Sebuah fakta mengejutkan terungkap dari medan perang Operation Epic Fury di Timur Tengah. Pilot jet tempur F-15E Strike Eagle milik Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) dengan panggilan sandi "DUDE44" yang ditembak jatuh di wilayah udara Iran, dilaporkan merupakan salah satu pilot yang sebelumnya berhasil selamat dari insiden salah tembak (friendly fire) oleh pasukan Kuwait.
Dua peristiwa dramatis yang mengancam nyawa pilot ini terjadi hanya dalam kurun waktu satu bulan.
Kisah luar biasa ini pertama kali dilaporkan oleh media The High Side pada 2 Juni 2026, setelah mendapatkan informasi dari sejumlah pejabat aktif dan mantan pejabat Angkatan Udara AS. Tak lama kemudian, CBS News juga mengonfirmasi laporan serupa berdasarkan penuturan dari dua sumber yang mengetahui insiden tersebut. Hingga saat ini, pihak Angkatan Udara AS dan Komando Sentral AS (CENTCOM) memilih untuk tidak memberikan komentar resmi kepada media terkait identitas sang pilot.
Kasus seorang pilot tempur yang ditembak jatuh dan berhasil melakukan ejeksi secara aman sebanyak dua kali dalam satu konflik yang sama adalah peristiwa yang sangat langka dalam sejarah penerbangan militer modern. Pensiunan Letnan Jenderal Angkatan Udara AS, David Deptula, menyatakan bahwa ini adalah kebetulan yang sangat tidak biasa. Dekan Mitchell Institute for Aerospace Studies tersebut menambahkan bahwa insiden serupa terakhir kali kemungkinan terjadi di era Perang Vietnam beberapa dekade silam.
Insiden pertama yang dialami pilot tersebut terjadi pada 22 Maret 2026. Saat itu, tiga jet tempur F-15E Strike Eagle USAF secara mengejutkan ditembak jatuh di atas langit Kuwait akibat kesalahan koordinasi pertahanan udara. Beruntung, seluruh kru yang berjumlah enam orang berhasil melontarkan diri dengan selamat. Beberapa di antara mereka bahkan sempat dibantu oleh warga lokal Kuwait di darat sembari menunggu kedatangan tim penyelamat.
Belakangan terungkap bahwa jet-jet tempur yang jatuh tersebut berasal dari Sayap Tempur ke-4 di Seymour Johnson AFB, Carolina Utara, dan Sayap Tempur ke-48 yang berbasis di RAF Lakenheath, Inggris. Laporan dari Wall Street Journal menyebutkan bahwa tanggung jawab insiden ini mengarah pada pesawat F/A-18 milik Angkatan Udara Kuwait. Seorang pilot F/A-18 Kuwait dilaporkan meluncurkan tiga rudal ke arah jet AS, sesaat setelah beberapa drone milik Iran terdeteksi memasuki ruang udara Kuwait secara ilegal.
Hanya berselang sebulan, tepatnya pada dini hari tanggal 3 April 2026, pilot yang sama kembali menghadapi maut saat menerbangkan F-15E "DUDE44" di atas Iran. Pesawat tersebut dihantam oleh rudal musuh, yang memicu spekulasi tingkat tinggi.
Presiden AS Donald Trump kala itu menyebut pihak Iran "hanya beruntung" menggunakan rudal pencari panas yang ditembakkan dari bahu. Laporan intelijen berikutnya menduga senjata tersebut adalah MANPADS buatan China yang dipasok ke Iran di awal perang.
Segera setelah suar penyelamat aktif terdeteksi, operasi Pencarian dan Penyelamatan Tempur (CSAR) berskala besar langsung diluncurkan di wilayah musuh yang sarat bahaya. Pilot berhasil dievakuasi hanya dalam waktu beberapa jam berkat kesigapan gugus tugas CSAR yang mengerikan, melibatkan 21 pesawat tempur dan helikopter termasuk A-10C Thunderbolt II dan HH-60W Jolly Green II.
Operasi nekat di siang bolong ini sempat diwarnai baku tembak yang merusak sebuah helikopter penyelamat dan memaksa satu jet A-10C melakukan ejeksi di wilayah aman.
Berbeda nasib dengan sang pilot yang cepat dievakuasi, sang Perwira Sistem Senjata (Weapon Systems Officer / WSO) yang mendampinginya di F-15E harus melalui perjuangan yang jauh lebih berat. WSO tersebut mengalami luka-luka akibat adanya malafungsi pada parasutnya yang gagal mengembang sempurna saat ejeksi.
Kondisi ini memaksanya harus bertahan hidup dan melakukan taktik penghindaran (evading) dari kejaran pasukan Iran sendirian di darat selama 36 jam.
Demi menyelamatkan satu nyawa WSO tersebut, militer AS menggelar operasi penyelamatan kedua yang jauh lebih masif dan melibatkan total 155 pesawat. Presiden Trump membeberkan bahwa armada tersebut terdiri dari 4 pesawat pengebom, 64 jet tempur, 48 pesawat tanker pengisi bahan bakar, dan 13 pesawat penyelamat.
Dalam aksi dramatis tersebut, dua pesawat angkut MC-130 Commando II mendarat di medan basah dan berpasir untuk menurunkan tiga helikopter intai ringan A/MH-6 Little Bird guna menjemput sang WSO.
Meskipun misi evakuasi WSO berhasil dilakukan dengan sukses, operasi ini harus dibayar mahal di akhir misi. Kedua pesawat MC-130 yang mendarat di daratan Iran terjebak di area pasir dan tidak dapat lepas landas kembali.
Pasukan Khusus AS terpaksa memanggil pesawat C-295W dari Skuadron Operasi Khusus ke-427 yang rahasia untuk mengevakuasi kru darat, sementara pesawat MC-130 dan helikopter Little Bird yang tertinggal terpaksa dihancurkan di lokasi agar teknologi sensitifnya tidak jatuh ke tangan militer Iran.




KOMENTAR ANDA