Mesin jet modern seperti Rolls-Royce Trent XWB dan GE Aerospace GEnx telah terbukti mampu beroperasi menggunakan 100% Sustainable Aviation Fuel (SAF) dalam berbagai uji coba terkontrol. Namun, meskipun perangkat keras mesin telah menunjukkan kesiapan, penggunaan bahan bakar tanpa campuran ini pada penerbangan komersial saat ini masih dilarang dan dapat menyebabkan pesawat dikandangkan secara hukum.
Keberhasilan uji coba, seperti penerbangan Airbus A350 dengan mesin Trent XWB berbahan bakar SAF murni pada 2021, membuktikan bahwa turbofan modern mampu menangani bahan bakar alternatif tanpa kendala mekanis. GE Aerospace juga telah melakukan validasi pada sepuluh model mesin berbeda, menunjukkan bahwa arsitektur mesin saat ini tidak memerlukan modifikasi internal untuk membakar bahan bakar sintetis.
Secara termodinamika, mesin justru diuntungkan oleh SAF karena bahan bakar sintetis memiliki kepadatan energi yang lebih tinggi dan minim pengotor. Ketiadaan sulfur dan kontaminan lain dalam SAF berpotensi menjaga komponen internal mesin tetap bersih lebih lama, mengurangi akumulasi karbon (coking), dan berpotensi memperpanjang usia pakai suku cadang mahal.
Namun, hambatan utama sertifikasi bukanlah pada performa pembakaran mesin, melainkan pada sistem pendukung pesawat yang lebih luas. Komponen seperti segel karet, pipa, dan O-ring di seluruh sistem bahan bakar bergantung pada senyawa aromatik dalam bahan bakar fosil konvensional untuk mempertahankan bentuknya.
Bahan bakar fosil mengandung 15% hingga 25% aromatik yang menyebabkan segel karet sedikit mengembang, menciptakan sambungan yang rapat dan anti-bocor. Sebaliknya, sebagian besar SAF yang diproduksi saat ini bersifat parafinik dan hampir tidak mengandung aromatik, yang dapat menyebabkan segel menyusut dan memicu kebocoran bahan bakar yang berbahaya.
Oleh karena itu, badan pengatur seperti ASTM International mewajibkan pencampuran SAF dengan bahan bakar fosil hingga batas maksimal 50%. Batas ini ditetapkan untuk memastikan konsentrasi aromatik tetap berada di angka sekitar 8%, yang dianggap sebagai batas aman untuk menjaga integritas sistem karet pada pesawat selama penerbangan jarak jauh.
Untuk memecahkan kebuntuan regulasi ini, industri penerbangan membentuk International Aerospace Environmental Group Work Group 13 (WG 13). Koalisi yang melibatkan rival seperti Boeing, Airbus, Rolls-Royce, dan GE Aerospace ini bekerja sama mengumpulkan data teknis untuk membuktikan keamanan komponen pesawat terhadap bahan bakar sintetis tanpa aromatik.
Tujuan utama WG 13 adalah mengembangkan cairan referensi standar untuk menguji ketahanan ribuan jenis segel dan material terhadap berbagai kondisi. Data ini nantinya akan menjadi dasar bagi ASTM International untuk menerbitkan spesifikasi baru yang memungkinkan penggunaan 100% SAF secara aman bagi seluruh sistem pesawat, bukan hanya mesin.
Namun, bahkan jika standar keamanan tercapai, hambatan besar lainnya tetap ada pada rantai pasokan global. Kapasitas produksi SAF saat ini masih kurang dari 1% dari total kebutuhan bahan bakar penerbangan dunia, dan biaya produksinya masih dua hingga empat kali lebih mahal dibandingkan bahan bakar jet tradisional.
Sebagai kesimpulan, meskipun mesin Trent XWB dan GEnx telah membuktikan kemampuan teknisnya, implementasi SAF murni masih menjadi tantangan jangka panjang. Industri kini harus berfokus pada pembangunan infrastruktur produksi massal yang mampu menekan biaya, sehingga teknologi yang sudah siap ini dapat bertransformasi dari sekadar uji coba menjadi realitas operasional harian.




KOMENTAR ANDA