Tantangan terbesar bukan membuktikan mereka pintar, melainkan memastikan seluruh proses penilaian berlangsung transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.
Oleh: Dr. Selamat Ginting, Analis Politik dan Militer Universitas Nasional (UNAS)
PADA penutupan Pendidikan Reguler (Dikreg) LXVI Tahun 2026 di lembaga pendidikan tertinggi Angkatan Darat, Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad), pada 3 Juni 2026 lalu, muncul fakta menarik yang memancing diskusi di kalangan militer dan pengamat politik.
Peraih Adhi Makayasa Akademi Militer 2011, Mayor (Czi) Henric Pardamean Hutagalung, hanya berada di peringkat kedua prestasi belajar terbaik. Peringkat pertama justru diraih Letkol (Inf) Denny Sopyan, rekan seangkatannya di Akmil yang kini dikenal sebagai salah satu pengawal Presiden Prabowo Subianto.
Pada kategori penulisan Kertas Karya Perorangan (Taskap), situasi serupa kembali terjadi. Peraih Adhi Makayasa Akmil 2012, Mayor (Inf) Egy Satria Binthara, menempati posisi kedua. Adapun posisi pertama diraih Letkol (Inf) Teddy Indra Wijaya yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris Kabinet.
Teddy bagaikan "Superman", menjadi Seskab tanpa cuti pendidikan, langsung di saat bersamaan mengikuti pendidikan reguler Seskoad. Bukan cuma itu dia juga mengambil pendidikan doktoral di Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (ITB). Publik bertanya, bagaimana dia bisa membagi waktunya dan bisa meraih lulusan Taskap terbaik Seskoad?
Yang jelas Teddy, Denny, dan Henric sama-sama lulusan Akmil 2011. Di ruang publik, fenomena ini dapat dibaca secara sederhana: "orang-orang Presiden mengalahkan para peraih Adhi Makayasa." Namun, apakah sesederhana itu? Jawabannya: belum tentu.
Meritokrasi Militer
Dalam tradisi militer modern, Adhi Makayasa merupakan simbol keunggulan akademik, kepemimpinan, mental, dan jasmani ketika seorang taruna lulus dari akademi. Namun penghargaan itu diberikan pada titik awal karier, bukan jaminan seseorang akan selalu menjadi yang terbaik sepanjang perjalanan dinas.
Karier militer seperti maraton, bukan lomba lari 100 meter. Perwira yang cemerlang di akademi belum tentu menjadi yang terbaik ketika memasuki jenjang pendidikan pengembangan, penugasan operasi, jabatan staf, maupun kepemimpinan lapangan. Sebaliknya, ada perwira yang berkembang pesat setelah bertahun-tahun pengalaman bertugas.
Dari sudut pandang profesional militer, "kemenangan" Denny Sopyan dan Teddy Indra Wijaya justru menunjukkan sistem pendidikan Seskoad masih memberikan ruang bagi kompetisi terbuka. Jika seorang perwira yang dekat dengan Presiden meraih prestasi terbaik karena memang unggul dalam penilaian akademik dan intelektual secara fair, maka hal itu merupakan bagian dari meritokrasi. Namun jika tidak fair, hal ini akan menjadi persoalan dan memunculkan persepsi yang merugikan Angkatan Darat.
Politik Persepsi di Militer
Dalam ilmu politik, persepsi sering kali sama pentingnya dengan realitas. Denny Sopyan dikenal sebagai bagian dari lingkar pengamanan Presiden. Teddy Indra Wijaya bahkan lebih menonjol karena menduduki jabatan politik strategis sebagai Sekretaris Kabinet sekaligus tetap berasal dari lingkungan militer.
Ketika dua figur yang diasosiasikan dengan pusat kekuasaan dan mendapatkan kenaikan pangkat lebih cepat dari teman seangkatannya, kemudian memperoleh prestasi tertinggi saat mengikuti pendidikan Seskoad dengan tetap memegang jabatan lingkaran presiden, sebagian kalangan akan bertanya: apakah ini murni prestasi akademik atau ada faktor kedekatan dengan kekuasaan?
Pertanyaan semacam ini hampir selalu muncul dalam organisasi birokrasi maupun militer di berbagai negara. Semakin dekat seseorang dengan pusat kekuasaan, semakin besar pula sorotan terhadap setiap keberhasilannya.
Oleh karena itu, tantangan terbesar bukan membuktikan mereka pintar, melainkan memastikan seluruh proses penilaian berlangsung transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.
Munculnya Elite Baru Militer
Fenomena ini juga dapat dibaca dari perspektif regenerasi elite militer. Dalam sejarah Indonesia, selalu muncul kelompok perwira yang tumbuh bersama seorang presiden. Pada masa Soeharto dikenal jaringan perwira yang memiliki kedekatan dengan Presiden. Pada era Susilo Bambang Yudhoyono muncul pula kelompok perwira yang berkembang bersama pemerintahan SBY. Bahkan di era Jokowi muncul istilah Geng Solo, perwira-perwira yang pernah berdinas di Solo sejak Jokowi menjadi Walikota Solo dan kelak kariernya bagai meteor.
Kini pada era Prabowo, mulai terlihat kemunculan generasi baru perwira yang memiliki akses langsung ke pusat pengambilan keputusan nasional. Akses tersebut memberikan keuntungan besar. Mereka memperoleh pengalaman strategis yang tidak selalu didapatkan oleh perwira lapangan biasa. Mereka berinteraksi dengan isu geopolitik, diplomasi pertahanan, keamanan nasional, dan proses pembuatan kebijakan negara.
Pengalaman seperti itu secara alamiah meningkatkan kapasitas intelektual dan strategis seorang perwira ketika mengikuti pendidikan seperti Seskoad.
Dengan kata lain, kedekatan dengan Presiden tidak otomatis menghasilkan prestasi. Namun kedekatan itu dapat memberikan pengalaman dan wawasan yang menjadi modal kompetitif.
Kepemimpinan TNI Masa Depan
Dalam tradisi Angkatan Darat, prestasi di Seskoad sering menjadi salah satu indikator penting dalam pemetaan karier menuju jabatan strategis. Tidak berarti lulusan terbaik pasti menjadi Kepala Staf Angkatan Darat atau Panglima TNI. Namun rekam jejak akademik di Seskoad merupakan salah satu variabel yang diperhatikan dalam sistem pembinaan karier.
Oleh karena itu, keberhasilan Denny Sopyan maupun Teddy Indra Wijaya dapat dibaca sebagai sinyal keduanya masuk dalam radar elite militer masa depan. Hal yang sama berlaku bagi Henric Pardamean Hutagalung dan Egy Satria Binthara. Menempati posisi kedua di lembaga pendidikan sekelas Seskoad tetap merupakan pencapaian luar biasa yang menunjukkan kualitas intelektual dan profesional yang tinggi.
Kesimpulan




KOMENTAR ANDA