Tidak seperti Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa terlihat lebih berani menyikapi agresi militer AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada Sabtu dini hari lalu, 3 Januari 2026.
Kepada awak media di Istana Negara, Senin, 5 Januari 2026, Purbaya mengatakan hukum internasional saat ini aneh. PBB yang diharapkan dapat berperan banyak untuk menegakkan hukum internasional terlihat lemah saat berhadapan dengan Amerika Serikat.
Purbaya memang tidak secara langsung mengecam Presiden AS Donald Trump yang memerintahkan penangkapan Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dalam sebuah serangan yang melibatkan angkatan perang dan pasukan khusus AS.
Purbaya mempertanyakan sikap PBB yang tidak tegas.
“Hukum dunia agak aneh sekarang. Jadi kalau kita lihat negara bisa nyerang negara lain yang berdaulat, dan seperti bisa get away dari pengawasan PBB. Jadi PBB-nya amat lemah sekarang,” ujar Purbaya.
Sebenarnya Purbaya tidak secara khusus memberikan pernyataan mengenai agresi AS itu. Awak media yang menemuinya Istana Negara bertanya tentang pengaruh agresi militer AS di Venezuela dan penangkapan Maduro terhadap perekonomian Indonesia.
Menjawab pertanyaan itu, Purbaya mengatakan, peristiwa penangkapan Maduro tidak berpengaruh negatif. Hal ini antara lain dapat dilihat dari indeks harga saham gabungan (IHSG) yang hari ini malah menunjukkan tren positif.
Selain itu, Purbaya juga berpendapat peristiwa ini justru akan membawa dampak positif terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
"Agak aneh sebenarnya, tapi itu yang dilihat pasar," kata Purbaya lagi.
Setelah menangkap Maduro, Donald Trump secara terang-terangan mengatakan AS akan menjalankan roda pemerintahan di Venezuela. Dia juga mengatakan, perusahaan minyak akan diberi akses terhadap sumber minyak Venezuela yang merupakan terbanyak di dunia. Dari keuntungan minyak itulah pembangunan Venezuela akan dibiayai.
Chevron merupakan satu-satunya perusahaan minyak AS yang beroperasi di Venezuela. Perusahaan itu mengekspor sekitar 140 ribu barel minyak per hari dari negara Amerika Latin itu pada kuartal empat di 2025.
Venezuela sendiri merupakan negara dengan cadangan minyak terbukti terbesar di dunia.
Berdasarkan OPEC Annual Statistical Bulletin 2025, cadangan minyak terbukti Venezuela mencapai 303,22 miliar barel atau hampir seperlima dari cadangan minyak dunia, 1.566,86 miliar barel.
Venezuela pernah berperkara dengan Exxon Mobil yang keberatan kontrak minyaknya diputus secara sepihak oleh Hugo Chavez. Pengadilan internasional pada 2013 memvonis Venezuela bersalah karena menghentikan kontrak sepihak. Namun hukumannya dinilai terlalu rendah, yakni membayar denda sebesar 10 persen dari nilai kontrak.


KOMENTAR ANDA