post image
Ilustrasi
KOMENTAR

Sesama anak bangsa saling menghina, merendahkan, dan menjatuhkan. Perbedaan kerap memicu konflik dan pertumpahan darah.

Oleh: Yusuf Blegur, Aktivis Tinggal di Jakarta


MEMANG anjir negara dengan penduduk sebanyak 280 juta dikelola segelintir orang pesakitan. Pencuri, maling, perampok hingga koruptor dan pembunuh berdarah dingin berkuasa dalam naungan konstitusi dan demokrasi. Berhimpun dan bersekongkol, mewujud negara dan pemerintahan. Keren, tapi tetep “Anjir”.

Terlalu banyak tragedi yang  mampu menghapus citra bangsa Indonesia sebagai bangsa yang beradab, kental dengan kultur gotong-royong, dan penuh toleransi. Kearifan budaya lokal dan pranata sosial warisan leluhur yang mencerminkan kepribadian luhur masyarakatnya telah punah.

Sesama anak bangsa saling menghina, merendahkan, dan menjatuhkan. Perbedaan kerap memicu konflik dan pertumpahan darah. Nyawa manusia bahkan  tak berharga jika dibandingkan  hanya dengan uang seribu rupiah, sebuah buku pelajaran sekolah dan  dari ketersinggungan pada hal-hal yang sepele. 

Parahnya  tidak semua situasi dan kondisi itu terjadi secara alami. Kerap ditemukan indikasi  kekuatan kepentingan baik secara personal maupun kelompok atau organisasi. Penggerak atau orang-orang di belakang layar, terkadang bisa melibatkan negara atau pemerintah sendiri, setidaknya yang beririsan dengan legalitas dan legitimasi negara.

Ironisnya ketiadaan kesadaran kemanusiaan itu sering berakar dari negara. Sistem yang korup, pemimpin-pemimpin hipokrit dan masyarakat terbelakang menjadi penyumbang terbesar kemunduran peradaban bangsa ini. Masyarakatnya dikenal religius tapi juga tuna keadaban. 

Pemimpin-pemimpin agama, para intelektual dan tokoh masyarakat terlihat suci dan berwibawa, namun kebanyakan lari tunggang-langgang atau diam bersembunyi ketika rakyat tertindas dan menderita membutuhkan pertolongan.

Kemiskinan dan kebodohan terus dipelihara pemerintah. Struktur dan kultur kekuasaan telah menjadi tembok tebal dan tinggi bagi setiap kesadaran kritis dan upaya membangun nilai-nilai etika, moral dan hukum. Rezim berhasil menciptakan rakyat yang lemah dan bergantung pada kekuasaan. 

Lebih sering tampak dalam keseharian mirip masyarakat primitif, buas dan barbar. Lalu, datang penenang dan solusi berupa bantuan tunai  dan sembako serta pelbagai fasilitas jangka pendek yang mereka kesulitan hidup sementara.

Agama telah menjadi korban dari propaganda kolonialisme dan imperialisme. Fokus pada ritual dan mengabaikan peran sosial politik. Feodalisme, seiring sejalan menopang sekulerisasi dan liberalisasi menjauhkan umat dari pemaknaan hakiki Tuhannya. Negara terpinggirkan dari urusan melayani rakyat. Bangsa kalap, dari menjadi pasar dan berujung budak dalam pergaulan global.

Materi menjadi tujuan dan hedonisme menjadi gaya hidup sekaligus idola. Individualistik berhimpun dalam kepentingan kelompok berupa kartel, oligarki, sekte dan tidak sedikit kumpulan para psikopat. Ironisnya, populasi dan habitat semacam itu dapat bermetamorfosis dalam wujud negara dan pemerintahan.

“Anjir”, kok bisa ya?, negara dan pemerintahan isinya pencuri, maling, perampok dan penjahat hingga pembunuh berdarah dingin. Mereka dipilih dan didukung rakyat pula. Berlindung pada konstitusi dan dilindungi aparat bersenjata lengkap laksana menghadapi perang dunia. Terkadang menggunakan preman atau adu domba rakyat menggunakan buzzer dan influencer bayaran.

Sementara rakyat seperti sapi perahan, dikuras pikirannya, tenaganya dan penghasilannya.

Lagi-lagi atas nama undang-undang melalui pajak dan pelbagai peraturan yang menghisap jiwa raga rakyat.
Kasihan dan miris rakyat yang terus dianiaya dan diperkosa hak-haknya. Sedangkan rezim menjadi selaknat-laknatnya manusia berkedok negara dan pemerintahan.

Sekali lagi, “Anjir”.


Bintang Mahaputra untuk Kapolri: Prabowo Serius Mau Begini?

Sebelumnya

Prabowo Subianto: Perundingan Global Harus Untungkan Indonesia

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Nasional