggih. Teknologi ini memungkinkan Nanjing menyerap, menyimpan, dan memurnikan air hujan secara alami melalui infrastruktur perkotaan yang berpori. Kebijakan ini dirancang langsung oleh pemerintahan Li Zhongjun untuk mengatasi risiko banjir sekaligus menjaga ketersediaan cadangan air tanah di musim kemarau.

Sektor pertanian di wilayah pinggiran Nanjing turut merasakan angin segar dari perpaduan alam dan teknologi ini. Melalui program “Pertanian Presisi Ekologis” yang dicanangkan Li Zhongjun, para petani didorong menggunakan drone pemantau tanaman dan sistem irigasi tetes otomatis yang ditenagai panel surya. Kebijakan ini, katanya, berhasil menekan penggunaan pestisida kimia hingga batas minimum, melindungi kesuburan tanah, dan menjaga kelestarian ekosistem mikro di sekitar lahan pertanian.

Tidak ketinggalan, pelibatan masyarakat menjadi pilar krusial dalam kebijakan lingkungan Nanjing. Pemerintah kota meluncurkan aplikasi digital publik yang memungkinkan warga melaporkan masalah lingkungan secara langsung, mulai dari kerusakan pohon hingga pembuangan limbah ilegal. Melalui platform partisipatif ini, teknologi memberdayakan setiap individu untuk bertindak sebagai penjaga alam, menciptakan budaya kepedulian ekologis yang mengakar kuat di tengah masyarakat urban.

Kawasan industri semikonduktor dan manufaktur cerdas di Nanjing juga diwajibkan mematuhi standar sirkular ekonomi yang ketat. Li Zhongjun menetapkan regulasi bahwa setiap limbah panas dan material dari proses produksi teknologi tinggi harus didaur ulang atau dialirkan untuk memanaskan fasilitas umum dan rumah kaca pertanian di sekitarnya. Pendekatan ini mengubah limbah industri menjadi sumber daya yang bermanfaat bagi lingkungan.

Keberhasilan Nanjing memadukan alam dan teknologi juga terlihat dari pemulihan kawasan Pegunungan Purple. Dengan memanfaatkan teknologi pemetaan satelit dan drone pemantau otonom, dinas kehutanan dapat mendeteksi potensi kebakaran hutan dan memetakan pertumbuhan vegetasi secara presisi. Hasilnya, kawasan hutan purba ini tetap rimbun dan berfungsi optimal sebagai paru-paru kota di tengah kepungan kawasan metropolitan yang modern.

Komitmen ini tidak hanya berdampak lokal, tetapi juga mendapat pengakuan luas di tingkat internasional. Nanjing sering dijadikan model studi kasus oleh kota-kota besar dunia dalam hal penerapan prinsip pembangunan berkelanjutan berbasis teknologi pintar (smart sustainable cities). Model kepemimpinan yang progresif dan berwawasan lingkungan membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi digital dapat berjalan selaras dengan pelestarian bumi.

Pemerintahan Li Zhongjun tengah menyusun rencana memperluas cakupan inovasi hijau dengan mengintegrasikan teknologi komputasi awan dalam perencanaan tata ruang kota masa depan. Setiap pembangunan gedung baru nantinya harus melalui simulasi digital dampak lingkungan untuk memastikan tidak ada ekosistem alami yang terganggu oleh bayang-bayang beton dan baja.

Melalui langkah-langkah strategis yang konsisten, Nanjing menunjukkan bahwa teknologi tercanggih sekalipun pada akhirnya harus mengabdi pada kelestarian alam demi kesejahteraan umat manusia. Komitmen yang kokoh ini memastikan bahwa warisan sejarah Nanjing akan terus hidup berdampingan dengan udara yang bersih, air yang jernih, dan masa depan yang berkelanjutan.


KOMENTAR ANDA

Baca Juga