post image
Anthony Budiawan, Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS)
KOMENTAR

Dalam kondisi seperti ini, upah sulit naik secara berkelanjutan karena produktivitas stagnan, sementara ketergantungan pada komoditas membuat pertumbuhan sangat sensitif terhadap siklus global.

Oleh: Anthony Budiawan, Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS)

ENAM belas tahun setelah kajian ini pertama kali ditulis, pertanyaan yang diajukan saat itu ternyata belum kehilangan relevansinya. Justru sebaliknya, pertanyaan tersebut kini terasa semakin tajam: apakah Indonesia benar-benar bergerak menuju status negara maju, atau hanya berputar dalam lingkaran pertumbuhan yang tampak sehat tetapi rapuh di dalam?

Secara nominal, perekonomian Indonesia telah tumbuh besar. PDB meningkat, pendapatan per kapita naik, dan Indonesia kini diklasifikasikan sebagai negara berpendapatan menengah atas. Tetapi, jika dilihat lebih dekat, fondasi struktural ekonomi nasional hampir tidak berubah.

Ketergantungan pada komoditas tetap kuat, basis industri manufaktur antara tidak berkembang seperti yang diharapkan, dan produktivitas tenaga kerja bergerak lambat.

Alih-alih mengalami lompatan industrial (industrial take-off), Indonesia justru menunjukkan gejala stagnasi struktural yang berlangsung lama dan tidak disadari.

Meninjau Kembali Temuan Input–Output

Kajian Input–Output dalam paper asli menunjukkan satu pesan sederhana tetapi penting: perekonomian Indonesia tidak mampu mengubah kenaikan permintaan akhir menjadi peningkatan produksi domestik yang kuat. Keterkaitan antarsektor lemah, sehingga pertumbuhan konsumsi maupun ekspor hanya menghasilkan dampak terbatas di dalam negeri.

Enam belas tahun kemudian, temuan ini terasa semakin relevan. Fenomena tersebut kini dapat dibaca sebagai bagian dari jebakan pendapatan menengah (middle-income trap). Negara yang gagal memperdalam struktur industrinya akan terjebak pada aktivitas bernilai tambah rendah.

Dalam kondisi seperti ini, upah sulit naik secara berkelanjutan karena produktivitas stagnan, sementara ketergantungan pada komoditas membuat pertumbuhan sangat sensitif terhadap siklus global.

Apa yang dahulu terlihat sebagai persoalan teknis dalam struktur industri, kini terbukti sebagai hambatan pembangunan jangka panjang.

Dari Deindustrialisasi Dini ke Middle Income Trap

Pada saat kajian ini disusun, proses deindustrialisasi dini masih sering dipahami sebagai gejala sementara atau konsekuensi transisi ekonomi. Sekarang, proses tersebut lebih tepat dipahami sebagai awal dari jebakan struktural yang lebih dalam.

Indonesia membuka perdagangan terlalu cepat, sebelum industri domestik memiliki skala, teknologi, dan efisiensi yang memadai. Akibatnya, industri antara dan manufaktur kompleks gagal tumbuh, sementara impor input antara meningkat tajam. Struktur ekonomi kemudian terkunci pada sektor-sektor bernilai tambah rendah yang relatif mudah tumbuh, tetapi sulit ditingkatkan kualitasnya.

Tanpa koreksi kebijakan yang serius, jalur ini bersifat mengunci. Semakin lama dibiarkan, semakin sulit untuk keluar.

Pelajaran Kebijakan untuk 2026 dan Seterusnya

Dua dekade terakhir memberikan satu pelajaran utama: pembangunan ekonomi tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada mekanisme pasar. Transformasi struktural memerlukan peran negara yang aktif, terarah, dan disiplin—bukan negara yang serba mengatur, tetapi negara yang tahu apa yang harus dibangun dan kapan harus melindungi.

Negara-negara yang berhasil keluar dari jebakan pendapatan menengah tidak mengandalkan liberalisasi semata. Mereka secara sadar membangun keterkaitan industri, melindungi sektor strategis pada tahap awal, dan mendorong peningkatan teknologi secara bertahap dan konsisten.

Indonesia masih memiliki peluang. Namun peluang itu hanya akan terbuka jika kebijakan pembangunan kembali difokuskan pada penciptaan nilai tambah domestik, pendalaman struktur industri, dan peningkatan produktivitas tenaga kerja—bukan hanya mengejar pertumbuhan PDB tahunan.

Penutup

Versi Revisited 2026 ini mempertegas satu kesimpulan yang tidak berubah sejak awal: kegagalan pembangunan ekonomi Indonesia bukanlah kegagalan potensi, melainkan kegagalan arah kebijakan.

Tanpa perubahan strategi yang mendasar, pertumbuhan ekonomi akan terus berulang dalam pola yang sama—tumbuh secara statistik, tetapi gagal menghadirkan kesejahteraan yang berkelanjutan dan dirasakan luas oleh masyarakat.


Why Economic Growth Has Not Delivered Prosperity

Sebelumnya

Double Downgrade Moody’s dan MSCI Picu Risiko Krisis Likuiditas dan Moneter

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Ekonomi