post image
Foto: SimpleFlying
KOMENTAR

Operation Epic Fury telah memberikan beban berat pada basis industri pertahanan Amerika Serikat. Hingga saat ini, sebanyak 42 pesawat telah hilang atau tidak dapat beroperasi akibat kampanye udara, drone, dan rudal. Kerugian materiil ini diperkirakan mencapai $7 miliar, di luar biaya operasional sebesar $29 miliar yang telah dikeluarkan oleh pasukan ekspedisioner.

Masalah utama bukanlah sekadar biaya finansial, melainkan ketidakmampuan untuk mengganti aset-aset yang hilang tersebut. Banyak pesawat yang hancur merupakan platform yang sudah tidak diproduksi lagi atau memiliki rantai pasokan yang sangat terbatas. Hal ini menciptakan kerentanan strategis di mana sistem pertahanan udara modern lawan mampu menghancurkan aset khusus lebih cepat daripada kemampuan industri untuk memproduksinya kembali.

Contoh nyata dari tantangan ini adalah hilangnya drone MQ-9 Reaper. Meskipun tergolong lebih modern dibanding A-10, lini produksinya telah ditutup dan jumlah yang tersedia menipis drastis selama operasi. Penggantinya, yaitu Collaborative Combat Aircraft (CCA), masih berada dalam tahap awal pengembangan dan baru akan diproduksi dalam jumlah signifikan beberapa tahun mendatang.

Kasus pesawat E-3 Sentry bahkan lebih memprihatinkan karena basis produksinya, Boeing 707, sudah dihentikan puluhan tahun lalu. Dengan hanya 16 unit yang tersisa secara global, kehancuran satu unit mewakili hilangnya 37% dari total kekuatan operasional. Hingga kini, belum ada pengganti yang layak dipilih karena opsi yang tersedia, yaitu Boeing E-7A Wedgetail, dinilai terlalu mahal.

Kondisi diperparah oleh insiden friendly fire di Kuwait yang menewaskan tiga unit F-15E Strike Eagle, sementara satu unit lainnya ditembak jatuh di Iran. Upaya pencarian dan penyelamatan (Combat Search and Rescue) yang dilakukan kemudian justru menyebabkan hilangnya tiga pesawat lagi, termasuk A-10 dan pesawat angkut, akibat kondisi cuaca buruk dan ancaman musuh.

Pesawat F-35A Lightning II juga menghadapi tantangan besar. Meskipun tidak hancur total, satu unit mengalami kerusakan akibat tembakan pertahanan udara Iran dan terpaksa melakukan pendaratan darurat. Hal ini menjadi catatan sejarah sebagai pesawat tempur generasi kelima pertama yang mengalami kerusakan akibat tembakan musuh dalam pertempuran.

Penggantian pesawat yang rusak pun terhambat oleh masalah rantai pasokan. Lini produksi F-35 saat ini mengalami kemacetan akibat penundaan validasi perangkat lunak Technology Refresh Three Block Four. Akibatnya, Pentagon terpaksa memangkas target pengiriman pesawat, bahkan beberapa unit yang dikirimkan dilaporkan tidak memiliki radar dan hanya bisa digunakan untuk pelatihan.

Pesawat khusus seperti MC-130J Commando II juga menjadi korban. Dua unit terpaksa dihancurkan secara sengaja oleh pasukan AS untuk mencegah teknologi elektronik canggih di dalamnya jatuh ke tangan Iran. Mengganti pesawat-pesawat ini membutuhkan waktu 2 hingga 3 tahun manufaktur dengan biaya $115 juta per unit karena kompleksitas sistem elektroniknya.

Secara keseluruhan, Iran berhasil menciptakan perbandingan biaya yang tidak seimbang. Dengan menggunakan drone dan rudal yang relatif murah, mereka mampu melumpuhkan atau menghancurkan aset Amerika yang jauh lebih mahal dan langka. Strategi militer AS yang mengandalkan keunggulan teknologi pada segelintir pesawat canggih terbukti rentan terhadap model perang atrisi ini.

Akhirnya, Operation Epic Fury membuktikan bahwa basis industri pertahanan AS saat ini tidak memiliki kapasitas lonjakan (surge capacity) yang memadai. Berbeda dengan era Perang Dunia II di mana pabrik dapat mengganti kerugian tempur dalam hitungan hari, industri modern saat ini terbelenggu oleh model manufaktur just-in-time yang tidak kompatibel dengan realitas pertempuran abad ke-21.


Jagat Maya Geger, Pesawat Misterius Generasi Keenam Terlihat di Area 51

Sebelumnya

Perkuat Wawasan Geostrategis, Zona Bakamla Tengah Gelar Diskusi Keamanan Maritim

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Militer