Nama Tarim sudah sering Anda dengar. Terlalu banyak mahasiswa Indonesia --dari kalangan Islam tradisional-- yang sekolah di Tarim.
Nama Tarim kian melambung dua tahun terakhir. Yakni sejak terjadi perdabatan seru soal ”habib itu keturunan Nabi Muhammad atau bukan”.
Tarim adalah pusatnya habib sedunia. Istilah habib sendiri lahir di kota Tarim. Di Arab Saudi tidak dikenal gelar habib. Pun di negara Arab lainnya.
Di Arab Saudi keturunan Nabi biasa dipanggil dengan sebutan sayyid.
Pukul 08.00 saya sudah mendarat di bandara Saiyun. Hanya dua jam penerbangan dari Jeddah. Langsung ke Tarim. Hanya 35 menit perjalanan.
Sebelum pesawat mendarat saya melongok dari kaca jendela: indah sekali. Pemandangan di bawah sana spektakuler. Seperti hamparan tanah rata yang luas. Tanpa tanaman maupun gundukan. Tapi hamparan itu seperti diiris-iris tidak lurus. Seperti banyak retakannya. Retakan yang dalam.
Retakannya itu ada yang sempit ada yang lebar. Kian pesawat turun kian jelas: di dalam retakan itu ada pohon-pohon hijaunya. Lalu ada seperti sungainya tapi tanpa air.
Setelah beberapa hari di Tarim saya tahu: semua kota kecil di kawasan Hadramaut lokasinya di dasar retakan-retakan gunung tanah itu.
--
Maka retakan-retakan itu pada awalnya adalah tanah gunung yang tergerus oleh air hujan, lalu membentuk sungai yang dalam. Di kanan-kiri sungai yang tak berair itulah orang-orang Hadramaut membangun kehidupan.
Meski sungainya tidak berair tapi karena letaknya jauh di bawah tebing gunung sehingga tanahnya mengandung banyak air. Air melimpah. Di mana ada air di situ ada kehidupan.
Maka kehidupan terbanyak di Hadramaut adalah di celah-celah gunung tanah itu. Disebut “wadi”.
Di Saudi Arabia “wadi” biasanya di cekungan gunung. Di Hadramaut ”wadi” berada di sepanjang celah gunung.
Wadi itu bisa memanjang panjang sekali. Mengikuti aliran sungai di kala ada hujan.
Kelak, di hari keempat di Hadramaut saya berkesempatan memasuki celah-celah gunung yang dalam seperti itu. Tidak hanya memasuki tapi juga menyusurinya. Berpuluh kilometer. Melewati kampung-kampung di sepanjang sungai di celah gunung yang dalam.
Dalam menyelusuran itu saya sering mendongak ke atas, ke daratan yang di atas sana. Lalu menyadari bahwa saat itu saya sedang di dalam celah rekahan gunung tanah.
Tiba di Tarim sebenarnya saya sudah lapar. Tapi itu hari Jumat. Sebentar lagi saatnya tiba: harus salat Jumat. Lalu akan ada makan gratis di rumah ulama terbesar di Tarim: di rumah Habib Umar.
Letak rumah Habib Umar hanya beberapa langkah dari pondok Darul Mustofa. Beliau yang mendirikan Darul Mustofa.
Berarti itulah ziarah pertama saya di Tarim: ke rumah Habib Umar. Tidak perlu ada anggaran makan siang hari itu.
Berarti ke tempat pembuatan bata tanah tadi adalah ziarah kedua saya di Tarim.


KOMENTAR ANDA