post image
CG Karmin Abbas/Facebook
KOMENTAR

Oleh: Selwa Kumar, Pengamat Sosial dari USU

Di tengah derasnya perkembangan teknologi, tidak banyak pendidik yang mampu mempertahankan akar budaya sekaligus memanfaatkan teknologi sebagai sarana pembelajaran. Salah satu sosok yang menempuh jalan tersebut adalah CG Karmin Abbas dari Singapura.

Sejak tahun 1998, CG Karmin tidak sekadar mengajar di ruang kelas. Ia memulai sebuah perjalanan panjang membangun berbagai perangkat lunak pendidikan (educational software) yang bertujuan membantu guru menghemat waktu, meningkatkan kreativitas siswa, dan menjadikan pembelajaran lebih bermakna.

Baginya, teknologi bukan tujuan akhir. Teknologi hanyalah alat untuk menghidupkan kembali ilmu, bahasa, sastra, dan warisan budaya.

Dari Perangkat Lunak Offline hingga Solusi Online

Pada akhir 1990-an, ketika internet masih belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, CG Karmin sudah mengembangkan berbagai perangkat lunak pendidikan yang digunakan untuk membantu proses belajar-mengajar.

Ketika dunia beralih ke internet, ia turut bertransformasi dengan membangun berbagai online solutions yang memungkinkan guru dan pelajar menghasilkan materi pembelajaran secara lebih cepat dan sistematis.

Fokusnya tetap sama: mengurangi pekerjaan administratif guru agar mereka memiliki lebih banyak waktu untuk mendidik.

Memasuki Era Artificial Intelligence

Perubahan terbesar terjadi ketika teknologi Artificial Intelligence mulai berkembang pesat.

Alih-alih melihat AI sebagai ancaman, CG Karmin memandangnya sebagai kesempatan besar untuk memperkuat pendidikan dan melestarikan budaya Melayu.

Dari sinilah lahir puluhan aplikasi AI yang dirancang bukan sekadar menghasilkan teks, tetapi membantu pengguna berpikir, berkreasi, dan memahami nilai budaya.

Aplikasi-aplikasi tersebut mencakup berbagai bidang seperti penulisan kreatif, sastra, pembelajaran bahasa, pembuatan komik, penyusunan presentasi, penghasilan gambar, hingga pengembangan bahan ajar secara otomatis.

Flash Modern Dongeng (FMD): Dongeng Tradisional Bertemu AI

Di antara berbagai inovasinya, salah satu yang paling menarik perhatian adalah Flash Modern Dongeng (FMD).

FMD merupakan sebuah konsep baru yang menggabungkan:

- cerita rakyat,
- nilai-nilai budaya,
- kecerdasan buatan,
- visual modern,
- animasi,
- dan teknik penceritaan interaktif.

Melalui FMD, sebuah cerita tradisional tidak lagi berhenti sebagai bahan bacaan.

Ia dapat berubah menjadi komik, animasi, poster, video pendek, bahan presentasi, bahkan pertunjukan interaktif hanya dalam waktu yang jauh lebih singkat dibandingkan metode konvensional.

Dengan demikian, cerita lama memperoleh "napas baru" yang dekat dengan generasi digital.

AI sebagai Mitra Guru, Bukan Pengganti Guru

Menurut CG Karmin, AI tidak boleh menggantikan guru.

Sebaliknya, AI harus menjadi asisten yang membantu guru menghasilkan ide, bahan ajar, aktivitas kelas, media visual, dan latihan pembelajaran dalam hitungan menit.

Guru tetap menjadi pembimbing, sementara AI mempercepat proses produksi.


Direktur FBI Sambangi Prabowo di Kertanegara

Sebelumnya

Kampong Gelam, Sebuah Dekonstruksi Narasi

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Budaya