post image
Jet tempur Kaan buatan Turkiye. Presiden Recep Tayyip Erdogan pada Rabu (11/6/2025) mengumumkan pembelian 48 unit jet tempur ini oleh Indonesia./TURKISH AEROSPACE INDUSTRIES
KOMENTAR

Ketiga, Pesawat Nirawak (UAV) ANKA & Aksungur.

TNI AU telah mengakuisisi UAV kelas menengah ANKA dari Turkish Aerospace Industries. Kerja sama ini tidak hanya mencakup pembelian, tetapi juga melibatkan pelatihan intensif dan rencana alih teknologi dalam hal perawatan, operasi, dan kemungkinan produksi komponen tertentu di dalam negeri. UAV ini meningkatkan kemampuan Indonesia dalam pengawasan maritim dan intelijen, terutama di wilayah perairan yang luas (SavunmaSanayiST.com, 2022).

Keempat, Kerjasama Roket dan Rudal.

PT Dirgantara Indonesia (PT DI) bekerja sama dengan perusahaan roket Turki, Roketsan, untuk mengembangkan dan memproduksi sistem roket dan rudal. Salah satu hasilnya adalah rudal serang darat-ke-darat/surface to surface attack missile dan sistem peluncur roket/missile launching rocket system. Kerja sama ini bertujuan untuk mengisi celah dalam meningkatkan kemampuan artileri jarak menengah TNI AD.

Kelima, Kendaraan Tempur dan Senjata Ringan. PT Pindad telah lama berkolaborasi dengan perusahaan pertahanan Turki, seperti MKEK dan Aselsan, dalam pengembangan kendaraan lapis baja Anoa dan Badak, termasuk integrasi sistem senjata dan sensor. Kerja sama juga meluas ke senjata kecil dan amunisi.

Implikasi Strategis

Kerja sama pertahanan Indonesia-Turki selama ini bertujuan untuk penguatan kapabilitas militer, mendiversifikasi sumber Alutsista, dan meningkatkan posisi tawar di kancah geopolitik global. Sinergi ini juga mendorong kemandirian industri pertahanan serta memperdalam hubungan bilateral strategis. Perkembangan kerjasama ini membawa sejumlah implikasi strategis bagi Indonesia, yaitu:

Diversifikasi Sumber Alutsista. Indonesia berupaya mengurangi ketergantungan sejarah pada pemasok persenjataan militer global tradisional seperti Amerika Serikat (AS), Rusia, dan negara-negara Eropa Barat. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan posisi tawar (bargaining position boost) dan mengurangi kerentanan terhadap embargo atau tekanan politik dari negara-negara pengekspor senjata.

Akselerasi Pengembangan Industri Pertahanan Nasional. Alih teknologi dan praktik coproduction secara langsung meningkatkan kapabilitas industri pertahanan nasional. SDM Indonesia mendapatkan pelatihan dan pengalaman dalam mengelola proyek teknologi tinggi.

Peningkatan Kapabilitas Pertahanan yang Signifikan. Produk-produk dari Turki, seperti UAV ANKA dan rudal dari Roketsan, langsung mengisi kebutuhan operasional TNI, khususnya dalam pengawasan wilayah maritim dan penangkalan asimetris.

Pendekatan Win-Win Solution. Bagi pemerintah Turki, kerja sama ini memberikan legitimasi dan pemasaran produk pertahanan-militer, sekaligus memperkuat posisi sebagai pemain kunci di kawasan Indo-Pasifik. Bagi Indonesia, ini adalah jalan pintas untuk mengakses kemajuan teknologi persenjataan militer yang selama ini sulit diperoleh.

Tantangan dan Hambatan

Tantangan utama mencakup kendala keterbatasan pembiayaan anggaran pertahanan Indonesia, kesenjangan kapasitas serap teknologi industri dalam negeri, serta kompleksitas integrasi sistem alutsista Turki ke dalam struktur dan doktrin TNI yang ada. Selain itu, hambatan birokrasi juga kemungkinan dapat memperlambat eksekusi proyek strategis di lapangan. Namun demikian, meskipun berkembang pesat, kemitraan ini masih menghadapi beberapa tantangan, seperti:

Kendala Pembiayaan. Sejumlah proyek besar, terutama partisipasi dalam program KAAN, terbentur pada masalah anggaran pertahanan Indonesia yang terbatas. Keterlambatan pembayaran tahapan dapat menghambat kemajuan proyek dan menguji kesabaran mitra Turki (Reuters, 2023).

