post image
Jet tempur Kaan buatan Turkiye. Presiden Recep Tayyip Erdogan pada Rabu (11/6/2025) mengumumkan pembelian 48 unit jet tempur ini oleh Indonesia./TURKISH AEROSPACE INDUSTRIES
KOMENTAR

Mengedepankan prioritas tersebut perlu didukung mengingat pentingnya sinergisitas diplomasi dan pertahanan yang merupakan indikator utama menjaga stabilitas regional dan perwujudan perdamaian global.

Oleh: Hendra Manurung1 dan Mitro Prihantoro2,

DINAMIKA geopolitik kawasan dan kebutuhan memodernisasi alat utama sistem persenjataan (Alutsista) terus mendorong pemerintah Indonesia untuk mengembangkan dan mendiversifikasi kemitraan strategis di sektor industri pertahanan. Salah satu kemitraan pertahanan dominan yang berkembang pesat beberapa tahun terakhir adalah dilakukan bersama pemerintah Turki.

Periode 2019-2025 menandai fase intensifikasi hubungan pertahanan kedua negara, bergerak melampaui hubungan pembeli-penjual tradisional menuju kemitraan kolaboratif yang melibatkan alih teknologi/transfer of technology, produksi bersama/co-production, dan berkolaborasi terkait perancangan/design collaboration.

Kerjasama ini didorong oleh visi strategis kedua negara untuk mencapai kemandirian pertahanan, memanfaatkan keunggulan komparatif masing-masing, serta menanggapi dinamika keamanan regional.

Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan dinamika kerjasama kedua negara, pengadaan proyek strategis, faktor pendorong, tantangan, dan implikasi kerjasama industri pertahanan periode 2019-2025.

Hubungan bilateral, isu-isu strategis regional dan global, serta arah penguatan kerja sama pertahanan dan industri pertahanan selalu menjadi perhatian para pengambil keputusan di Jakarta maupun Istanbul (Kementerian Pertahanan RI, 2026). Selain itu, pemimpin kedua negara terus memberikan dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina, penguatan peran negara-negara berkembang melalui berbagai forum multilateral, serta mengedepankan dialog konstruktif dan kerja sama kolaboratif sebagai dasar penyelesaian konflik global.

Mengedepankan prioritas tersebut perlu didukung mengingat pentingnya sinergisitas diplomasi dan pertahanan yang merupakan indikator utama menjaga stabilitas regional dan perwujudan perdamaian global. Jalinan Kerjasama Indonesia bersama Turki pada akhirnya berdampak signifikan terhadap pencapaian stabilitas keamanan dan konfigurasi perimbangan kekuatan global major-power di Indo-Pasifik (Manurung, Prihantoro, & Hendarwoto, 2025).

Kerja sama pertahanan Indonesia dengan Turki kedepan terus diarahkan untuk interoperabilitas, kesiapan operasional dan infrastruktur pendukung, serta kontribusi aktif dua negara dalam misi perdamaian dunia dan upaya kemanusiaan. Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Recep Tayyip Erdogan secara intens menegaskan komitmen bersama untuk mendorong kemandirian pertahanan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan penguatan kerja sama industri pertahanan yang saling menguntungkan.

Lanskap Strategis

Kerjasama pertahanan Indonesia-Turki bukanlah fenomena baru, namun mengalami momentum signifikan sejak perjanjian Kerjasama Pertahanan ditandatangani di 2018, yang kemudian diimplementasikan pada tahun-tahun berikut (Kementerian Pertahanan RI, 2018). Sedangkan bagi pemerintah Turki, kebijakan domestik dan kepentingan nasional serta keinginan menjadi negara kuat (powerful state) semakin dikedepankan dalam wacana menggambarkan periode terkini rezim politik Ankara (Akça & Özden, 2021). Beberapa faktor utama yang turut mendorong sinergi tersebut, antara lain:

Pertama, Kebijakan Kemhan RI Sakti (Swadana, Swakelola, Teknologi, dan Industri). Kebijakan ini menekankan penguatan industri pertahanan dalam negeri (PT Len, PT Pindad, PT PAL, PT DI, dan PT. Dahana) dilakukan melalui kemitraan strategis hingga memungkinkan alih teknologi/weapons technology transfer dan peningkatan kapasitas/boosting national defence capacity (Kemenhan RI, 2020). Turki, dengan kepemilikan industri pertahanan agresif dan telah mencapai tingkat kemandirian tinggi, dipersepsikan sebagai mitra ideal.

