post image
Timnas Indonesia
KOMENTAR

Peluangnya sangat terbuka. Puluhan ribu penonton yang berjubel di stadion yang dibangun di masa Sukarno ini akan jadi kekuatan pengobar semangat Garuda. Kevin Diks dkk memiliki semua hal yang diperlukan untuk menang dan juara. 

Kalau ada aspek yang harus diperbaki segera dalam waktu singkat, itu adalah masalah stamina. Kontra Thailand akan jadi laga yang ketat. Pressing tinggi, man to man marking bakal mewarnai duel Indonesia versus Thailand. Mentalitas juga begitu menentukan. 

Kevin Diks dkk mesti sabar, rileks, tidak terpengaruh provokasi. Ketika menghadapi Malaysia, ada momen Diks kurang sabar saat duel dengan pemain Malaysia. Puncaknya Thom Haye diusir ketika mendapat kartu merah langsung. Di final, elemen dan kejadian kecil, remeh, bahkan disengaja, menentukan hasil akhir laga. Kesalahan gede dan berat semacam dilakukan Haye tak boleh diulangi.

Berada dalam euforia menggelinjang dan harapan besar pecinta sepak bola nasional, dapat menjadi pisau bermata dua. Pada satu sisi meningkatkan semangat untuk rawe-rawe rantas dan juara. Pada sisi lain hal itu dapat membebani sehingga bikin performa timnas jadi antiklimaks. Di sini letak penting sosok John Herdman: Menyiapkan mental tim secara tepat, sambil meracikan taktik yang manjur meredam Thailand. 

Herdman memang tidak terlalu tahu sepak bola Asia Tenggara dan Thailand, tapi pelatih asal Inggris ini bukan 'anak kemarin sore'. Herdman memiliki pengalaman, antara lain mengantar Kanada ke Piala Dunia 2022 di Qatar.

Herdman ingin menyatukan pemain diaspora dan lokal dalam bendera "satu keluarga". Saat membela merah putih mereka satu kekuatan, sebuah keluarga yang mewakili 280 jutaan penduduk Indonesia. Kalimat "Timnas Family over Everything" (Keluarga Timnas di Atas Segalanya) kini menghiasi ruang ganti Stadion GBK.

Langkah itu tepat untuk menyatukan pemain dengan beragam asal-usul dan latar belakang itu. Namun begitu, waktu terus melaju. Pecinta bola sudah tidak sabar menyaksikan timnas segera berprestasi. Sebelum ke level tertinggi, juara tingkat Asean adalah anak tangga menuju level dunia.

Kalau boleh meminta pada Herdman, saya ingin dia menurunkan the winning team saat laga kontra Bangladesh itu. Susunan pemain itu membentuk keseimbangan dalam menyerang dan bertahan. Pola 3-4-3 juga mesti dipertahankan karena relatif intim dengan timnas sejak era STY.

Seperti Ray Rangkuti, yang larut dalam kebahagiaan di GBK ketika memukul Bangladesh, saya ikut dag dig dug ser menyaksikan timnas dari layar kaca waktu itu. 

Maka sebuah kebahagiaan besar dan pelipur lara bagi negara yang terus dikurung berita buruk ini jika Indonesia juara FIFA Asean Cup 2026. Menurut saya, final versus Thailand adalah saat tepat untuk menunjukkan taring Indonesia. Thailand bukan tak terkalahkan. Terakhir Filipina mampu menggasaknya. Kevin Diks dkk pun pasti bisa.

Jika menang, pecinta bola bakal kian mencintai John Herdman. Adapun saya, syukur-syukur menang, meminta satu hal lagi kepada Herdman. Dengan spirit satu keluarga, PSSI dan pelatih timnas harus memberikan peluang bermain yang lebih besar pada pemain yang berlaga di Liga Indonesia. Setidaknya porsinya 6:5. Enam pemain diaspora plus lima pemain lokal di line up timnas. Jika tidak, apa perlunya Liga Indonesia? Bukan begitu Pak Erick Thohir?


Reshuffle dan Sidang di MK: Sinyal Lampu Merah Buat Gibran?

Sebelumnya

Wantimpres 26 Orang: Dasar Hukumnya Ada, Efektivitasnya Perlu Dibuktikan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Nasional