Sinyal GPS pada pesawat jet Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) yang membawa Menteri Pertahanan Inggris, John Healey, dilaporkan mengalami gangguan parah (jamming) saat melintas di dekat perbatasan Rusia. Insiden ini terjadi ketika Healey tengah dalam perjalanan pulang dari kunjungan kerja di Estonia menuju Inggris, dan diduga kuat didalangi oleh pihak Rusia.
Menurut laporan dari The Guardian, serangan elektronik tersebut berlangsung pada Kamis, 21 Mei 2026, tak lama setelah Menhan Inggris menyelesaikan agendanya mengunjungi pasukan Inggris yang ditempatkan di negara Baltik tersebut. Meski jalur penerbangan pesawat militer ini terlihat jelas di berbagai situs pelacak penerbangan publik, belum dapat dipastikan apakah pesawat tersebut sengaja dijadikan target utama atau merupakan dampak sekunder.
Sebelum insiden pemutusan sinyal terjadi, Menteri John Healey melakukan serangkaian pertemuan resmi dengan Menteri Pertahanan Estonia, Hanno Pevkur, di ibu kota Tallinn. Kunjungan kerja tersebut bertujuan untuk membahas perluasan kerja sama pertahanan bilateral jangka panjang antara kedua negara guna memperkuat pengamanan di kawasan Baltik.
Pesawat yang ditumpangi oleh rombongan Menhan Inggris merupakan jet jenis Dassault Falcon 900LX milik RAF dengan nomor registrasi G-ZABH. Penerbangan tersebut dioperasikan oleh maskapai Centreline AV Limited atas nama Skuadron Royal 32 dari pangkalan RAF Northolt. Insiden mulai dirasakan ketika pesawat memasuki ruang udara internasional di kawasan Baltik.
Marsekal Udara Sir Harv Smyth mengutuk keras insiden ini dan menyebutnya sebagai "intervensi Rusia yang sembrono". Dampak dari serangan siber-elektronik ini terbilang masif, di mana gangguan navigasi tersebut melumpuhkan fungsi GPS pesawat sepanjang rute pulang serta memutus total koneksi internet dan jaringan WiFi pada gawai milik seluruh penumpang.
Meskipun sistem GPS dan konektivitas internet mati total, penerbangan tetap dilanjutkan setelah kapten pilot melakukan prosedur penilaian risiko darurat (risk assessment). Setelah dipastikan bahwa sistem navigasi alternatif cadangan pada pesawat berfungsi dengan baik dan aman, jet Falcon 900LX tersebut akhirnya berhasil mendarat di Inggris tanpa insiden lanjutan.
Pesawat Dassault Falcon 900LX, yang juga dikenal di lingkungan militer Inggris sebagai Envoy IV CC.1, dikabarkan tidak dilengkapi dengan sistem perlindungan elektronik standar militer tingkat tinggi. Saat proses pengadaan armada ini pada Juli 2022 lalu, Pemerintah Inggris memilih untuk tidak memasang perangkat pertahanan peperangan elektronik (electronic warfare) yang ekstensif guna menekan biaya.
Keputusan masa lalu tersebut kini menuai gelombang kritik tajam dari berbagai pengamat pertahanan domestik. Terlebih lagi, insiden serupa juga pernah menimpa mantan Menteri Pertahanan Inggris sebelumnya, Grant Shapps, yang jet diplomatiknya mengalami gangguan GPS selama 30 minutes saat terbang di dekat wilayah eksklave Rusia, Kaliningrad.
Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa (EASA) sendiri telah memetakan sejumlah titik rawan atau hotspot gangguan sistem navigasi satelit global (GNSS). Selain kawasan Laut Baltik dan Kaliningrad, wilayah perbatasan Finlandia timur, Laut Hitam, serta Mediterania timur menjadi zona yang paling sering mengalami gangguan frekuensi akibat aktivitas militer Rusia.
Serangan jamming di ruang udara Baltik ini tidak hanya menyasar pejabat Inggris. Sejumlah penerbangan diplomatik penting lainnya, termasuk jet yang membawa Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen serta pesawat Angkatan Udara Spanyol yang membawa Menteri Pertahanan Margarita Robles, tercatat pernah mengalami gangguan navigasi serupa saat melintasi kawasan rawan tersebut.




KOMENTAR ANDA