post image
Panen raya jagung kuartal III di Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, yang diikuti Kapolri Jenderal Listyo Sigit (tengah), September 2025.
KOMENTAR

Sungguh luar biasa dan menakjubkan, entah spontanitas atau hasil perenungan batin yang dalam, orang nomor satu di jajaran polri tersebut menyampaikan niatannya menjadi petani.


Oleh: Yusuf Blegur, Aktivis


MENJADI petani mungkin tidak prestisius dan  memilik kebanggaan layaknya menjadi anggota Polri. Tapi setidaknya, sulit menemukan perilaku seorang petani terlibat korupsi, menjadi irisan dari  politik dinasti dan  oligarki serta terlibat dalam pelbagai penyalahgunaan kekuasaan. 

Sungguh sebuah keinginan terpuji dan terhormat dari Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo yang mengatakan  lebih baik menjadi petani daripada bekerja sebagai menteri kepolisian. Belum pernah ada sejarah di republik ini, seorang Kapolri mau menjadi petani yang merupakan profesi mulia  dan nyata bermanfaat bagi rakyat, negara dan bangsa Indonesia.

Pernyataan terbuka, berani dan terkesan menantang dari pemuncak jabatan Polri itu, ditenggarai sebagai reaksi terhadap tuntutan banyak pihak yang menginginkan kelembagaan polri di bawah  kementerian atau setidaknya tidak lagi bernaung dan hierarkis pada presiden.

Jelas terlihat, narasi Kapolri yang begitu emosional mengumbar sikap defensif dan resisten serta cenderung melakukan perlawanan. Jenderal bintang empat aktif itu merespon keras adanya polemik menyoal fungsi dan kelembagaan polri belakangan ini. Listyo Sigit Prabowo yang memasuki tahun ke-5 menjabat Kapolri. 

Di hadapan Komisi III dalam sidang DPR dan disaksikan publik, menyampaikan respon yang tegas yang berisi penolakannya terhadap rencana reposisi dan restrukturisasi polri.  Termasuk  menempatkan  polri dibawah kementerian, atau bertransformasi menjadi kementerian, atau  bahkan lebih ekstrim lagi dengan adanya keinginan stereotif membubarkan kepolisian.

Refleksi, evaluasi dan solusi  terhadap kinerja polri telah lama menjadi sorotan publik. Sebagai salah satu produk dari agenda reformasi sejak era 1998. Institusi polri yang secara organisatoris langsung dibawah presiden, kerap menuai gugatan baik pada performans pimpinan dan anggotanya maupun pada aspek institusi yang dinilai cenderung menjadi "super body" dan "the unthouchables'.

Lepas dari itu semua,  tanpa menghilangkan prestasi dan pengorbanan peran Polri sejauh ini, seiring persoalan kelembagaan dan aparatnya yang kerap diselimuti sikap skeptis dan apriori sebagian besar rakyat. Ada yang menarik dan sangat langka terkait aspirasi politik kalau tidak mau disebut keluh kesah yang diungkapkan kapolri.

Sungguh luar biasa dan menakjubkan, entah spontanitas atau hasil perenungan batin yang dalam, orang nomor satu di jajaran polri tersebut menyampaikan niatannya menjadi petani.

Boleh jadi ungkapan Listyo Sigit Prabowo terkait antusiasme pada profesi petani itu, sebagai bentuk kemarahan dari pelbagai upaya yang ingin mereduksi sekaligus mendegradasi institusi polri. Atau bisa juga sejatinya kesadaran jiwa yang lahir dari kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual seorang Listyo Sigit Prabowo terhadap pengabdian dan dinamika dalam institusi polri yang puluhan tahun digelutinya.

Apapun hasilnya, biarlah para pemangku kepentingan publik yang kompeten dan elit politik serta yang lebih relevan lagi presiden yang akan membahas dan memutuskan nasib Polri.
Tentunya, suara rakyat yang kini menjelma dalam bentuk kekuatan netizen dengan "no viral, no justice", juga signifikan ikut menentukan imej dan persfektif polri di masa lalu, saat ini dan waktu berikutnya.

Namun yang pasti, di tengah konstelasi pertarungan politik citra Polri. Entitas petani tiba-tiba muncul dari lisan Sigit Sulistiyo Prabowo yang notabene seorang Kapolri dan salah satu figur berpengaruh di republik ini.

Rasanya, profesi petani bisa  menjadi komparasi sekaligus resolusi dari kegamangan polri selama ini.

Tentang petani yang dianggap profesi rendahan dan kasar, namun memiliki kemuliaan dan kemanfaatan untuk semua penduduk negeri. Jauh dari kata bergengsi namun dari kerja  kerasnya petani banyak melahirkan generasi pemimpin dan  orang-orang terhormat lainnya. Tentang Petani yang hanya butuh tanah sepetak untuk menafkahi keluarga dan negara, bukan jutaan hektar untuk dieksploitasi demi kekayaan dan kemewahan hidup sambil merusak hutan (deforestasi). 

Tentang petani yang hidup jauh dari kesejahteraan namun ditopang kesederhanaan, moral dan keadaban yang tinggi. Terbiasa menghadapi hujan badai dan terik menyengat. Tentang petani dengan napas dan jiwa kejujuran dan empati, bukan  dengan korupsi, membunuh dan membajak pajak. Tentang petani yang hanya berharap beras dan gabahnya mendapatkan harga yang layak untuk dibeli. 

Tentang petani yang ketahanan pangan nasional terlindungi dan setiap tetes keringatnya menghidupi. Tentang petani yang tak peduli gengsi dan dominasi tapi memiliki harga diri, tak seperti politik dinasti dan oligarki.

Semua kebaikan yang ada pada petani, mungkin itu yang membuat Listyo Sigit Prabowo tertarik dan mulai jenuh pada dedikasi dan gemerlapnya Polri. Memang jelas berbeda, Polri yang tidak bisa disamakan dengan petani dan begitupun petani yang tidak bisa disamakan dengan polri. Keduanya, jelas berbeda, meskipun ada kesamaan untuk kerja-kerja mengabdi dan  perrbedaan untuk kerja-kerja distorsi.

Selamat untuk Listyo Sigit Prabowo yang mau membuka mata hati dan sanubari  untuk menanam dan memanen padi. Ini bukan masalah pribadi juga bukan tentang institusi. Ini bukan tentang petani semata, ini juga bukan hanya soal Polri.

Ini tentang  nasib dan masa depan seluruh negeri. 

Buat seluruh rakyat Indonesia, ayo dukung kapolri jadi petani!. Pastikan Listyo Sigit Prabowo jenderal yang peduli dan gagah berani, benar-benar menjadi petani yang jujur, bersih dan terhormat.

Semoga.


Tumpahan Sawit Mentah di Gili Iyang Ancam Paru-paru Dunia

Sebelumnya

Gibran Capres

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Nasional