Pada akhirnya, fenomena ini tidak harus dibaca sebagai kekalahan para peraih Adhi Makayasa, melainkan sebagai bukti kompetisi dalam tubuh TNI berlangsung jauh lebih kompleks daripada sekadar reputasi masa taruna. Namun dari sisi politik, muncul pesan yang juga tidak kalah penting: kelompok perwira yang berada di sekitar Presiden Prabowo bukan hanya memiliki akses kekuasaan, tetapi juga mulai menunjukkan kapasitas akademik dan intelektual yang kompetitif di lembaga pendidikan militer tertinggi. Dengan catatan jika penilaiannya fair.
Apakah ini pertanda lahirnya generasi elite militer baru yang akan mendominasi struktur kepemimpinan TNI dalam satu dekade mendatang? Masih terlalu dini untuk menyimpulkannya. Tetapi satu hal jelas, dalam politik dan militer, kedekatan dengan pusat kekuasaan akan selalu menarik perhatian.
Ketika "the president's men" berhasil mengungguli para peraih Adhi Makayasa, peristiwa itu tidak lagi sekadar soal nilai akademik, melainkan juga tentang pembacaan arah regenerasi kekuasaan di tubuh militer Indonesia.




KOMENTAR ANDA