Oleh: Jaya Suprana, Pendiri MURI
UBUR-UBUR (Cnidaria) adalah kelompok hewan laut yang terdiri dari sekitar 10.000 spesies. Satwa invertebrate ini dapat ditemukan di seluruh dunia, dari laut dalam hingga perairan dangkal. Ciri-ciri ubur-ubur antara lain adalah tubuh lunak dan transparan, berbentuk seperti lonceng atau cakram, memiliki tentakel yang panjang dan beracun, tidak memiliki otak, jantung, atau sistem saraf pusat serta makanannya adalah plankton, krustasea, dan ikan kecil.
Jenis ubur-ubur meliputi ubur-ubur biasa (Aurelia aurita), ubur-ubur api (Cyanea capillata), ubur-ubur kotak (Chironex fleckeri), ubur-ubur bulan (Pelagia noctiluca). Habitat ubur-ubur adalah lautan terbuka atau perairan dangkal bisa juga Estuari maupun Terumbu Karang.
Peran ubur-ubur dalam Ekosistem adalah sebagai predator plankton dan krustasea di samping makanan bagi beberapa spesies ikan dan burung laut demi berperan dalam siklus nutrisi laut.
Fakta Menarik tentang ubur-ubur adalah dapat hidup hingga 1 tahun di laut serta dapat menghasilkan cahaya (bioluminesensi) maupun mengubah bentuk tubuhnya untuk beradaptasi dengan lingkungan (sejenis mimikri). Namun, ubur-ubur juga dapat menjadi masalah bagi manusia, seperti sengatan ubur-ubur dapat menyebabkan iritasi kulit dan alergi serta dapat mengganggu kegiatan perikanan dan pariwisata.
Ubur-ubur merupakan hewan laut paling tua di Bumi, dengan sejarah evolusi yang mencapai lebih dari 500 juta tahun. Mereka termasuk dalam filum Cnidaria, yang juga mencakup karang dan anemon laut.
Ubur-ubur sisir (ctenophores) dianggap sebagai nenek moyang bersama semua makhluk hidup, menurut penelitian terbaru. Ubur-ubur tidak memiliki hubungan langsung dengan dinosaurus, karena mereka termasuk dalam kelompok yang berbeda dalam sejarah evolusi. Dinosaurus hidup pada periode Mesozoikum, sekitar 230-65 juta tahun yang lalu, sedangkan ubur-ubur telah ada sejak periode Kambrium, sekitar 500 juta tahun yang lalu.
Ubur-ubur memiliki ukuran yang bervariasi, mulai dari beberapa milimeter hingga beberapa meter. Spesies ubur-ubur terbesar, seperti Cyanea capillata, dapat mencapai diameter hingga 2 meter dan memiliki tentakel yang panjangnya mencapai 30-37 meter.
Nama “ubur-ubur” berasal dari bahasa Melayu, yang kemungkinan besar berasal dari kata "ubur" yang berarti “gelombang” atau “ombak”. Nama ini mungkin merujuk pada gerakan ubur-ubur yang seperti gelombang atau ombak di laut. Dalam bahasa Inggris, ubur-ubur disebut “jellyfish”, yang berasal dari kata “jelly” yang berarti “gel” atau “lendir”, dan “fish" yang berarti “ikan”.
Nama ini merujuk pada tekstur tubuh ubur-ubur yang seperti gel atau lendir. Ubur-ubur dalam bahasa Jerman disebut “Qualle”. Kata “Qualle” ini berasal dari bahasa Jerman kuno, yang kemungkinan besar merujuk pada gerakan ubur-ubur yang seperti gelombang atau ombak.
Ubur-ubur dalam bahasa Sanskerta disebut “Chandrika”, yang berarti “bulan kecil” atau “cahaya bulan”, mungkin merujuk pada bentuk ubur-ubur yang seperti bulan. Dalam bahasa Latin, ubur-ubur disebut “Medusa”, yang berasal dari nama salah satu Gorgon dalam mitologi Yunani, Medusa.
Nama ini dipilih karena ubur-ubur memiliki tentakel yang seperti rambut ular Medusa. Ubur-ubur dalam bahasa China = Hǎizhē, yang berarti “ular laut” ; Jepang = Kurage, yang berasal dari kata “kura” berarti “kegelapan” dan “ge” berarti “benda” ; Tagalog = Medusa (sama dengan bahasa Latin) ; Hawaii: Manō waruwaru, berarti “hantu laut”.
Dari aneka ragam tafsir terhadap ubur-ubur dapat disimpulkan bahwa setiap bahasa memiliki konsep keunikan tersendiri dalam menafsirkan setiap obyek benda maupun tak benda yang saling beda satu dengan lain-lainnya. Saya pribadi secara subyektif menafsirkan kata ubur-ubur mirip sama dengan ubun-ubun dalam hal sama-sama berkarakter kulit lunak.
Maka jika ada Uburuburomologi yang menelaah ubur-ubur maka seharusnya ada pula Ubunubunomologi yang menelaah ubun-ubun.


KOMENTAR ANDA