post image
Presiden Soeharto berinteraksi dengan warga desa dalam satu kunjungan incognito di era 1970an.
KOMENTAR

Secara analitis, menempatkan desa sebagai benteng terakhir pertahanan nasional mengandung tiga lapis makna. Pertama, makna territorial, desa adalah ruang geografis terdepan yang harus dijaga. Kedua, makna sosial desa adalah komunitas yang menentukan loyalitas negara. Ketiga, makna logistic desa adalah sumber daya pangan, manusia, dan informasi. Ketiganya saling terkait dalam membentuk daya tangkal nasional.

Dengan demikian, warisan pemikiran Pak Harto mengenai desa tidak dapat direduksi semata sebagai kebijakan pembangunan pedesaan. Ia merupakan bagian dari grand strategy pertahanan negara yang memadukan militerisme teritorial, pembangunan ekonomi, dan stabilisasi politik. Desa diproyeksikan bukan hanya sebagai objek pembangunan, tetapi subjek pertahanan.

Konteks Geostrategis

Dalam lanskap ancaman kontemporer perang hibrida, disinformasi digital, krisis pangan, dan bencana iklim relevansi desa sebagai benteng pertahanan justru menemukan konteks baru. Ketahanan komunitas lokal, kemandirian pangan, dan kohesi sosial kembali menjadi variabel strategis. Artinya, meskipun konteks politik berubah, logika dasar yang menempatkan desa sebagai lapisan pertahanan paling akhir tetap memiliki signifikansi dalam arsitektur keamanan nasional Indonesia.

Akhirnya, membaca Pak Harto, desa, dan pertahanan nasional adalah membaca relasi antara negara dan rakyat pada tingkat paling fundamental. Di sana, stabilitas tidak dibangun hanya dengan senjata, tetapi dengan beras, jalan desa, irigasi, dan struktur sosial yang terkonsolidasi. Desa, dalam paradigma ini, bukan pinggiran melainkan garis pertahanan terakhir republik.


Rapim TNI-Polri, Prabowo Subianto: Jaga Kepercayaan Rakyat

Sebelumnya

80 Tahun Pers Nasional dan Masa Depan Indonesia

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Nasional