Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan
DALAM bahasa Indonesia masa kini, ejaan barunya: Tailan tetapi agar tidak terkesan jorok, saya tetap menulisnya: Thailand. De facto Thailand merupakan kerajaan merdeka yang tidak pernah dijajah, dan mungkin karena itu monarkinya tidak pernah mati.
Di saat monarki di Laos, Kamboja, Myanmar, bahkan Nepal tumbang atau jadi pajangan, monarki di Thailand tetap bertahan. Bukan karena kuat, tapi karena ia pintar berubah wujud.
1. Bukan Monarki, Tapi Jaring Pengaman.
Orang luar mengira Raja Thailand berkuasa seperti raja di Eropa abad pertengahan. Keliru. Sejak Revolusi 1932, Raja Thailand secara konstitusi tidak berkuasa. Kudeta terjadi 13 kali, perdana menteri ganti 30 kali, konstitusi ditulis ulang 20 kali.
Yang tidak pernah ganti adalah Raja.
Kenapa tentara yang hobi kudeta tidak menghapus raja saja? Karena tentara butuh raja sebagai stempel.
Setiap kali jenderal melakukan kudeta di Bangkok, hal pertama yang dia lakukan bukan pidato di TV, tapi sungkem ke Istana. Kalau Raja mengangguk, kudeta itu sah. Kalau Raja diam, kudeta itu berdarah.
Raja Rama IX, Bhumibol, menguasai seni ini selama 70 tahun. Dia tidak memerintah, tapi dia mengesahkan siapa yang boleh memerintah. Itu lebih berkuasa daripada memerintah langsung. Orang Thailand menyebutnya sebagai barami — wibawa spiritual yang di atas hukum.
2. Dua Mesin Penopang: Buddha dan Birokrasi.
Monarki Thailand bertahan karena ditopang dua hal yang tidak ada di Indonesia:
Pertama, Agama. Raja adalah Dharmaraja, pelindung Buddha Theravada. Setiap Raja harus menjadi biksu sementara, seperti Rama X pun pernah. Di desa-desa Isan, foto raja digantung lebih tinggi dari foto perdana menteri karena raja adalah penjelmaan kebajikan, bukan pejabat.
Kedua, Pasal 112. Ini undang-undang lese majeste paling keras di dunia. Menghina monarki bisa dihukum 15 tahun penjara. Di media sosial Thailand, kamu boleh menghina perdana menteri, tapi tidak boleh menyentuh monarki. Ini menciptakan ketakutan kultural yang menjaga monarki tetap sakral.
3. Kenapa Sekarang Retak?
Generasi baru Thailand yang lahir setelah 2000 tidak lagi percaya barami. Mereka melihat di Instagram: Pangeran tinggal di Jerman, punya anjing peliharaan berpangkat jenderal udara, sementara mereka harus bayar uang kuliah mahal.
Gerakan 2020-2021 dipimpin anak muda yang berani meneriakkan hal yang tabu selama 90 tahun: "Reformasi Monarki". Mereka tidak minta monarki dibubarkan, mereka minta Raja membayar pajak, tidak memakai Pasal 112, dan tidak ikut campur politik. Ini pertama kalinya dalam sejarah Thailand.
Jadi monarki di Thailand bertahan bukan karena ia kuno, tapi karena ia sangatmodern. Ia adalah monarki yang paham cara bertahan menjadi merek jimat, dan stempel legitimasi sekaligus.
Selama tidak ada revolusi seperti di Prancis dan Russia, monarki Thailand akan tetap bertahan, tapi tidak lagi seperti dulu. Dari Raja yang disembah, menjadi Raja yang diawasi.



KOMENTAR ANDA