Kedua, Visi Turki sebagai Pemain Utama (global player). Di bawah kepemimpinan Presiden Recep Tayyip Erdoğan, Turki bercita-cita menjadi pemain global independen. Kebijakan luar negeri lebih mandiri dan berambisi mengekspor peralatan pertahanan militer menjadikan Indonesia negara dengan pasar dan kebutuhan besar sebagai mitra prioritas (Özkan, 2020).

Ketiga, Kesesuaian Produk dan Kemampuan. Pengadaan produksi industri pertahanan Turki, seperti pesawat nirawak (UAV), rudal, dan kapal perang, menawarkan teknologi mutakhir dengan harga relatif lebih kompetitif dan fleksibiltas persyaratan politik dibandingkan mitra tradisional dari negara-negara Barat (Aydın, 2022).

Keempat, Kesamaan Identitas dan Politik. Dua negara ini sejatinya merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar, memiliki sejarah panjang, dan menganut prinsip politik luar negeri independen dan aktif. Substansinya, hal ini justru terus membangun saling kepercayaan dan kemauan politik yang kuat di tingkat kepemimpinan antar-negara.

Proyek Kerjasama 2019-2025

Kerja sama pertahanan Turki Bersama Indonesia difokuskan pada pengembangan bersama Alutsista, transfer teknologi, dan perwujudan kemandirian industri, termasuk proyek tank Harimau, drone (UAV) Anka, fregat, dan jet tempur generasi kelima KAAN. 

Selama lima tahun terakhir Turki justru menjadi mitra strategis utama Indonesia untuk memodernisasi alutsista TNI, didukung oleh kesepakatan tingkat tinggi (high level agreement) dan komitmen produksi Bersama (joint production commitment), termasuk rencana pengadaan 48 unit jet tempur KAAN. Menurut Menteri Pertahanan Indonesia, Sjafrie Sjamsoeddin (MetroTV, 2026), hubungan pertahanan Indonesia dengan Turki bukan hal baru.

Sejumlah proyek kerja sama telah berjalan dalam satu dekade terakhir, antara lain kerja sama Tank Medium Kaplan MT (Harimau), pengadaan dan pengembangan drone Anka, diskusi intens terkait pengembangan roket dan sistem artileri jarak menengah, hingga pertukaran pendidikan dan latihan militer. Kerjasama ini pada akhirnya menghasilkan beberapa proyek ikonik yang menjadi tulang punggung modernisasi Alutsista Indonesia:

Pertama, Kapal Selam Kelas Reis/Attack.

Berdasarkan pengalaman terkait pengadaan kapal selam kelas Chang Bogo (Korea Selatan), Indonesia melalui PT PAL bersama perusahaan Turki, STM, melakukan modernisasi dan pemasangan sistem air independent propulsion (AIP) pada kapal selam KRI Nagabanda dan KRI Nagarangsang. Kerja sama ini juga mencakup pelatihan dan alih teknologi untuk mendukung kemampuan pemeliharaan dan potensi produksi bersama di masa depan (Janes, 2021).

Kedua, Pengadaan Pesawat Tempur Medium Weight Fighter (MWF) – KAAN.

Indonesia bergabung dalam program pesawat tempur generasi ke-5 Turki, KAAN, yang dipimpin oleh Turkish Aerospace Industries (TAI). Sebagai mitra pengembangan, Indonesia diwakili oleh PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dengan kontribusi pembiayaan sebesar $300 juta dan keterlibatan dalam proses desain, produksi komponen, serta alih teknologi tinggi. 

Proyek ini adalah puncak dari kemitraan teknologi, meskipun mengalami tantangan pembayaran dari pihak Indonesia (Defense News, 2023). Keikutsertaan Indonesia diharapkan turut memberikan akses terhadap kemajuan teknologi pesawat siluman dan sistem avionik modern.


Setelah Midnight Hammer, Kemampuan Serangan Jarak Jauh Angkatan Udara AS Kini Dipertanyakan

Sebelumnya

Tiongkok Sudah Perlihatkan Gambaran Jet Tempur ‘J-XX’ Yang Lebih Mematikan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Militer