post image
KOMENTAR

Ketidakpuasan terhadap kualitas data free float di bawah standar global dan implementasi standar internasional, serta kekhawatiran tentang likuiditas dan price formation yang terdistorsi, menjadi faktor utama di balik kegelisahan pasar.

Oleh: Perdana Wahyu Santosa, Profesor Ekonomi, Dekan FEB Universitas YARSI, Direktur Riset GREAT Institute dan CEO SAN Scientific

GELOMBANG gejolak pasar modal Indonesia di akhir Januari dan di awal Februari 2026 mencapai puncaknya ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan tajam tiga hari berturut-turut. Masihkah akan berlanjut? Setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengeluarkan peringatan soal masalah transpa-ransi yang berkaitan dengan indeks pasar, dan berujung pada pengunduran diri serentak dan penggantian sejumlah pimpinan tertinggi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan direktur utama Bursa Efek Indonesia (BEI).

Apakah pelaku pasar puas dengan penggantian “dadakan” ini? Apakah menumbuhkan kembali kepercayaan terhadap pasar modal kita? Peristiwa ini diprediksi akan menciptakan titik balik, sekaligus tantang-an baru bagi kredibilitas dan stabilitas pasar modal domestik.

Akar Krisis: Ketidakpuasan Investor dan Peran MSCI

IHSG terjun bebas di akhir Januari dan longsor susulan di awal Februari setelah MSCI memberikan sinyal keras terkait masalah free float saham dan transparansi kepemilikan, yang berimplikasi pada evaluasi ulang posisi Indonesia dalam indeks pasar global.

MSCI adalah salah satu benchmark global yang menjadi acuan alokasi dana institusional internasional. Ketika MSCI mengindikasikan bahwa pasar Indonesia tidak memenuhi standar investability yang diperlukan — misalnya terkait transparansi kepemilikan saham dan distribusi free float yang rendah — risiko rebalancing portofolio secara sistematis menjadi nyata. Ketidakpastian ini memperbesar tekanan jual, memantik volatilitas yang kuat di pasar saham domestik.

Ketidakpuasan terhadap kualitas data free float di bawah standar global dan implementasi standar internasional, serta kekhawatiran tentang likuiditas dan price formation yang terdistorsi (oleh maraknya saham gorengan), menjadi faktor utama di balik kegelisahan pasar.

Investor institusional global sangat sensitif terhadap isu-isu seperti transparansi, tata kelola BEI (corporate governance), dan likuiditas pasar; dan ketika entitas global seperti MSCI meragukan salah satu komponen tersebut, aliran modal dapat berubah secara cepat dari “emerging market” menuju instrumen yang lebih likuid dan dipandang lebih stabil.

Pengunduran Diri Pimpinan OJK dan BEI: Etika VS Tekanan Politik?

Direktur Utama BEI, Iman Rachman, mengumumkan pengunduran dirinya sebagai bentuk tanggung jawab atas kondisi pasar modal yang memprihatinkan dalam beberapa hari terakhir. Tidak berselang lama, sejumlah pejabat senior OJK juga ramai-ramai mengajukan pengunduran diri.

Langkah ini diposisikan sebagai bentuk tanggung jawab moral dan profesional, atau semacam “tekanan politik tingkat tinggi” yang merupakan sebuah fenomena yang relatif jarang terjadi dalam konteks birokrasi pemerintahan Indonesia, namun direspons positif oleh sebagian kalangan keuangan sebagai simbol akuntabilitas.

Dari perspektif investor, keputusan mundur tersebut membawa dua dimensi, yaitu pertama, ini menunjukkan kepekaan etika dari regulator dan operator bursa terhadap kegagalan pasar. Namun, kedua, ketidakpastian kepemimpinan dalam waktu transisi dapat memperburuk volatilitas pasar jangka pendek.

Keputusan untuk mundur bisa dilihat sebagai “reset” kepemimpinan yang membuka ruang bagi sosok baru dengan visi segar dan kredibilitas tinggi, namun juga menimbulkan kekosongan kepemimpinan di tengah periode krusial reformasi pasar.

Rekomendasi untuk Mengembalikan Kepercayaan Pasar

1. Kepemimpinan dengan Sosok Berkredibilitas Tinggi
Transisi kepemimpinan di OJK dan BEI harus berlangsung cepat, namun selektif. Sosok pengganti (tetap) yang menjadi ekspektasi publik seharusnya ditunjuk berdasarkan kompetensi, pengalaman global, dan reputasi integritas yang dapat membantu memulihkan sentimen pasar. Peran ini bukan sekadar administratif, tetapi strategis dalam merancang kebijakan yang dianggap kredibel oleh investor asing dan domestik.

2. Reformasi Teknis Pasar Modal Indonesia
Reformasi harus cepat dan terdorong oleh data. Revisi kebijakan free float, pemberantasan praktik yang menghambat transparansi kepemilikan, serta peningkatan pengungkapan informasi (disclosure) adalah langkah prioritas yang perlu menjadi fokus kedua bagi institusi pemangku kepentingan. Ini juga termasuk kolaborasi intensif dengan MSCI dan lembaga global lain untuk menjamin pemenuhan standar internasional yang diakui.

3. Sinergi Regulator–Pemerintah untuk Stabilitas Makro
Pemerintah melalui Kementerian Keuangan dan pihak eksekutif perlu memainkan peran koordinatif untuk memastikan bahwa regulator pasar memiliki dukungan penuh dalam menyusun kebijakan yang mendorong stabilitas jangka panjang — termasuk pengembangan infrastruktur pasar modal yang kuat, edukasi investor, dan dukungan bagi pelaku pasar ritel dan institusional.

Tantangan Berat atau Momentum Transformasi?

Pengunduran diri pimpinan OJK dan BEI di tengah ambruknya IHSG akibat peringatan MSCI adalah kombinasi dari tanggung jawab moral, tekanan pasar global, dan kebutuhan reformasi struktural pasar modal Indonesia. Langkah ini dapat menjadi katalisator perubahan positif jika diikuti dengan kepemimpinan baru yang kuat, transparansi yang lebih baik, dan kebijakan yang memenuhi standar internasional.

Bagi pelaku pasar modal, terutama investor global, momen ini menuntut pendekatan rasional dan terukur dalam mengambil keputusan investasi jangka menengah hingga panjang, menempatkan fokus pada fundamental pasar dan prospek reformasi struktural.

 


The Portrait of Iindonesia’s Economic Development—Revisited 2026

Sebelumnya

Why Economic Growth Has Not Delivered Prosperity

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Ekonomi