post image
Foto: Zona Terbang
KOMENTAR

Jika meminjam konsep Guillermo O’Donnell tentang delegative democracy, Gerakan Rakyat berada di persimpangan: ingin menjadi kekuatan moral sekaligus kendaraan elektoral.

Namun tanpa institusionalisasi yang disiplin, ia berisiko menjadi: “Gerakan yang ramai di permukaan,Tetapi tipis secara organisasi, dan nihil dalam kapasitas elektoral.”

Itulah yang oleh para ilmuwan gerakan disebut mobilisasi tanpa institusionalisasi: energi besar tetapi tidak mampu memasuki struktur kekuasaan.

Kesimpulan Kritis: Gerakan Rakyat Bisa Menguatkan Narasi Anies, Tapi Tidak Cukup Mengantarnya ke 2029

Secara teoritis dan struktural, Gerakan Rakyat lebih mungkin berfungsi sebagai:
• Alat tekanan moral,
• Wadah konsolidasi relawan,
• Instrumen menjaga brand politik, namun sangat kecil kemungkinan menjadi kendaraan pencapresan mandiri tanpa faktor eksternal berupa perubahan peta politik, fragmentasi koalisi, atau krisis legitimasi besar.

Energi gerakan ini penting, tetapi tidak cukup menggantikan mesin partai. Dalam konteks itu, pertanyaan kuncinya bukan lagi apakah Gerakan Rakyat dapat mengantarkan Anies ke pilpres 2029, tetapi:

Apakah gerakan ini akan mampu keluar dari siklus romantisme relawan dan membangun kapasitas organisasi yang benar-benar mampu menembus arena politik yang sangat displin dan terstruktur?

Jawabannya, untuk saat ini, masih sangat jauh dari pasti.


Demokrasi di Tengah Perang Dingin Elite

Sebelumnya

Benarkah Presiden Tak Pernah Ikhlas Melepas Polri?

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Nasional