Kesenjangan Teknologi dan Kapasitas Absorpsi. Kemampuan industri pertahanan Indonesia masih tertinggal dibandingkan Turki. Oleh karena itu, kapasitas untuk menyerap (absorptive capacity) teknologi yang dialihkan menjadi tantangan besar di dalam negeri, memerlukan investasi berkelanjutan dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan infrastruktur pendukung.

Integrasi Sistem dan Interoperabilitas. Mengintegrasikan alutsista buatan Turki ke dalam sistem komando, kendali, komunikasi, komputer, intelijen, pengawasan, dan rekonsiliasi (K4ISR) TNI yang mungkin masih menggunakan sistem dari negara lain (AS, Eropa) bukanlah hal yang mudah dan membutuhkan usaha ekstra.

Dinamika Politik Domestik dan Eksternal. Perubahan kebijakan atau prioritas di kedua negara dapat mempengaruhi kontinuitas proyek. Selain itu, hubungan Turki dengan negara-negara Barat yang terkadang tegang dapat secara tidak langsung mempengaruhi proyek yang melibatkan komponen dari pihak ketiga.

Konsolidasi dan Penyelesaian Proyek. Prioritas dikedepankan dan diharapkan akan diberikan pada penyelesaian proyek-proyek yang sudah berjalan, seperti partisipasi dalam KAAN dan integrasi penuh sistem persenjataan yang telah dibeli.

Ekspansi ke Domain Siber dan Luar Angkasa. Diyakini potensi kerjasama meluas ke domain pertahanan siber (cyber defence), teknologi luar angkasa (outer space technology), dan menyeimbangkan kapabilitas industri pertahanan Turki.

Kemitraan Pasar Ketiga. Pemerintah Indonesia bersama Turki juga dapat mengeksplorasi berbagai peluang memasarkan produk pertahanan hasil kerjasama kedua negara ke negara ketiga, khususnya di negara-negara Asia Tenggara dan Afrika.

Kerjasama pertahanan Indonesia-Turki berpotensi terus berkembang sebagai sebuah role-model kemitraan strategis di Asia Pasifik (a role model of Asia Pacific strategic partnership), berfokus joint production dan alih teknologi (jet KAAN & kapal selam). Kemitraan ini kedepannya akan meningkatkan interkonektivitas keamanan antar-kawasan, menawarkan opsi alutsista non-blok, dan penguatan posisi strategis kedua negara sebagai actor negara mandiri mewujudkan arsitektur keamanan regional (pursuing regional security architecture). Kerjasama ini diperkirakan akan terus berlanjut dengan kemungkinan mengalami pergeseran yang difokuskan pada:

Pada akhirnya kerjasama ini terus berlanjut dan memberikan manfaat optimal, hingga masih diperlukan: komitmen alokasi anggaran dan berkesinambungan dari pemerintah Indonesia untuk memastikan kontinuitas pembayaran dalam berbagai proyek pertahanan strategis; penguatan kapasitas industri dalam negeri melalui investasi pada penelitian dan pengembangan pertahanan-militer serta pendidikan vokasi untuk optimalisasi alih teknologi persenjataan; perencanaan strategis jangka panjang yang mengintegrasikan alutsista dari Turki ke dalam doktrin pertahanan negara dan struktur kekuatan TNI secara komprehensif.

Kerjasama industri pertahanan Indonesia Bersama Turki diawali sejak tahun 2019 hingga 2025 secara implementatif telah mentransformasi hubungan bilateral kedua negara menjadi sebuah orkestrasi kemitraan strategis substantif.

Hal tersebut perlu terus didorong oleh keinginan bersama untuk kemandirian dan kedaulatan pertahanan, kerjasama ini telah menghasilkan sejumlah proyek konkret yang secara signifikan meningkatkan kapabilitas TNI dan menguatkan pondasi industri pertahanan nasional. Meskipun masih dihadapkan pada tantangan pembiayaan dan kapasitas teknologi, kemitraan ini diyakini nantinya akan menunjukkan dinamika positif dan saling menguntungkan.

Keberhasilan kolaborasi dua negara ini ke depan akan sangat bergantung pada kemampuan Indonesia untuk terus mengkonsolidasikan benefit kemajuan teknologi militer, menjaga komitmen finansial, dan mengintegrasikan sistem-sistem baru ini secara efektif ke dalam postur pertahanan nasional.


Setelah Midnight Hammer, Kemampuan Serangan Jarak Jauh Angkatan Udara AS Kini Dipertanyakan

Sebelumnya

Tiongkok Sudah Perlihatkan Gambaran Jet Tempur ‘J-XX’ Yang Lebih Mematikan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Militer