post image
Ilustrasi Nadiem Makarim-Gusti/Harian Disway
KOMENTAR

Oleh: Dahlan Iskan, Wartawan Senior 


BEGITU besar nama Nadiem Makarim. Sejak sebelum menjadi menteri. Bahkan sudah lebih besar dari jabatan terakhirnya itu. Pun secara internasional.

Di dunia, Nadiem lebih dikenal bukan sebagai menteri –tapi sebagai teknopreneur. Yakni teknopreneur yang membumi: mendayagunakan sepeda motor –lambang transportasi kelas bawah di Indonesia.

Pikiran seorang teknopreneur, selama itu, dikenal selalu bermain di level langit. Tapi Nadiem justru memikirkan sepeda motor –pemilik sepeda motor.

Tentu Nadiem dicibir pada awalnya. "Teknopreneur kelas sepeda motor".

Lebih sepele dari itu: "teknopreneur kelas ojek" –lambang transportasi kelas omprengan.

Anda masih ingat beberapa pemilik sepeda motor pernah terpaksa cari makan dengan cara ngompreng. Mereka mengisi ''lubang'' yang kosong.

Ada dua lubang menganga yang mereka lihat. Tidak adanya kendaraan umum di banyak jalur. Orang sudah telanjur terbiasa malas jalan kaki. Apa boleh buat: yang ada sepeda motor. Meski awalnya agak risi –dibonceng laki-laki kelas bawah yang tidak dikenal– lama-lama terbiasa.

Lubang kedua: kian modern orang kian kesusu. Mereka punya mobil tidak ada gunanya.  Jalan raya Jakarta macet. Pun waktu menjadi menteri dulu saya sering memanfaatkan ojek. Termasuk kalau kesusu harus rapat di Istana.

Tapi tidak semua tempat ada pangkalan ojek. ''Pangkalan ojek'' menjadi istilah yang sama populernya dengan ''terminal bus''. Kadang pangkalan itu jauh dari kebutuhan: harus ada pohon rindang atau emperan kaki lima yang bisa dipakai ''mangkal''.

Maka sering kali saya memasang wajah memelas untuk mencegat pengendara motor yang iba: minta diantar ke tujuan. Misalnya ke kantor kementerian tertentu.

Fleksibilitas sepeda motor tidak ada tandingannya –sampai ada drone untuk angkut manusia kelak. Itu yang dilihat Nadiem: ojek. Lalu ia ciptakan aplikasi yang namanya tidak jauh-jauh dari itu: Go-Jek.

Ojek menjadi Go-jek. Ia masukkan unsur bahasa Inggris ''Go''. Keren. Let's Go!

Pangkalan ojek pun ia pindahkan. Dari bawah pohon ke handphone Anda. Lalu dor! Meledak. Membumbung. Tinggi. Jadi gaya hidup baru. Jadi penggerak ekonomi. Jadi jembatan pemerataan pendapatan: kelas atas belanja. Kelas bawah mengangkutnya: Go-Food. Lalu Go-Cantik (?). Go-ApaSaja.

Nadiem pun menjadi orang sangat kaya lewat langkahnya itu. Ia jadi simbol anak muda yang super sukses. Ia pun jadi orang di atas langit dari hasil langkahnya yang membumi.

Begitu besar nama Nadiem –di saat masih begitu muda. Ia seperti anak yang lepas tinggi dari busur orang tuanya: Nono Anwar Makarim.

Nono adalah aktivis demokrasi, antikorupsi, pembela keadilan dan kebenaran. Ia salah satu pemimpin KAMI --Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia. Nono jadi komunikator gerakan. Utamanya lewat Harian Kami –koran mahasiswa yang sangat radikal dalam membela demokrasi, keadilan dan anti-korupsi.

Nono menjadi pemimpin redaksinya.

Pun istri Nono, Tika, juga aktivis antikorupsi. Tergabung di lembaga antikorupsi Mohamad Hatta –menggunakan nama wakil presiden pertama yang dikenal sangat bersih, sederhana, dan pejuang demokrasi. Rasanya, saya pernah dapat penghargaan dari lembaga itu. Atau tidak.  Penghargaannya dikirim ke kantor Kementerian BUMN. Atau tidak. Saya sudah lupa.

Setelah tidak jadi pemimpin wartawan, Nono masih bergerak di bidang idealisme: mendirikan LP3ES –bersama beberapa kawan seperjuangannya.

LP3ES adalah lembaga penelitian, pendidikan, dan penerangan ekonomi dan sosial. Bukan lembaga komersial. Juga bukan kendaraan politik. Itu lembaga pressure group –dari jenis yang intelektual.

Kini Nono dan Tika masih hidup. Sudah tua. Rasanya 10 tahun di atas umur saya. Saya adalah anak didiknya di bidang jurnalisme. Di lembaganya itulah saya dididik menjadi wartawan –setelah dua tahun jadi wartawan yang hanya sekolah di lapangan.

Tapi saya tidak kenal Nadiem. Saya hanya merasa aneh: kok mau-maunya jadi menteri. Ia pasti tahu meritokrasi belum bisa ditegaskan di Indonesia –pun di lembaga seperti universitas.

Tapi, kadang orang tidak bisa menolak permintaan. Apalagi kalau yang meminta adalah seorang presiden Republik Indonesia. Terlalu banyak kata-kata manis yang dipakai agar seseorang yang tidak ingin jabatan diminta mau menerima jabatan. Serba ideal: demi bangsa. Demi negara. Negara ini harus maju. Dan seterusnya.


Pilihan Baru

Sebelumnya

Timtim Maduro

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Disway