Mantan Panglima Tertinggi Ukraina, Jenderal Oleksandr Syrskyi, menyatakan bahwa Ukraina berhasil menstabilkan garis depan dan "mematahkan kemampuan Rusia untuk maju" akibat tingginya korban jiwa di pihak musuh. Dalam wawancara eksklusif pertamanya dengan BBC sejak dicopot dari jabatannya pada musim panas ini, Syrskyi membeberkan berbagai strategi, dinamika internal militer, hingga pandangannya mengenai masa depan perang yang semakin didorong oleh teknologi.
Syrskyi menepis kritik yang menyebut dirinya terlalu "kuno" untuk memimpin pasukan modern Ukraina. Ia mengklaim bahwa justru pada masa kepemimpinannya penggunaan drone mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, termasuk serangan mendalam hingga lebih dari 2.000 km di belakang garis musuh. Ukraina juga tercatat sebagai negara pertama yang membentuk Pasukan Sistem Tak Berawak sebagai cabang angkatan bersenjata terpisah, di mana saat ini drone menyumbang 80 persen kerugian di pihak Rusia.
Terkait perbedaan jumlah korban, Syrskyi menyebutkan bahwa kerugian keseluruhan Moskow dalam perang ini mencapai enam kali lipat lebih tinggi dibanding Ukraina, bahkan angkanya bisa melonjak hingga 11 kali lipat jika hanya menghitung korban tewas. Menurutnya, selisih tingkat kematian tersebut, kemajuan teknologi, serta strategi menyerang titik lemah Rusia menjadi faktor utama terciptanya kebuntuan (stalemate) di garis depan. Ia juga mencatat bahwa pada paruh pertama tahun 2026, Rusia secara keseluruhan hanya mampu menguasai wilayah seluas 61 kilometer persegi.
Di balik pencapaian tersebut, pemecatan Syrskyi pada musim panas ini terjadi di tengah perselisihan tajam dengan mantan Menteri Pertahanan Mykhailo Fedorov. Fedorov menuduh militer di bawah kepemimpinan Syrskyi telah menghalangi inisiatif perubahan dan menciptakan ketidakseimbangan pasokan karena terlalu memprioritaskan drone semata ketimbang perlengkapan penting garis depan seperti kendaraan darat tak berawak, truk pikap, dan sepeda motor. Ketegangan yang memuncak ini sempat memicu protes jalanan di Ukraina sebelum akhirnya Presiden Volodymyr Zelensky menggantikan Syrskyi dengan Mayor Jenderal Mykhailo Drapatyi.
Syrskyi membela diri dengan menyatakan bahwa Fedorov tidak mempertimbangkan kepentingan riil angkatan bersenjata saat pengadaan pasokan. Di sisi lain, ia juga tidak menampik adanya situasi sulit di medan perang, seperti penarikan mundur pasukan secara kacau dari kota-kota timur seperti Avdiivka, Vuhledar, dan sekitar Pokrovsk. Sejumlah prajurit sempat mengeluhkan perintah untuk bertahan di posisi apa pun hingga akhirnya terlambat untuk mundur, namun Syrskyi berdalih bahwa Ukraina sedang melawan tentara yang jauh lebih kuat dengan keunggulan pasokan jet, bom, artileri, serta jutaan tenaga cadangan militer yang dimobilisasi Moskow.
Mengenai operasi penyerbuan ke wilayah Kursk Rusia yang dimulai pada Agustus 2024 dan berakhir dengan retret pada musim semi berikutnya, Syrskyi bersikeras bahwa langkah tersebut merupakan sebuah "kenaikan eskalasi yang diperlukan". Operasi tersebut diklaim berhasil mengganggu ofensif Rusia dan memaksa Moskow mengalihkan pasukannya, sehingga memberikan waktu istirahat bagi brigade Ukraina yang kewalahan di sisi timur dan selatan.
Memandang masa depan konflik, Syrskyi memperingatkan para sekutu Eropa agar tidak meremehkan ambisi teritorial Rusia dan mendesak mereka untuk segera bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Ia meyakini perang di Ukraina akan semakin berorientasi pada teknologi dengan dominasi robot, sistem otomatis, serta kecerdasan buatan (AI) yang disematkan bahkan pada senjata konvensional. Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa peran manusia akan tetap menjadi penentu utama di medan pertempuran untuk mengendalikan sistem-sistem tersebut.



KOMENTAR ANDA