Menteri Luar Negeri RI Sugiono mendorong kemitraan ASEAN-Inggris yang semakin berorientasi untuk menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat, mulai dari pemberantasan penipuan daring, transisi energi yang inklusif, hingga pengembangan sumber daya manusia. Dorongan tersebut disampaikan Menlu Sugiono pada pertemuan ASEAN-UK Post-Ministerial Conference di Manila, Filipina.
Menlu Sugiono membuka pernyataannya dengan menyoroti kerugian akibat penipuan daring di Asia Tenggara yang mencapai USD 23,6 miliar dalam satu tahun dan bagaimana kemitraan antara ASEAN dan Inggris diharapkan dapat mendukung upaya bersama ASEAN dalam menghadapi tantangan tersebut.
“Jaringan penipuan dapat beroperasi dari kawasan kita, tetapi dana hasil kejahatannya bergerak lintas batas melalui sistem keuangan global. Dana yang berpindah dapat ditelusuri,” ujar Menlu Sugiono.
Karena itu, Indonesia mendorong pemanfaatan kapasitas Inggris di bidang intelijen keuangan dan penegakan hukum untuk memperkuat kemampuan ASEAN dalam mencegah kejahatan, mendeteksi jaringan pelaku, melindungi korban, dan menelusuri aliran dana hasil penipuan. “Inilah bentuk kemitraan yang konkret. Kerja sama harus dapat dirasakan langsung oleh masyarakat,” tegas Menlu Sugiono.
Prinsip yang sama juga perlu diterapkan dalam kerja sama transisi energi. Indonesia mengapresiasi ASEAN-UK Green Transition Fund dan mendorong implementasinya menjangkau masyarakat yang paling membutuhkan, termasuk komunitas di wilayah terpencil. “Ketika transisi energi menjangkau semua kalangan, manfaatnya bukan hanya energi bersih, tetapi juga kesejahteraan bersama,” ungkap Menlu Sugiono.
Indonesia juga menyambut kontribusi ASEAN-UK Chevening Scholarships dalam mempersiapkan generasi penerus yang akan membawa kemitraan ASEAN-Inggris ke depan.
Menlu Sugiono turut menegaskan bahwa kemitraan yang berpusat pada masyarakat harus tercermin dalam respons terhadap situasi di Palestina. Indonesia menyambut pengakuan Inggris terhadap Negara Palestina sebagai keputusan yang memiliki arti penting.
Sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB, Inggris dinilai memiliki tanggung jawab khusus untuk mendorong terwujudnya perdamaian yang adil dan berkelanjutan.
“Konsistensi adalah ukuran kredibilitas. Kemitraan ASEAN-Inggris dapat menjadi contoh bahwa kawasan kita merupakan ruang kolaborasi, bukan arena rivalitas,” pungkas Menlu Sugiono.
Dalam pertemuan itu Inggris diwakili Sekretaris Menlu Ed Miliband. Inggris menjadi Mitra Wicara ASEAN pada 2021. Pertemuan kali ini mengadopsi Plan of Action to Implement the ASEAN–United Kingdom Dialogue Partnership 2027-2031 dan ASEAN-UK Joint Ministerial Statement on Cooperation on the ASEAN Outlook on the Indo-Pacific: Advancing Together.
Kedua dokumen menjadi acuan penguatan kerja sama ASEAN-Inggris, termasuk di bidang perdamaian dan keamanan, penanggulangan kejahatan lintas negara, transisi hijau, konektivitas, serta pengembangan sumber daya manusia.



KOMENTAR ANDA