post image
Duta Besar Republik Indonesia untuk Tiongkok, Djauhari Oratmangun, berbicara di Universitas Renmin, Kamis, 4 Juni 2026./KBRI Beijing
KOMENTAR

Hubungan bilateral antara Indonesia dan Tiongkok kini bersiap memasuki fase baru yang lebih strategis. Dalam kunjungannya ke Universitas Renmin Tiongkok pada Kamis, 4 Juni 2026, Duta Besar Republik Indonesia untuk Tiongkok, Djauhari Oratmangun, menegaskan bahwa pencapaian visi besar "Indonesia Emas 2045" memerlukan dukungan dan kolaborasi erat dari para mitra strategis, termasuk Tiongkok.

Pertemuan ini diawali dengan sambutan hangat dari Wakil Rektor Universitas Renmin, Zheng Xinye, serta dihadiri oleh Direktur Institut Studi Keuangan Chongyang (RDCY), Wang Wen.

Di hadapan lebih dari 200 peserta yang memadati forum "Gelar Wicara Duta Besar" ke-18 tersebut, Dubes Djauhari membawakan pidato utama bertajuk "Fase Baru dan Visi Baru Hubungan RI-Tiongkok". Forum ini menarik perhatian besar dari kalangan akademisi, mahasiswa lokal dan internasional, serta berbagai media arus utama Tiongkok dan global. Dalam paparannya, ia menggarisbawahi bahwa kedua negara bukan sekadar tetangga regional, melainkan dua kekuatan ekonomi besar yang secara bersama-sama ikut membentuk masa depan kawasan Asia dan dunia.

Dubes Djauhari menjelaskan bahwa Indonesia sebagai ekonomi terbesar di ASEAN dan Tiongkok sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia, memiliki banyak kemiripan dalam target pembangunan jangka panjang. Seiring dengan berjalannya proses modernisasi gaya Tiongkok dan visi Indonesia Emas 2045, kedua negara memiliki komitmen yang sama untuk meningkatkan taraf hidup rakyatnya. Sinergi ini dinilai menjadi fondasi kuat bagi kemitraan yang berkelanjutan di masa depan.

Mengenang sejarah panjang hubungan kedua negara, Dubes Djauhari membawa ingatan audiens kembali pada Konferensi Asia-Afrika (KAA) tahun 1955 di Bandung. Saat itu, Perdana Menteri Tiongkok Zhou Enlai hadir membawa pesan perdamaian, kerja sama, dan persahabatan melalui prinsip "mencari kesamaan di tengah perbedaan." Nilai-nilai historis yang termaktub dalam "Semangat Bandung" tersebut dinilai tetap hidup dan relevan hingga hari ini, khususnya dalam memandu kedua negara memperkuat solidaritas sesama negara berkembang (Global South).

Dalam aspek kerja sama praktis, Indonesia saat ini sedang menikmati masa keemasan bonus demografi dengan total populasi melebihi 280 juta jiwa yang didominasi usia produktif. Pertumbuhan ekonomi digital yang pesat, ekosistem perusahaan rintisan (startup) yang dinamis, serta kekayaan sumber daya alam seperti nikel dan potensi energi geopolitis, menjadikan Indonesia daya tarik utama bagi investor global. Faktor-faktor ini membuka peluang investasi yang luas bagi Tiongkok di sektor transformasi energi dan peningkatan kapasitas industri.

Tiongkok sendiri telah lama mengukuhkan posisinya sebagai mitra dagang terbesar bagi Indonesia. Nilai perdagangan bilateral kedua negara pada tahun 2025 sukses menembus angka sekitar 167 miliar dolar AS, sebuah lonjakan drastis dibandingkan saat Dubes Djauhari pertama kali menjabat pada tahun 2018. Investasi dari Tiongkok daratan dan Hong Kong pun terus mengalir deras, menjadi motor penggerak penting bagi pembangunan infrastruktur dan hilirisasi industri di tanah air.

Lebih lanjut, keberadaan Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) disebut sebagai bukti nyata dari hasil kerja sama berkualitas tinggi di bawah inisiatif Belt and Road. Di sektor industri, kerja sama hilirisasi nikel telah berhasil mengubah bahan mentah menjadi produk bernilai tambah tinggi. Dinamika ini kian diperkuat dengan masuknya berbagai merek otomotif raksasa asal Tiongkok seperti BYD, Geely, Chery, dan Wuling yang kini mulai mendominasi pasar kendaraan listrik di Indonesia.

Dubes Djauhari juga mengenang momen krusial saat pandemi COVID-19 melanda, di mana Tiongkok menempatkan Indonesia sebagai pasar prioritas dalam distribusi vaksin. Kerja sama kesehatan di masa-masa sulit tersebut dipandang sebagai simbol nyata dari filosofi "teman sejati adalah teman yang ada saat kesusahan." Solidaritas ini membuktikan bahwa kemitraan strategis komprehensif antara Jakarta dan Beijing benar-benar memberikan manfaat yang konkret bagi masyarakat di kedua negara.

Menatap tantangan global ke depan—seperti perubahan iklim, transisi energi, pergeseran demografi, ketidakpastian geopolitik, dan pesatnya kecerdasan buatan (AI)—Dubes Djauhari menawarkan empat fokus utama kerja sama masa depan. Keempat sektor tersebut mencakup pemanfaatan AI untuk pelayanan publik, ketahanan pangan global, keamanan dan transisi energi hijau, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) lewat kolaborasi intensif antar-universitas kedua negara.

Menutup rangkaian acara, sesi diskusi panel yang menghadirkan pakar senior RDCY, Liu Zhiqin, dan Direktur Pusat Studi Asia Tenggara, Luo Yongkun, menyepakati bahwa Indonesia adalah raksasa yang kerap dipandang sebelah mata di panggung internasional. Mengingat pentingnya posisi strategis Indonesia, para pakar menekankan perlunya peningkatan pemahaman sosial budaya dan pertukaran antargenerasi muda demi memperkokoh akar rumput diplomasi serta menjaga stabilitas, perdamaian, dan kemakmuran jangka panjang di kawasan Asia-Pasifik.


Akankah Krisis Nilai Tukar 1997 Terulang?

Sebelumnya

Ristiyanto: Pengakuan Prabowo Lebih Marhaen Bukan Basa-basi Politik

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Nasional