Indonesia dan Sudan memiliki sejarah yang amat panjang. Ulama dari negara Afrika yang terletak di sisi timur Laut Merah itu berperan besar dalam penyebaran dan pengajaran agama Islam di Indonesia.
Salah seorang di antara ulama Sudan yang membantu pengajaran agama Islam di Indonesia adalah Al-’Alamah Syeikh Ahmad Surkati Al-Anshori yang datang ke Indonesia dari Mekah pada 1912. Di Indonesia, Syeikh Ahmad Surkati mendirikan Perhimpunan Al Irsyad Al Islamiyah yang hingga kini merupakan salah satu ormas Islam terpandang di Indonesia.
Kisah tentang peranan ulama Sudan di Indonesia disampaikan Duta Besar Republik Sudan untuk Indonesia, Dr. Yassir Mohamed Ali Mohamed, dalam pertemuan dengan kalangan media di Kedubes Sudan di Patra Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu, 4 Februari 2026.
Selain itu, masih cerita Dubes Yassir, hubungan istimewa lainnya di antara kedua negara terjadi di arena Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung tahun 1955. Saat itu Sudan masih merupakan koloni Inggris. Delegasi Sudan yang datang ke Bandung mendapatkan perhatian khusus dari Presiden Sukarno
Karena datang tanpa membawa bendera, Presiden Sukarno mengambil kain putih dan menuliskan kata “Sudan” di tengah kain itu dan menyediakan kursi khusus untuk delagasi Sudan.
Perhatian besar itu membesarkan hati delegasi delegasi Sudan. Ceritanya menyebar luas di Sudan dan membuat semangat pejuang Sudan untuk mendapatkan kemerdekaan dari kolonial Inggris semakin besar.
“Sudan menjadi negara peserta KAA 1955 pertama yang melepaskan diri dari penjajah,” ujar Dubes Yassir.
Selain menceritakan kedekatan Sudan dengan Indonesia dalam berbagai aspek, Dubes Yassir juga menceritakan krisis politik bersenjata yang terjadi di negaranya sejak tiga tahun lalu.
Krisis politik ini dipicu oleh aksi kelompok perlawanan Rapid Support Forces (RSF) yang dipimpin Janjaweed Hemdti.
“Ini bukan perang saudara. Ini adalah upaya kudeta untuk merebut kekuasaan dari tangan pemerintah yang sah,” ujar Dubes Yassir.
Namun, sebut Dubes Yassir, RSF tidak bermain sendirian. Kelompok ini mendapatkan sokongan penuh dari negara teluk Persatuan Emirat Arab atau Uni Arab Emirat (UAE) yang memberikan bantuan dan persenjataan canggih kepada kelompok perlawanan.
“Sejauh ini tidak kurang dari 14 juta orang menjadi pengungsi,” ujar Dubes Yassir.
Dubes Yassir yang juga pernah bekerja sebagai wartawan sebelum menjadi diplomat mengajak masyarakat internasional dan masyarakat Indonesia melihat konflik yang terjadi di Sudan secara objektif.


KOMENTAR ANDA