post image
KOMENTAR

Peluang dalam Aksi Iklim

Transisi menuju ekonomi hijau membuka peluang investasi besar-besaran di sektor energi terbarukan, kendaraan listrik, dan industri hijau. Bagi Indonesia, ini adalah kesempatan emas untuk menjadi pemain utama dalam rantai pasok global berbasis energi bersih, seperti nikel untuk baterai, dan memimpin pasar karbon serta keuangan berkelanjutan di tingkat regional.

Secara global, kolaborasi transfer teknologi dan pendanaan iklim dari negara-negara maju dapat diakselerasi. Sedangkan, di tingkat nasional, peluang mencakup penciptaan jutaan lapangan kerja hijau, pengembangan industri berbasis sumber daya alam berkelanjutan (seperti biofuel dan biomaterial), serta peningkatan ketahanan ekonomi melalui pembangunan infrastruktur rendah karbon yang inovatif dan adaptif. Mendesaknya aksi iklim global pada akhirnya membuka peluang strategis bagi kepentingan nasional Indonesia, yaitu:

Pencapaian Ketahanan Energi dan Akselerasi Industrialisasi Hijau. Pengembangan masif energi baru terbarukan (EBT) seperti surya/matahari, panas bumi, hidro, dan angin dapat mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar minyak (BBM) dan batubara, sekaligus menciptakan rantai industri baru (industri panel surya, baterai) berdaya saing global.

Peningkatan Nilai Tambah Sumber Daya Alam. Pengelolaan hutan berkelanjutan dan komoditas hijau (seperti minyak sawit/CPO dan kayu bersertifikat legal) dapat membuka akses ke pasar global yang semakin ketat dengan pemenuhan berbagai persyaratan lingkungan. Indonesia juga berpotensi menjadi pemain utama dalam ekonomi bio-sirkular.

Pemimpin Diplomasi Iklim Global. Sebagai negara dengan hutan tropis terbesar ketiga dan ekonomi besar di G20, Indonesia memiliki posisi tawar yang kuat dalam diplomasi iklim. Indonesia dapat memobilisasi pendanaan iklim, teknologi, dan kerjasama internasional yang menguntungkan, sekaligus memperkuat citra positif di dunia.

Pembukaan Lapangan Kerja Hijau. Investasi di sektor EBT, efisiensi energi, transportasi umum, dan restorasi ekosistem berpotensi menciptakan jutaan lapangan kerja baru yang inklusif.

Kesimpulan

Perubahan iklim adalah tantangan strategis bagi semua negara termasuk Indonesia yang sewaktu-waktu dapat mengancam fondasi utama kepentingan nasional terkait kedaulatan wilayah, keamanan manusia, stabilitas ekonomi, dan keadilan sosial. Oleh karena itu, aksi iklim yang ambisius dan terintegrasi harus ditempatkan sebagai prioritas kebijakan lintas sektor, bukan hanya agenda mewujudkan agenda lingkungan global. Target NZE dan ENDC harus mampu diterjemahkan secara konsisten dalam perencanaan pembangunan nasional dan daerah, dengan mekanisme pengawasan dan penegakan hukum yang kuat.

Pada akhirnya, untuk memajukan kepentingan nasional, Indonesia perlu terus mendorong transformasi ekonomi yang lebih hijau, mandiri, dan berketahanan. Hal ini memerlukan kepemimpinan politik yang kuat, alokasi anggaran yang memadai, peningkatan kapasitas teknologi, dan pendanaan inovatif (green bonds, carbon pricing). Kolaborasi antara pemerintah, swasta, masyarakat sipil, dan komunitas internasional adalah kunci.

Substansinya, dengan menjadikan krisis iklim sebagai katalis untuk pembangunan yang lebih berkelanjutan dan adil, Indonesia bukan hanya dapat melindungi dirinya sendiri tetapi juga terus berkontribusi signifikan pada pencapaian akselerasi stabilitas iklim global, sekaligus memperkuat posisi strategis dalam sistem internasional multipolar. Masa depan Indonesia bergantung pada pilihan dan tindakan yang diambil hari ini dalam menghadapi tantangan perubahan iklim global.

Referensi

Anjani, A. (2021). 10 Negara Kepulauan Terbesar di Dunia, Salah Satunya Indonesia. Detik.com. https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5679064/10-negara-kepulauan-terbesar-di-dunia-salah-satunya-indonesia.
Eddy, T. D., Cheung, W. W. L., dan Bruno, J. F. (2021). Historical baselines of coral cover on tropical reefs as estimated by expert opinion. PeerJ, 9, e11978. https://doi.org/10.7717/peerj.11978
IPCC. (2022). Climate Change 2022: Impacts, Adaptation and Vulnerability. Contribution of Working Group II to the Sixth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Cambridge University Press. https://www.ipcc.ch/report/ar6/wg2/
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK). (2022). Enhanced Nationally Determined Contribution Republic of Indonesia. Jakarta, Indonesia. https://unfccc.int/sites/default/files/NDC/2022-09/23.09.2022_Enhanced%20NDC%20Indonesia.pdf
Manurung H., Bainus A., Kantaprawira R., dan Rezasyah T. (2022). Экологическая политика президента США Джо Байдена: влияние на устойчивое развитие Индонезии. Международная торговля и торговая политика, 8(2):61-77. DOI. https://doi.org/10.21686/2410-7395-2022-2-61-77
McMichael, C. (2022). Climate change-related migration and infectious disease. Global Health Journal, 6(2), 65-71. DOI. https://doi.org/10.1016/j.glohj.2022.04.001
Nurhati, I. S., Supendi, P., & Jaya, A. (2021). Ancaman Kenaikan Muka Air Laut bagi Wilayah Pesisir Indonesia: Tinjauan Ilmiah dan Implikasi Kebijakan. Jurnal Kelautan Nasional, 16(3), 145-158.
World Bank. (2021). Climate Risk Country Profile: Indonesia. World Bank Group. https://climateknowledgeportal.worldbank.org/sites/default/files/2021-05/15504-Indonesia%20Country%20Profile-WEB_0.pdf

Penulis:

1 Hendra Manurung, Dosen Program Studi Magister Diplomasi Pertahanan, Fakultas Strategi Pertahanan, Universitas Pertahanan RI (UNHAN RI)
2 Oktaheroe Ramsi, Fakultas Strategi Pertahanan, Universitas Pertahanan RI (UNHAN RI)


Industri Farmasi Nasional: Peluang dan Tantangan

Sebelumnya

Setelah Maduro Dicokok, Ekspor Minyak Venezuela Meroket

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Ekonomi