Sebuah tragedi menimpa awak kabin maskapai Royal Jordanian dalam perjalanan menuju hotel tempat mereka menginap di New York, Amerika Serikat. Bus yang membawa kru maskapai tersebut mengalami kecelakaan fatal di Long Island Expressway, Queens, dekat kuburan, pada Selasa dini hari, 30 Juni 2026.
Royal Jordanian secara resmi mengonfirmasi bahwa bus tersebut mengangkut 15 anggota kru, termasuk dua pramugari berkebangsaan Thailand, yang baru saja menyelesaikan penerbangan jarak jauh RJ261 dari Amman. Pesawat tersebut dilaporkan mendarat di Bandara Internasional JFK tak lama setelah pukul 16.00 waktu setempat sebelum kecelakaan terjadi.
Dalam pernyataan resminya, pihak maskapai mengungkapkan rasa duka yang mendalam atas insiden tragis ini. Seorang anggota kru dinyatakan meninggal dunia, sementara anggota kru lainnya yang mengalami luka-luka saat ini dilaporkan dalam kondisi stabil dan sedang menerima perawatan medis di rumah sakit setempat.
Laporan dari media lokal, NBC, memberikan gambaran lebih luas mengenai kecelakaan tersebut. Kecelakaan diduga terjadi sekitar pukul 23.45 waktu setempat di dekat Greenpoint Avenue, di mana sebuah bus menabrak kendaraan lain sebelum akhirnya terbalik melewati pembatas jalan tengah dan menghantam sejumlah kendaraan lainnya dari arah berlawanan.
Kecelakaan beruntun yang melibatkan banyak kendaraan ini mengakibatkan dua orang tewas, termasuk pengemudi bus, serta melukai lebih dari dua lusin orang lainnya. Pihak berwenang segera mengevakuasi para korban ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan medis segera.
Hingga saat ini, Royal Jordanian belum merilis identitas anggota kru yang meninggal dunia. Maskapai menyatakan bahwa mereka terus memantau perkembangan situasi dan bekerja sama dengan otoritas terkait di New York untuk mendukung proses investigasi serta memastikan kesejahteraan anggota kru yang terluka.
Insiden ini terjadi di tengah operasional Royal Jordanian yang sedang berkembang pesat di Amerika Utara. Maskapai ini melayani penerbangan harian ke JFK menggunakan armada Boeing 787 Dreamliner, yang telah menjadi pusat penting dalam jaringan penerbangan jarak jauh mereka sejak pertama kali dibuka pada tahun 1977.
Di sisi lain, penyelidikan mengenai penyebab kecelakaan kini sedang berlangsung dan melibatkan Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) bersama Departemen Kepolisian New York (NYPD). Laporan mengenai latar belakang pengemudi bus yang memiliki catatan kriminal sempat muncul ke publik, namun pihak berwenang menegaskan bahwa penyelidikan menyeluruh masih dilakukan.
Kejadian ini kembali menyoroti isu krusial mengenai keselamatan awak pesawat di luar lingkungan penerbangan. Meskipun maskapai memiliki prosedur ketat untuk memastikan keselamatan kru selama transit atau masa istirahat, risiko yang tidak terduga di luar kendali maskapai, seperti kecelakaan lalu lintas, tetap menjadi ancaman nyata.
Tragedi ini menjadi pengingat pahit bagi industri penerbangan bahwa tanggung jawab maskapai terhadap kesejahteraan awak kabin tidak berhenti saat pesawat mendarat di gerbang kedatangan. Keselamatan kru tetap menjadi prioritas yang harus dijaga dari awal keberangkatan hingga mereka kembali ke rumah dengan selamat.




KOMENTAR ANDA